Jaman kecil saya dulu, saya masih teringat dengan ritual penuh sesaknya Kantor Pos Besar Malang yang terletak di dekat alun-alun, jelang hari raya Idul Fitri seperti saat ini. Mulai dari bersesak-sesak memilih kartu lebaran, antri beli prangko, dan membubuhkan tulisan yang senantiasa saya kenang: “Sungkem saking Malang”. Ya, sepucuk kartu lebaran buat Mbah Kakung dan Mbah Putri di Yogyakarta, bilamana pada tahun itu kami tidak berkesempatan sowan ke sana.

Sepenuh hati saat itu saya percaya, Mbah Kakung bakal berbinar menerima sepucuk kartu lebaran dari kami, cucu-cucunya yang ‘mecethat‘ terpisah jarak, dan dengan bangganya memamerkannya ke Mbah Putri.

Ritual pengiriman kartu lebaran itu masih kami laksanakan di kantor saya dari tahun ke tahun. Hampir jelang cuti seperti ini, kami sibuk mempersiapkan pengiriman kartu lebaran yang didesain secara khusus dari kantor pusat. Bahkan, foto yang dipakai di kartu lebaran itu adalah foto yang dilombakan di internal karyawan kantor saya.

Saat kami kembali dari cuti nanti, biasanya kami juga menerima kartu lebaran. Berbinar saat menerimanya. Ada perasaan bahwa dengan mendapatkan kiriman itu kita masih mendapat tempat di ingatan customer kami.

Tapi seiring teknologi sms, bbm, facebook maupun email, jumlah kartu lebaran yang kami terima makin sedikit dari tahun ke tahun.

Meski demikian, menurut Atjep Djuanda, Humas dan Protokoler Pos Indonesia Divisi Regional IV, seperti dikutip Bisnis Indonesia edisi online (baca di sini), kartu lebaran masih mendapat porsi sebagai ritual lebaran. Setidaknya ada empat alasan. Pertama, dari segi etika pengiriman kartu ucapan hari raya ternyata diakui lebih memiliki kesopanan. Kedua, nilai estetika atau keindahan dari sebuah Kartu Lebaran menjadi salah satu kelebihan ketika penerima menerima ucapan tersebut. Ketiga, ada kesan dari pengirim dan penerima yang berasal dari kata—kata dalam kartu tersebut. Keempat, yang ini sih mungkin juga sebagai salah satu strategi Pos Indonesia, adalah  inovasi yang memungkinkan pengirim bisa menggunakan prangko dengan prangko identitas diri (prangko Prisma/Prangko Identitas Milik Anda).

***

Untuk pertama kalinya, ritual yang biasanya saya lakukan jelang cuti lebaran, untuk tahun ini tidak lagi kami lakukan. Hingga hari terakhir hari kerja, tidak ada kartu lebaran yang bisa didistribusikan. Entahlah, mengapa kok bisa demikian.

Walhasil, jadilah hari ini saya mendesain sendiri. Mencari foto dari stok hunting, kemudian dibantu PhotoScape, jadilah kartu lebaran yang saya kirimkan melalui email.

Desain sendiri secara mendadak

Foto yang saya gunakan adalah foto seorang petani yang menuntun sepedanya menyeberang jembatan bambu saat hendak panen. Kejadian ini saya peroleh di Kecamatan Gending, Probolinggo.

***

Bagaimana dengan Anda? Masih ber-kartu-lebaran-ria?

Apapun, saya harus mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1433 H. Semoga Allah SWT menerima segala amalan kita selama bulan Ramadhan ini, dan semoga pula kita masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan dan Insha Allah mensyukurinya dengan menjadikan Ramadhan tahun depan lebih baik dari tahun ini.

Selamat mudik bagi yang mudik. Selamat berbahagia berkumpul bersama keluarga besar, sanak kerabat, saudara serta sahabat.

Mohon maaf lahir dan batin.

[kkpp, 17.08.2012]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s