Tutup

12 Foto Tahun 2012 Favorit Saya

Terinspirasi oleh postingan punya Bung Wira Nurmansyah a.k.a @wiranurmansyah (bisa baca di sini), saya jadi kepengin juga membuat hal yang serupa mumpung masih di minggu pertama tahun 2013.

Segera saya membongkar folder foto tahun 2012. Dari beberapa folder yang berserak, biasanya saya namai dengan format ‘tahun-bulan-jeniskamera’, saya mendapati 36 buah foto favorit saya. Favorit lho ya, bukan foto yang sempurna.

Tetapi memilih hanya 12 buah foto saja bukanlah semudah yang dibayangkan. (Saya jadi membayangkan betapa susahnya juri foto menilai siapa yang layak jadi pemenang). Baca Selengkapnya

Plengkung dan Taman Nasional Alas Purwo (3)

kkpp11Antara Rowobendo dan Pancur, dua resort di area Taman Nasional Alas Purwo dimana masing-masing terdapat pos penjagaan (baca di sini dan sini), sebenarnya hanya terpisah lima kilometer saja. Tetapi di perjalanan kami banyak mampirnya. Walhasil jarak yang tak seberapa itu kami tempuh lebih dari dua jam.

Pura Giri Saloka, adalah salah satu spot antara Rowobendo dan Pancur. Umumnya menjadi tujuan dari peziarah religius umat Hindu. Beberapa mobil ber-plat mobil ‘DK’ tampak beriringan bersama kami siang itu (20/10).

Indahnya pemandangan alam berpadu dengan keindahan sosial, manakala mobil four wheel drive penuh dengan pecalang sengaja berhenti, memisahkan diri dari rombongan hanya untuk menolong kendaraan  lainnya yang tengah kesusahan karena ban bocor. Baca Selengkapnya

Plengkung dan Taman Nasional Alas Purwo (2)

kkpp01Pancur. Jelang pukul 14 siang itu (20/10), sampai juga kami di pemberhentian terakhir menuju Plengkung. Kelegaan kami membuncah  sesampainya di sana. Bagaimana tidak, perjalanan dengan kendaraan sendiri sejak pagi tadi dari Ketapang, akhirnya berakhir. Kini kami harus berganti dengan kendaraan four-wheel drive yang ditetapkan oleh Taman Nasional untuk menuju Plengkung. Mungkin alasan yang sama, sebagaimana yang diterapkan oleh Taman Nasional Bromo yang membatasi kendaraan untuk memasuki area taman nasional. Baca Selengkapnya

Plengkung dan Taman Nasional Alas Purwo (1)

Saban pagi, biasanya saya kecipratan merdunya kicauan burung-burung berkicau. Saya memang termasuk beruntung. Merdunya kicauan itu saya nikmati secara gratis, tanpa harus keluar biaya memelihara burung-burung berkicau itu. Para tetangga yang mempunyai kegemaran memelihara burung-burung itu pun juga sungguh berbaik hati dengan tak pernah mengirimkan tagihan atas kenikmatan itu.

Tetapi ada yang berbeda dengan pagi di hari Minggu (21/10) itu. Kali ini, merdunya kicauan burung itu saya nikmati dari burung-burung liar. Bukan yang beterbangan di sekitar rumah, tetapi langsung dari tepian Taman Nasional Alas Purwo. Tepat di semenanjung Blambangan, semenanjung yang berada di sisi tenggara Pulau Jawa. Baca Selengkapnya

Kartu Lebaran

Jaman kecil saya dulu, saya masih teringat dengan ritual penuh sesaknya Kantor Pos Besar Malang yang terletak di dekat alun-alun, jelang hari raya Idul Fitri seperti saat ini. Mulai dari bersesak-sesak memilih kartu lebaran, antri beli prangko, dan membubuhkan tulisan yang senantiasa saya kenang: “Sungkem saking Malang”. Ya, sepucuk kartu lebaran buat Mbah Kakung dan Mbah Putri di Yogyakarta, bilamana pada tahun itu kami tidak berkesempatan sowan ke sana.

Sepenuh hati saat itu saya percaya, Mbah Kakung bakal berbinar menerima sepucuk kartu lebaran dari kami, cucu-cucunya yang ‘mecethat‘ terpisah jarak, dan dengan bangganya memamerkannya ke Mbah Putri.

Baca Selengkapnya

Seribu Sudut Masjid (1)

Idenya sih sudah lama pengin punya serial postingan kisah foto tentang masjid. Ya, masjid. Rumah peribadatan umat Islam sekaligus pusat peradaban Islam.

Mungkin karena di Indonesia yang mayoritas umat muslim, kurang lebih 85% dari 240 juta penduduk pada tahun 2010, kehadiran masjid memang sedemikian mudah dirasakan. Bahkan di beberapa tempat, jarak satu masjid dengan masjid yang terdekat hanya dalam radius puluhan meter saja, maka kehadiran masjid seolah biasa saja di keseharian kita. Padahal untuk membangunnya bukanlah perkara biasa, belum lagi perkara memakmurkannya.

Nah, serial ini bermaksud untuk mengabadikan sudut-sudut masjid yang ada, dengan segala pesonanya. Sekedar pengingat, bahwa pada seribu sudut masjid itu menunggu kita untuk memakmurkannya.

***

Hanya semata ide ini mengerucut berdekatan dengan liburan long weekend tahun baru imlek kemarin (23/1), maka di serial pertama ini adalah sudut sudut dari masjid ChengHo, yang kental bernuansa oriental. Bahkan jika tak cermat, banyak yang mengira jika bangunan ini adalah sebuah klenteng.

#1 Masjid Chengho, Jalan Raya Pandaan, Pasuruan

Parkiran yang cukup luas, tempat mampir yang ideal bagi pejalan Malang-Surabaya dan sebaliknya.

Berbalut merah, dengan aksen hijau dan warna keemasan, tampak berbeda dengan masjid kebanyakan

Lampion. Cantik menjelang Maghrib

Speechless.

Masjid ini terletak di jalan raya Pandaan, salah satu jalur terpadat di Jawa Timur. Menghubungkan ibukota propinsi, Surabaya, dengan kota terbesar keduanya, Malang.

Merupakan masjid berlantai dua, dengan ruang utama terletak di lantai dua, sedangkan di lantai satu adalah ruang serba guna. Sayang, meski ada himbauan untuk melakukan sholat di lantai dua, masih saja ada yang melakukan sholat di lantai satu.

Cukup menyenangkan sebagai tempat persinggahan: parkiran luas, tukang parkir yang ramah serta tempat wudlu dan toilet yang sangat memadai. Apalagi di pojok belakang ada warung kopi, murah meriah dan merakyat. Dari parkiran itu pula, keindahan gunung Penanggungan bisa terlihat.

Maka, cobalah untuk singgah, merasakan kebhinekaan sedemikan dekat, merasakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.

[kkpp, 31.01.2012]

Keping terkait:

Pesona Penanggungan

Kamera Kedua

Sebagai alat berburu obyek foto, saya masih menyukai kamera DSLR sebagai alat tembak yang berdaya guna. Bahkan, menyetujui apa yang disampaikan mas Arbain Rambey di suatu acara workshop tahun yang lalu, usai acara itu saya berkeinginan menambah satu set lagi body camera DSLR. Bukan untuk maruk atau gaya-gayaan (baca juga: Fashion dan Function), tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa pada suatu acara perburuan obyek foto ternyata obyek lebih tepat ‘ditembak’ menggunakan kombinasi set tertentu. Biasanya, jika hanya membawa satu body camera DSLR, harus dilakukan penggantian ke jenis lensa lainnya. Penggantian lensa ini tentu saja memakan waktu tetapi mengorbankan momen yang hilang tak bisa digantikan. Karenanya, jangan heran bila menjumpai fotografer pun juga jurnalis foto membawa lebih dari satu set kamera.

Tetapi sebelum niat itu terlaksana, belakangan saya malah berkeinginan mempunyai kamera saku sebagai kamera kedua. Alasannya sama: takut kehilangan momen, khususnya di acara-acara yang tidak memungkinkan membawa kamera DSLR.

Di acara workshop yang sama, mas Arbain Rambey memberikan contoh sebuah foto yang dimuat di halaman depan harian Kompas, yang diambil ‘hanya’ menggunakan kamera handphone. Diceritakan waktu itu, kondisi tidak memungkinkan membawa kamera karena masyarakat di sekitar obyek foto ‘alergi’ dengan keberadaan jurnalis foto.

Masuk akal juga, daripada mengantongi kamera saku dan juga telepon genggam, biar lebih praktis, kamera saku itu cukup sebagai sebuah feature dari telepon genggam. Cuma ada satu barang di saku, tetapi dengan dua fungsi sekaligus.

Pilihan pertama memang adalah Iphone, kemudian juga Xperia-nya Sonny Ericsson.

Bukan keduanya yang saya pakai sebagai kamera kedua. Tetapi akhirnya saya malah melabuhkan ke Blackberry 9860 Monza. Sebuah pilihan alternatif sekaligus untuk mengganti blackberry lama saya yang mulai kian terengah-engah.

Sebagai kamera kedua, inilah beberapa hasil jepretan dari Blackberry 9860 Monza.

Embun dan Blimbing Wuluh.

Durian. Kiri dan kanan adalah obyek yang sama tetapi dengan beda cara 'menembak'.

Nameplate. Salah satu kegunaan kamera kedua, untuk memfoto obyek di pabrik, lokasi terbatas dan perlu jarak dekat.

Malam. Nyoba berburu obyek di malam hari.

Dipadukan dengan salah satu software dari Blackberry Application World

Bagaimana?

Cukup berdaya-guna kan meski hanya sebagai kamera kedua…

[kkpp, 16.01.2012]

Menari di Atas Ombak

Dari banyak daya tarik yang dipunyai Ibu Pertiwi, salah satu yang disukai adalah ombaknya yang membuat wisatawan manca negara menambahkan hal tersebut di list-nya.

Pantai Kuta Bali, salah satu pantai paling terkenal di negeri ini, juga menawarkan pesona bermain dengan papan. Setidaknya bagi mereka yang masih awam dan belajaran. Berikut adalah keping-keping yang sempat saya abadikan.

Bersiap mencari ombak

[kkpp, 21.08.2011]

Padi dan Tebu: Suatu Senja

Padi (Oryza sativa) dan tebu (Saccharum officinarum) adalah komoditas penting bagi negeri ini. Padi menghasilkan beras. Tebu menghasilkan gula. Lantas, apa jadinya negeri ini bila tanpa keduanya?

Adalah fakta yang tak terbantahkan bila kini kita adalah importir keduanya. Padahal di jamannya, di kesuburan pulau Jawa-lah, keduanya tumbuh dan panen sedemikian rupa. Bahkan di jaman Belanda, pabrik gula bertebaran di pulau ini.

Dalam sebuah perjalanan kembali ke Surabaya usai rutinitas pekerjaan, saya berkesempatan mengabadikan keduanya yang bertepian. Padi yang telah menguning, tebu dewasa yang juga menunggu giliran dipanen berbalur jingga matahari yang hendak tenggelam.

Sungguh, saya tak berharap jika memang kedua jenis tanaman ini memasuki era senjanya, manakala lahan sawah berubah peruntukkannya serta tak ada lagi yang sudi menggarapnya.

[kkpp, 06.08.2011]

%d blogger menyukai ini: