#1048

Aku ingin melipat senja, seperti Sapardi melipat jarak untuk memproklamasikan bahwa Jakarta itu adalah cinta yang tak hapus oleh hujan pun tak lekang oleh panas, sekaligus menandaskan bahwa Jakarta itu kasih sayang.

Nyatanya, Jakarta itu senyap. Meski begitu, Sapardi benar: Jakarta dengan diammu adalah ruang lapang seluas angan-anganku. Bagaimana tidak? Dimana-mana kutemukan bayangmu.

In memoriam: Saminah

“Wis ayu ora? Mbok aku difoto …”

Saya dan bulik terkekeh mendengar permintaan itu di suatu pagi bulan September setahun yang lalu di ndalem dekat Kali Code, Yogyakarta. Serta merta dengan senang hati saya langsung berswafoto menanggapi permintaan Simbah. Dan jadilah itu foto terakhir saya dengan beliau. Waktu foto itu beliau berusia 96 tahun.

Menonton Bridge

“Ini bagaimana sih, menontonnya?” Suara putus asa terdengar dari seorang Bapak. Suara itu bercampur dengan suara-suara yang sibuk mengomentari distribusi papan bridge yang terpampang di layar.

“Maksudnya bagaimana pak?” terdengar suara Anhar Haitani, kawan pemain bridge dari Yogya, di baris belakang saya.

“Saya tadi (22/8) datang ke sini (Jakarta International Expo Kemayoran) mau menonton wushu. Tapi kata petugas tiket sudah habis dan diarahkan untuk menonton bridge saja. Saya masuk ke sini, eh, di layar cuma angka-angka saja.”

Klopp & Balboa

We are still Rocky Balboa and not Ivan Drago. We are the ones who have to do more and fight more – that must be our attitude. ~ Jurgen Klopp

Awal musim ini akan bergulir dengan kutipan cantik dari Sang Manager Liverpool FC, The Normal One, Jurgen Norbert Klopp. Musim ini adalah musim keempatnya, musim yang terasa berluber optimisme.

Bagaimana tidak?

#1000

takkan pernah berhenti
untuk selalu percaya
walau harus menunggu
seribu tahun lamanya
biarkanlah terjadi
wajar apa adanya
walau harus menunggu
seribu tahun lamanya

Flash back ke awal penulisan tagar angka (bisa baca di sini), rasanya postingan #1000 inilah yang sudah melekat di kepala meski bukan dalam bentuk draft sebagaimana kebiasaan menyimpan postingan untuk blog ini. Akhirnya sampai juga pada hari ini. Ketika pernyataan bahwa waktu adalah relatif telah terbuktikan. Seribu hari terasa seperti kemarin. Tetapi juga di saat yang sama seribu hari terasa begitu lama untuk dilalui dari hari ke hari. Dan, inilah hari ini. Hari keseribu.

Quote yang disiapkan untuk postingan ini adalah lirik dari lagu “Seribu Tahun Lamanya” punya grup Jikustik, yang kemudian dibawakan ulang oleh Tulus. Perhari ini (26/7), official video klip di youtube untuk lagu ini, punya Jikustik ditonton 450 ribuan, sedangkan video klip Tulus sudah melalui 19 juta viewer.

Masih Nge-blog

Hari ini, bertepatan bulan Juli hari ketigabelas jatuh pada Jumat. Sama seperti dengan sebelas tahun yang lalu. Tahun 2007, bulan Juli hari ketigabelas juga jatuh pada hari Jumat. Percaya nggak? Hehehe.

Saya ingat benar, karena pada hari itulah saya memutuskan untuk nge-blog.  Hari itu saya bulat-bulat memutuskan untuk memindahkan tulisan yang akan dituliskan di feature note di facebook dan menempatkan tulisan itu di rumahnya sendiri. Rumah maya ini. Blog.

Judul posting-an kali ini, pinjam judul postingan Mas Budi Rahardjo. 

Di postingan itu, secara to the point, Mas Budi langsung bertanya di leadnya, begini:

Masih ngeblog di tahun 2018? Di jamannya vlog gini? Iya, masih ngeblog. hi hi hi. Tersipu-sipu juga saya. Berasa menjadi manusia yang tua gitu. Seperti dinosaurus. Sudah punah. Banyak blogger angkatan saya sudah gulung tikar – eh, naik kelas.

Kisah Kepahlawanan dari Thailand

Umtiti, Les Bleus’s Latest Hero. Begitulah laman resmi FIFA menuliskan judul utama artikelnya hari ini (bisa baca di sini). Samuel Umtiti, melalui heading-nya menjadi pahlawan buat Les Bleus, julukan buat kesebelasan Prancis, karena dengan satu-satunya gol itu Prancis memastikan ke final Piala Dunia Rusia 2018 (11/7) menunggu Kroasia versus Inggris nanti malam. Hingar bingar ajang empat tahunan itu senantiasa melahirkan pahlawan dan jagoan baru. Sebagaimana dunia mengenang Pele, Maradona, Zidane.

“A true hero isn’t measured by the size of his strength, but by the strength of his heart.” ~Hercules

Sementara itu, berjarak lima ribu seratusan kilometer dari Russia, dunia layak mengenang pahlawan-pahlawan baru, yang kisahnya menginspirasi siapa saja, melintasi sekat-sekat perbedaan, menyatukan rasa kemanusiaan. Thailand. Tepatnya di Chiang Rai, di kawasan utara Thailand yang berbatasan dengan Laos dan Myanmar.

images1