Indonesia tak kurang orang baik. Saya salah satu yang percaya itu. Dulu zaman masih musim Blackberry, hp saya pernah terjatuh di salah satu bandara di Nusa Tenggara.
Saya baru menyadari hp saya tak ada sewaktu ada seorang bapak berlarian dari arah parkiran mobil sambil berteriak-teriak, “Bapak … bapak … tunggu dulu!”
Saya baru ngeh ketika sekitaran saya pada ikutan memanggil. Saya menoleh dan berhenti menunggu Si Bapak. “Ini tadi saya lihat hp punya Bapak terjatuh pas Bapak turun dari mobil. Bapak tak sadar waktu itu dan jalan saja ke arah sini.”
Bapak separuh baya itu masih terlihat tersengal-sengal. Mendengar penjelasannya, saya reflek mengecek saku tas tempat saya menaruh hp. Tutupnya terbuka dan hp saya tak ada.
“Bapak buru-buru sepertinya,” kata Si Bapak mengulurkan hp saya.
Saya menerima hp itu dan membenarkan bahwa itu menang hp saya. Sesaat kehilangan kata sebelum kepikiran mencari dompet, siapa tahu masih ada tunai pengganti ucapan terima kasih.
Tapi Si Bapak lebih sakti membaca kebatinan saya. “Sudah! Bapak langsung check in saja, nanti keburu ditinggal pesawat bakal lebih runyam perkara.”
Seperti Si Bapak penemu hp saya yang terjatuh di bandara itu, masih banyak orang baik di luaran sana yang bersedia menolong sesama yang membutuhkan pertolongan. Biar tersengal-sengal nafas berlarian, pertolongan harus disegerakan. Terlalu banyak orang baik untuk disebutkan satu persatu. Misalkan saja para selebritis dan juga jutaan para fanbase-nya yang bersegera mengumpulkan bantuan buat bencana, demikian halnya yang dilakukan berbagai komunitas, para pelajar dan para orangtua pelajar, jamaah keagamaan serta individu dan ribuan kelompok baik yang tak mungkin disebut satu demi satu.
Indonesia kaya raya dengan orang baik. Saya salah satu yang percaya hal itu. Tapi saya juga percaya bahwa orang baik saja tak cukup untuk menghadirkan republik yang baik.
[kkpp, 01.01.2026]
Note: tulisan ini diposting di akun instagram @tattock_ untuk Gerimis 30 Hari Bulan Desember 2025 hari ke-8.

Tinggalkan komentar