Lengkap: Pickup Lima Sekawan

Setelah sekian lama, akhirnya bikin postingan untuk koleksi Hotwheels di blog ini. padahal rencananya sudah sejak kapan hari, tapi ya gitu deh, namanya juga blog berkala. Kala-kala ngepost, kala-kala tak ada postingan.

Seri sederhana, hanya ada 5 anggotanya. Yang bikin semangat melengkapi seri ini karena sudah koleksi masing-masing tipe sebelum seri ini muncul.

Lanjutkan membaca “Lengkap: Pickup Lima Sekawan”

Tebakan Penutup Musim 2020-2021

“Burnley is our semi-final, Palace is the final.”

Jurgen Klopp

Sudah tiga musim ini saya punya kebiasaan berbagi keseruan menunggu hasil Liverpool FC bersama teman-teman di linimasa twitter. Kebiasaan ini hanyalah sebagai bentuk ikhtiar kecil untuk mendukung klub kesayangan. Sederhana saja, jika Liverpool menang maka ada 1 kaos yang akan dihadiahkan kepada salah satu dari mereka yang ikut keseruan tersebut. Kaos tersebut di-support oleh dulur BIGREDS Surabaya dan juga dulur se-almamater: Fajar Ramadhan pemilik akun twitter @fajarrusalem sebagai desainer sekaligus sebagai produsennya.

Lanjutkan membaca “Tebakan Penutup Musim 2020-2021”

Sholat Id di Musim Pandemi

Pandemi ini, yang diawali sejak tahun kemarin dan entah kapan benar-benar berlalu, telah mengubah banyak hal kebiasaan-kebiasaan kita. Salah satunya, kapan lagi kita yang awam ini naik pangkat jadi imam sholat Id kalau bukan di musim pandemi. Saya mengalaminya sebagaimana bapak-bapak muslim yang lain di Idul Fitri 1441 H setahun yang lalu dengan menjadi imam sholat Id di rumah masing-masing. Pengalaman itu nyaris terulang di tahun ini, hingga di suatu Jumat di bulan Ramadan, ada pengumuman bahwasanya Masjid Al-Akbar Surabaya tempat saya biasa jumatan di musim pandemi, bakal menyelenggarakan sholat Id di tahun 1442 H ini dengan membatasi hanya 15% dari kapasitas dengan mekanisme pendaftaran online.

Lanjutkan membaca “Sholat Id di Musim Pandemi”

Putus dan Patah

Baru akhir November kemarin senar raket saya putus. Gampang sih, tinggal nyenarin lagi di toko olahraga langganan. Tapi nasib, jika raket yang baru ganti senar itu kemudian malah patah hanya beberapa kali pakai. Senarnya sih masih awet, frame raketnya yang patah. Seperti kata pepatah yang dijadikan judul lagu oleh Banda Neira, grup duo Ananda Badudu dan Rara Sekar, katanya: yang patah tumbuh hilang berganti, raket itu gak perlu ditangisi. Sudah waktunya ganti setelah sekian lama digantung dan baru dimainkan lagi justru pas musim pandemi.

Lanjutkan membaca “Putus dan Patah”

2020

Dua puluh dua puluh bukanlah tahun yang mudah untuk dilalui. Hari ini hari terakhirnya. Di luar sana hujan lebat, air menggenang dimana-mana, menambah kesunyian karena surat edaran Pejabat Bupati menetapkan hari ini berlaku jam malam, sebagaimana dua malam sebelumnya. Jangankan pedagang terompet, toko kelontong nasional serba ada saja sudah tutup sejak maghrib. Begitu halnya, warung kopi dan warung makan. Jam malam menutup malam pergantian tahun.

Lanjutkan membaca “2020”

Nopember

Yang baku adalah November. Bukan Nopember. Tetapi karena sudah terlanjur melekat menjadi nama, jadilah Nopember adalah kesalahan yang menjadi benar untuk penulisan nama Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang biasa disingkat menjadi ITS. Salah satu kampus yang ajeg menghuni peringkat atas kampus di Indonesia bersama kampus negeri yang lebih dahulu lahir, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Bandung.

Lanjutkan membaca “Nopember”

Nama

“Kalian itu ya, hobbynya ngiloin barang. Ini ya, kita bisa sampai ke bandara tepat waktu ya karena jasanya si Gatot”. Mamet menyergah keheranan Karmen.

“Hah? Gatot?” Ganti Cinta yang keheranan.

“Iya. Mobil ini namanya Gatot. Jangan tanya kenapa. Bokap gue yang kasih nama,” jawab Mamet.

“Iya, kok Gatot ya, Met?” Milly yang masih duduk di trotoar bertanya penuh takjub ke Mamet yang berdiri di antara dirinya dan Gatot.

Mamet menyahut putus asa, “Anaknya aja dikasih nama Slamet … .”

Percakapan di atas adalah penutup scene pembuka Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga), film besutan Ernest Prakasa (2018). Dari scene itulah penonton diajak meniti jembatan bahwa film tersebut merupakan sekuel dari kisah cinta legendaris Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Tokohnya masih sama. Pemainnya masih sama. Mobilnya yang dipakai pun juga sama. Komplit sama dengan plat nomer yang masih sama. Yang berbeda penulis skenario dan sutradaranya.

Saya bukan mau bahas filmnya sih ya, yang dulu pas ditonton di bioskop ataupun pas kemarin ditonton ulang di platform penyedia film sama-sama bikin ngakak. Lha gimana, Ernest banget. Beda banget dengan AADC (2002) dan AADC2 (2016).

Nah, yang saya mau bahas, kok bisa sih Ernest memasukkan nama Gatot jadi nama mobil Volvo yang mengantarkan Cinta and gank ke Bandara Soekarno Hatta buat nguber Rangga yang mau berangkat ke New York. Selain Bapaknya Mamet, ada gak sih yang suka ngasih nama pada kendaraan kesayangannya?

Lanjutkan membaca “Nama”