Usil

Ada kolom pojok di Harian Kompas, sederhana hanya terdiri dari beberapa kalimat saja. Kadang tak dicari, tapi juga kadang sayang jika dilewatkan. Usai membacanya sering senyum-senyum sendiri. Senyum kecut atau malah tertawa lebar tergantung kadar bagaimana mencermati sebuah keusilan. Itulah dia, kolom Mang Usil, kolom yang konon hadir sejak pertama harian tersebut terbit di pertengahan 1965. Continue reading →

Meme

Saya harus berterima kasih kepada kawan Hendri Prakosa. Sore tadi (15/5) di antara riuhnya pembahasan di grup whatsapp, sebuah meme terasa menyegarkan.

Hahaha, segera saja meme itu menyebar ke lima grup whatsapp dan satu group telegram yang lain. Gakpapalah, seperti kata Abu Nawas, cara terbaik jika jadi bahan tertawaan, ya ikut tertawa terbahak. Apalagi, hahaha. Continue reading →

Car Free Day dan Media Sosial

Apa yang menyamakan antara Car Free Day (CFD) dan medial sosial?

Yang satu di jalanan, yang satu di dunia maya. Keduanya menautkan publik untuk saling berinteraksi. Awalnya, CFD adalah sebuah ide untuk mengistirahatkan sebuah kota dari polusi kendaraan bermotor, barang dua-tiga jam, asal bisa mendapatkan udara segar sebagai balasannya. Sedangkan media sosial awalnya digunakan untuk saling menemukan teman, kawan, sahabat dan saudara yang terpisah hingga akhirnya menjadi media saling berbagi kabar. Senang ataupun susah dibagi bersama-sama. Rekatnya persahabatan dan persaudaraan didapatkan sebagai balasan mereka yang bermedia sosial.

Tapi begitulah. Ide awal bisa bergeser dari niatannya. Continue reading →

Pencuri yang Budiman

Di sebuah sentra batik saya menemukan tulisan di atas. Cukup menarik. Himbauan yang tersirat bisa saja disampaikan secara ‘to the point‘, bisa juga disampaikan dengan cara menakut-nakuti, seperti himbauan yang saya pernah temui di tempat-tempat lain. Tetapi¬† yang ini beda. Narasinya menggunakan eufemisme berbalut majas ironi. Continue reading →

In memoriam: Deddy Sutomo

Kabar duka datang dari akun twitter @poeticpicture¬†–akun yang saya ikuti karena dari nama akunnya saja sungguh memikat: foto puitis, yang belakangan kemudian hasil karyanya sering menemani saya sebagai bahan bacaan wajib baca pas naik Citilink, lha ternyata beliausi pemilik akun adalah Editor in Chief-nya LINKERS, inflight magazine-nya Citilink–, bahwa pamannya meninggal dunia pagi tadi (18/4). Sang paman yang meninggal saya belum pernah ketemu, tapi sosok sang paman lekat bersama kenangan saya atas film serial yang dulu tahun 1984-1985 pernah saya tungguin di layar TVRI. Rumah Masa Depan, nama film serinya (istilah sinetron, seingat saya belum dikenal di masa itu). Ya, Deddy Sutomo, nama sang paman. Continue reading →

Teruslah Kritis, Mahasiswa Indonesia!

Linimasa yang saya ikuti tetiba ramai dengan kartu kuning, padahal tak ada kejadian kartu kuning di pertandingan sepakbola sesungguhnya belakangan ini yang pantas diperbincangkan sedemikian hebohnya. Usut punya usut, rupanya, kemarin (2/2) ada kejadian Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Indonesia memberikan kartu kuning kepada Presiden Republik Indonesia. Hal biasa saja tetapi kemudian ramai sedemikian rupa dengan segala bumbu apa saja dari segala penjuru.

Apa yang aneh dengan mahasiswa mendemo Presiden Indonesia?

Di salah satu grup whatsapp kemudian saya ikutan nimbrung begini: Continue reading →