Memaafkan Diri Sendiri

Di edisi Syawal 1440 ini, sebagaimana tradisi muslim Indonesia bahwa bulan Syawal identik dengan maaf-memaafkan, ada satu hal yang saya baru menyadari satu elemen penting tentang memaafkan yang sering terlupakan: sudahkah kita memaafkan diri sendiri?

Tiba-tiba saya diingatkan tentang hal memaafkan diri sendiri itu oleh postingan akun resmi Kementerian Pekerjaan Umum yang postingannya menyeruak di linimasa twitter saya. Postingan yang per hari ini (13/6) di-retweet lebih dari 7.000 kali, dan di-like lebih 11.000 kali, mungkin diniatkan sebagai becandaan karena postingan itu memuat foto Pak Menteri Basuki Hadimuljono yang sedang bersalaman dengan foto replika Pak Menteri itu sendiri, kemudian disisipkan kutipan:

Sudahkah Sahabat bermaafan dengan diri sendiri di momen lebaran ini?

Lucu sih emang fotonya. Mirip-mirip dengan foto Presiden Jokowi membonceng dirinya sendiri yang viral setahun yang lalu.

Presiden Joko Widodo di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Foto kolase oleh TribunStyle (bisa baca di sini)

Namun terlepas dari kelucuan itu, kutipan yang menyertainya membuat saya tertegun. Memaafkan diri sendiri. Sederhana dan mendasar. Tapi elemen sedasar itu tapi kita sering melupakannya. Bagi saya, elemen itu mendasar karena berbeda dengan memaafkan orang lain yang tergantung dengan bagaimana kita melihat kesalahan orang lain, memaafkan diri sendiri sepenuhnya tergantung bagaimana kita melihat kesalahan diri kita sendiri.

Seperti pepatah, kuman di seberang mata tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak, menjadikan kita jarang yang menyadari kesalahan kita sendiri. Seberapa besar kesalahan yang pernah kita perbuat itu? Kesalahan-kesalahan kecil dapat dengan mudah kita lupakan dan maafkan, tapi bagaimana dengan kesalahan besar yang pernah kita perbuat? Kesalahan yang membuat arah kehidupan tak seperti yang diharapkan?

Sudahkah kita memaafkan diri kita sendiri yang berbuat salah yang menyebabkan jalan kehidupan berbeda cerita?

Ada banyak kemungkinan jawaban atas pertanyaan di atas.

Bukan. Bukan bermaksud mengorek. Tak perlu diceritakan. Biarlah kesalahan kita itu menjadi kisah rahasia antara kita masing-masing dan Sang Maha Tahu dan jika kita sudah menemukan dan memaafkannya, bersyukurlah, sepertinya beban kehidupan kita akan terasa lebih ringan (semoga!).

Tetapi jika belum, sama seperti saya, mari kita sama-sama belajar memaafkan diri sendiri. Berat mungkin, tapi mungkin waktu akan menjadi pengajar yang baik.

Bagaimana jika sebaliknya, malah kita tak pernah menemukan kesalahan diri kita sendiri sehingga tak perlu memaafkan diri kita sendiri? Kalau begitu, saya malah khawatir bahwa pepatah kuman dan gajah tadi benar adanya, jangan-jangan kita termasuk yang tak pandai menemukan kesalahan diri kita sendiri karena terlalu pintar mencari kesalahan orang lain?

[kkpp, 13.06.2019]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s