Bukan, ini bukan catatan kolom bahasa Indonesia tentang beda ‘ditepikan’ dan ‘di tepian’ sebagaimana pembahasan tentang beda antara di-disambung dengan di-dipisah yang kita sering menemukan kesalahkaprahan penggunaannya. Sama sekali bukan.
Ditepikan. Sengaja diminta menepi. Tak lagi menjadi ‘center of gravity’. Seperti yang dialami Mohamed Salah. Bintang Liverpool FC yang justru memposting nge-gym sendirian di club, sementara tim berangkat tandang ke Italia. Liverpool yang meninggalkan sang bintang itu pada akhirnya menang di jelang penghujung laga, rupanya masih senada musim ini: menang kebetulan tapi kalau kalah meyakinkan.
Sedih benar melihat sang bintang ditepikan. Bermusim-musim telah memberikan performance, profesionalitas dan juga penampilan sepenuh hati tapi berakhir dengan tidak khusnul khotimah.
Kalau Mo Salah saja yang menghasilkan piala elit dan segambreng rekor-rekor bisa ditepikan begitu oleh pengelola club, apalagi kita yang orang biasa. Akan tiba sebuah masa, ketika performance kita tak lagi kinclong, usia menua, dan datang generasi baru yang lebih segar dan menjanjikan, akankah kita yang karyawan biasa akan diperlakukan perusahaan sebagaimana memperlakukan mesin ketik tua olympia yang ditepikan di museum perusahaan atau malah ditepikan sebagai kiloan onggokan besi tua?
Note: tulisan ini pernah diposting di akun instagram @tattock_ untuk Gerimis 30 Hari Desember 2025 pada hari ke-10.

Tinggalkan komentar