Kunjungan kami kali ini ke Trowulan, ibukota kerajaan Majapahit, memang terbatas secara waktu. Eksplorasi lebih detil harus ditanggalkan karena pertimbangan para junior yang masih terlalu kecil untuk tidak cepat bosan dengan obyek yang kita kunjungi. Karenanya, meski dengan sementara waktu melupakan berkunjung ke beberapa petilasan, kunjungan akan kami akhiri ke Trowulan pada sisi utara jalan raya Surabaya-Yogyakarta.

Pada sisi utara itu, terdapat Candi Brahu yang jadi sasaran utama.

Candi Brahu

Secara umum, lokasi kompleks candi ini mirip dengan kompleks Bajang Ratu. Luas, taman terawat, serta parkir di sisi jalan desa. Toilet dan layanan informasi juga tersedia. Kebun tebu juga dominan di kawasan ini.

Candi Brahu ini diduga sebagai candi Buddha, atas kesimpulan ditemukannya beberapa perhiasan, arca logam, serta alat upacara di sekitar candi tersebut. Juga atas profil alas stupa yang ditemukan di tenggara atap candi.

Meski terbuat sama-sama dari bata merah, bentuk candi ini berbeda dengan candi-candi yang lain. Bila bentuk candi lain kebanyakan persegi, sedangkan candi Brahu ini bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Terdapat bilik di candi ini, tetapi sayang saya tak sempat mengintip apa yang terdapat di bilik itu karena tangga-nya sudah tidak ada. Konon, di sinilah tempat raja-raja Brawijya diperabukan. Tetapi tidak ada cukup bukti untuk itu.

Lihatlah biliknya! Tidakkah pengin tahu, di sana dulu dipakai untuk apa?

Soal nama, ada yang meyakini bahwa “Brahu” merujuk pada kata “warahu”, sebuah nama bangunan yang terdapat di prasasti Alasantan yang ditemukan 45 meter di sebelah barat candi ini. Jika benar seperti itu, maka candi ini bisa dikatakan lebih tua dibandingkan dengan candi-candi lain yang ditemukan di kawasan Trowulan. Karena prasasti tersebut bertanda 861 Saka atau 939 Masehi atas perintah Raja Mpu Sindok, raja Kahuripan, moyang raja-raja Majapahit.

Candi Brahu ini berukuran 18 x 22,5 meter, dengan tinggi yang tersisa saat ini adalah 20 meter. Dengan tinggi ini, bisa dikatakan bahwa Candi Brahu adalah candi tertinggi di kawasan Jawa Timur.

Tak jauh dari sana, terdapat situs Candi Gentong. Sayangnya, bentuk candi saat kami melewatinya baru berbentuk puing-puing yang menunggu rekonstruksinya.

***

Sebelum sampai di Candi Brahu, kami menyempatkan mampir di Maha Vihara Majapahit. Bangunan ini bukanlah peninggalan langsung dari Majapahit meski sama-sama terletak di kawasan Trowulan. Tetapi ada alasan khusus untuk mampir ke sana. Patung Buddha Tidur (Sleeping Buddha) terbesar di Indonesia (tercatat MURI) dan katanya ketiga di Asia setelah yang di Thailand dan Nepal. Ukuran patung ini berukuran  22 x 6 meter dengan tinggi 4,5 meter.

Warna keemasan patung yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso itu langsung mengundang mata untuk menghampirinya di kompleks peribadatan yang teduh itu.

Suasana dari balik gerbang vihara

 

Warna emasnya terasa kontras dengan keteduhan

 

Close up!

 

***

Demikianlah. Kunjungan setengah hari memang tidak cukup memuaskan mata dan segala keingintahuan yang masih terpendam. Suatu saat, Insya Allah akan kembali lagi, menggali kenangan dari Ibukota Masa Lalu: TROWULAN. (habis)

[kkpp, 09.07.2011]

Sila mampir juga ke:

Maha Vihara Majapahit

Satu pemikiran pada “Berkunjung ke Ibukota Masa Lalu (3 – habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s