Indonesiana, Islam

Sholat Id di Musim Pandemi

Pandemi ini, yang diawali sejak tahun kemarin dan entah kapan benar-benar berlalu, telah mengubah banyak hal kebiasaan-kebiasaan kita. Salah satunya, kapan lagi kita yang awam ini naik pangkat jadi imam sholat Id kalau bukan di musim pandemi. Saya mengalaminya sebagaimana bapak-bapak muslim yang lain di Idul Fitri 1441 H setahun yang lalu dengan menjadi imam sholat Id di rumah masing-masing. Pengalaman itu nyaris terulang di tahun ini, hingga di suatu Jumat di bulan Ramadan, ada pengumuman bahwasanya Masjid Al-Akbar Surabaya tempat saya biasa jumatan di musim pandemi, bakal menyelenggarakan sholat Id di tahun 1442 H ini dengan membatasi hanya 15% dari kapasitas dengan mekanisme pendaftaran online.

Baca lebih lanjut
Standar
Indonesiana, Social Media

Memaafkan Diri Sendiri

Di edisi Syawal 1440 ini, sebagaimana tradisi muslim Indonesia bahwa bulan Syawal identik dengan maaf-memaafkan, ada satu hal yang saya baru menyadari satu elemen penting tentang memaafkan yang sering terlupakan: sudahkah kita memaafkan diri sendiri?

Baca lebih lanjut
Standar
Indonesiana, Islam, Kisah Kehidupan, Travelling

Mencicip Trans Jawa

Layaknya tiap lebaran, perjalanan pulang ke keluarga besar adalah hal yang masih dan perlu diagendakan bagi sebagian besar rakyat negeri ini. Siapa saja kemudian mendapat berkah acara tahunan yang tiap tahunnya bergeser maju penyelenggaraannya karena mengikuti penanggalan hijriah karena bagaimanapun lebaran identik dengan Idul Fitri.

Fenomena gegap gempitanya perjalanan pulang ke keluarga besar pas momen Idul Fitri itu kita mengenalnya sebagai mudik. Baca lebih lanjut

Standar
Indonesiana, Islam, Marketing, photography

Kartu Lebaran

Jaman kecil saya dulu, saya masih teringat dengan ritual penuh sesaknya Kantor Pos Besar Malang yang terletak di dekat alun-alun, jelang hari raya Idul Fitri seperti saat ini. Mulai dari┬ábersesak-sesak memilih kartu lebaran, antri beli prangko, dan membubuhkan tulisan yang senantiasa saya kenang: “Sungkem saking Malang”. Ya, sepucuk kartu lebaran buat Mbah Kakung dan Mbah Putri di Yogyakarta, bilamana pada tahun itu kami tidak berkesempatan sowan ke sana.

Sepenuh hati saat itu saya percaya, Mbah Kakung bakal berbinar menerima sepucuk kartu lebaran dari kami, cucu-cucunya yang ‘mecethat‘ terpisah jarak, dan dengan bangganya memamerkannya ke Mbah Putri.

Baca lebih lanjut

Standar