Ngiras Lotek Bu Mur

Sebenarnya sih sudah sarapan spesial pagi itu. Gudeg. Tapi tawaran dari sepupu untuk mencari makan sebelum muter-muter Yogya sayang untuk dilewatkan begitu saja.

“Lotek, yuk.” Saya mengajukan rencana.

Sang sepupu masih berpikir kira-kira dimana, saya sudah punya bayangan. Lokasi gampang ditempuh dan gak terlalu menyimpang untuk rencana-rencana selanjutnya sebelum menunggu jadwal kereta kembali sore nanti (30/9). Baca selengkapnya

#700

Biasanya hanya pakai dua gelang. Yang pertama gelang kembaran satu grup ter-geje namun ngangenin, gelang buatan Kak Mientje, yang kedua gelang YNWA custom dapat dari adik bungsu saya.

Sepanjang hari ini (29/9) dapat tambahan dua gelang lagi karena nonton konser Dream Theater di Stadion Kridosono Yogyakarta. Baca selengkapnya

Plastikan

Bisa dibilang tahun ini (bagi saya) adalah tahun fakir piknik. Mari kita pakai istilah yang lebih keren saja: moratorium untuk sejumlah hal, mengencangkan ikat pinggang, apalagi ya, ah iya: penurunan daya beli. Hihihi. Bahaya memang. Kata orang-orang, fakir piknik bisa mengurangi konsentrasi, nyinyir di media sosial serta terseret bahaya laten hoaxisme. Baca selengkapnya

In memoriam: Zainal Arifin

It’s just like a blink

Nal, mestinya sempat kutunjukkan padamu, postinganku di blog ini (bisa baca di sini) yang judulnya pun paragraf awalnya mengambil dari kejadian bersamamu. Waktu itu dirimu dengan endhel-nya menuliskan namamu di sebuah daftar hadir dengan judul postingan itu. Jay. Aku ngakak waktu itu (aku lupa acaranya, mungkin acara sosialisasi Mubes II ITS, atau acara Senat Mahasiswa ITS lainnya, entahlah). Katamu penuh endhelisme:¬†“lha mosok gak oleh … biar beda”. Aku tetap tertawa sambil memaklumi, nama Zainal Arifin cukup banyak waktu itu. Baca selengkapnya

#663

Buatmu;

Selamat!
Selamat menempuh jalan menuju kesempurnaanNya
memenuhi panggilanNya
Semoga mabrur

Buatku;

tanggal sudah semua kesempurnaan
berserak seperti daun renta tak kunjung dicikrak
menunggu hari
sembari mengais receh demi receh
sembari memungut remah demi remah

[kkpp, 23.08.2017]

#640

Bahasa Inggris. Delapan huruf. Tiga kata. Bagian dari judul lagu yang cukup populer. Dikarang oleh Albert Hammond dan Carole Bayer Sager tetapi banyak versi yang dinyanyikan penyanyi-penyanyi kondang macam Celine Dion, Luther Vandross, Rod Steward, Barry Manilow, Cliff Richard, Clay Aiken serta Julio Iglesias.

Cukup menutup mata katanya. Mendatar atau menurun sama saja. Delapan huruf kosong.

[kkpp, 31.07.2017]

#622

terima kasih sudah mengirimiku senyumanmu
sebagai teman hening ketersekatan
dengan senyuman itu aku bisa merawat luka
menumbuhkan airmata
(biar) pekat
(agar) lekat
(ter) sekat
(tetapi) dekat

hatiku hangat

[kkpp, 13.07.2017]

Mimpi

Apa jadinya jika tengah malam pikiran penuh dengan tulisan di angan, kata bersahutan, alinea bertautan, ide-ide berkelindan dalam gelap sementara mata harus segera dipejamkan karena besok pagi harus terjaga seharian menyapa jalanan pantai utara Jawa? Baca selengkapnya

Mencicip Trans Jawa

Layaknya tiap lebaran, perjalanan pulang ke keluarga besar adalah hal yang masih dan perlu diagendakan bagi sebagian besar rakyat negeri ini. Siapa saja kemudian mendapat berkah acara tahunan yang tiap tahunnya bergeser maju penyelenggaraannya karena mengikuti penanggalan hijriah karena bagaimanapun lebaran identik dengan Idul Fitri.

Fenomena gegap gempitanya perjalanan pulang ke keluarga besar pas momen Idul Fitri itu kita mengenalnya sebagai mudik. Baca selengkapnya