Teruslah Kritis, Mahasiswa Indonesia!

Linimasa yang saya ikuti tetiba ramai dengan kartu kuning, padahal tak ada kejadian kartu kuning di pertandingan sepakbola sesungguhnya belakangan ini yang pantas diperbincangkan sedemikian hebohnya. Usut punya usut, rupanya, kemarin (2/2) ada kejadian Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Indonesia memberikan kartu kuning kepada Presiden Republik Indonesia. Hal biasa saja tetapi kemudian ramai sedemikian rupa dengan segala bumbu apa saja dari segala penjuru.

Apa yang aneh dengan mahasiswa mendemo Presiden Indonesia?

Di salah satu grup whatsapp kemudian saya ikutan nimbrung begini: Continue reading “Teruslah Kritis, Mahasiswa Indonesia!”

Sengkuni

Sedih bener. Barusan chatting dengan seorang kawan, yang kepadanya saya belajar tentang kejujuran dan kemauan belajar yang besar. Ia berkisah bahwa sedang mencari pekerjaan baru karena menjadi korban sengkuni di kantornya.

Sedih bener. Malam ini nama salah satu sosok di kisah Mahabharata muncul di ruang whatsapp saya dengan sang kawan. Sengkuni. Ya, sang kawan menyebut nama sengkuni di curcolnya. Sengkuni. Ia boleh mati di hari ketujuh belas Perang Mahabharata, dicerai-beraikan oleh Bima. Tapi pewujudannya masih saja ada. Continue reading “Sengkuni”

#777

Langit Jakarta cerah pagi ini. Kemarin-kemarin dominan kelabu.

Apa beda langit biru dan langit kelabu jika kehidupan adalah ritme ketukan semacam standard operating procedures yang mesti ditaati layaknya ritual penuh mekanisme. Mungkin karenanya senandung tak harus merdu dan doa adalah hiburan terakhir saat tanya tak perlu jawaban.

Ada benarnya seorang kawan. Dalam sebuah postingan di blog-nya, ia menulis begini:

Continue reading “#777”

Twitter pun Berubah

Melalui blog resminya (bisa baca di sini), minggu pertama November ini, Twitter mengumumkan penambahan karakter di postingannya yang semula hanya 140 karakter menjadi dua kali lipatnya. 280 karakter. Semula, perubahan ini telah diujicobakan Twitter sejak beberapa bulan yang lalu. Saya termasuk yang beruntung menikmati perubahan itu di awal masa coba.

Apa yang berubah? Mungkin lebih enak sih, ketika nge-tweet ternyata melebihi 140 karakter, tidak perlu mikir lagi mengedit pilihan kata atau bagaimana menyingkat kata-kata agar bisa muat dalam sekali postingan. Pun, jika harus mention sana sini. Tetapi saya termasuk yang suka dengan versi lama karena dengan keterbatasan 140 karakter itulah mengapa kemudian saya lebih banyak aktif ngoceh di twitter daripada di facebook. Saya pernah menuliskan tentang kelebihan twitter ini hampir tujuh tahun yang lalu (bisa baca di sini). Sebuah kelebihan karena keterbatasan. Continue reading “Twitter pun Berubah”