Lolongan Itu …

Malam kian larut. Di kantor hanya menyisakan ruangan saya yang masih diterangi lampu neon setelah beberapa kolega terdengar saling berpamitan. Tidak gelap-gelap amat ding, selasar dan gang masih benderang kok. Saya memang punya kebiasaan buruk. Kebiasaan bekerja di media cetak sebagai pengalaman kerja profesional pertama, terbawa dan mengurat hingga malam ini: pulang malam. One last man standing, kata teman-teman dulu. Sendiri? Gak juga. Kan ada pak penjaga keamanan. Tapi memang sih, dulu di kantor lama, bapak-bapak itu sering menanyakan karena hafal, “Pulang jam berapa, Pak? Kalau saya tertidur, dibangunkan saja Pak …”

Suatu hari mereka menanyakan, “Pak, kalau pulang malam begitu ada yang aneh-aneh gak Pak?” Continue reading →

Car Free Day dan Media Sosial

Apa yang menyamakan antara Car Free Day (CFD) dan medial sosial?

Yang satu di jalanan, yang satu di dunia maya. Keduanya menautkan publik untuk saling berinteraksi. Awalnya, CFD adalah sebuah ide untuk mengistirahatkan sebuah kota dari polusi kendaraan bermotor, barang dua-tiga jam, asal bisa mendapatkan udara segar sebagai balasannya. Sedangkan media sosial awalnya digunakan untuk saling menemukan teman, kawan, sahabat dan saudara yang terpisah hingga akhirnya menjadi media saling berbagi kabar. Senang ataupun susah dibagi bersama-sama. Rekatnya persahabatan dan persaudaraan didapatkan sebagai balasan mereka yang bermedia sosial.

Tapi begitulah. Ide awal bisa bergeser dari niatannya. Continue reading →

Pencuri yang Budiman

Di sebuah sentra batik saya menemukan tulisan di atas. Cukup menarik. Himbauan yang tersirat bisa saja disampaikan secara ‘to the point‘, bisa juga disampaikan dengan cara menakut-nakuti, seperti himbauan yang saya pernah temui di tempat-tempat lain. Tetapi  yang ini beda. Narasinya menggunakan eufemisme berbalut majas ironi. Continue reading →

In memoriam: Deddy Sutomo

Kabar duka datang dari akun twitter @poeticpicture –akun yang saya ikuti karena dari nama akunnya saja sungguh memikat: foto puitis, yang belakangan kemudian hasil karyanya sering menemani saya sebagai bahan bacaan wajib baca pas naik Citilink, lha ternyata beliausi pemilik akun adalah Editor in Chief-nya LINKERS, inflight magazine-nya Citilink–, bahwa pamannya meninggal dunia pagi tadi (18/4). Sang paman yang meninggal saya belum pernah ketemu, tapi sosok sang paman lekat bersama kenangan saya atas film serial yang dulu tahun 1984-1985 pernah saya tungguin di layar TVRI. Rumah Masa Depan, nama film serinya (istilah sinetron, seingat saya belum dikenal di masa itu). Ya, Deddy Sutomo, nama sang paman. Continue reading →

Anti Klimaks Indonesian Idol 2018

Idol is Back. Begitu tema yang diusung Indonesia Idol 2018. Maklum, ajang ini sempat menghilang beberapa tahun. Jika ajek diselenggarakan tiap tahun, mestinya di tahun ini adalah musim ke-14, tetapi nyatanya Indonesian Idol tahun ini baru masuk musim ke-9. Rupanya beberapa tahun sempat hilang.

Saya sendiri terakhir mengikuti ajang ini pas musim ke-3. Setelahnya, saya hanya sekedar tahu saja. Secara format, saya sih lebih suka formatnya The Voice. Khususnya pas sesi blind audition.

idol2018Tetapi ada yang berbeda di musim ini. Juri-jurinya muka baru sebagai juri Indonesian Idol. Juri baru tetapi track record-nya telah teruji di dunia musik Indonesia. Continue reading →