Pesona Penanggungan

Pada suatu kesempatan, saya bersama tamu dari Singapura yang hendak melakukan kunjungan bisnis melintas jalur tol Porong-Waru sebelum jalur itu hilang terlindas lumpur Lapindo. Sang tamu berulang kali menggumam tentang gunung Fuji (3.776 mdpl) sambil menatap pemandangan yang terhampar di sebelah kanan.

What did you say? Fuji?” sergah saya.

“Ya, Gunung Fuji. Mirip.”

“Jauh lebih kecil, bukan?” saya tak percaya.

“Benar. Ini miniaturnya Fuji. Coba lihat bentuk dan warna birunya. Suatu saat, datanglah ke Jepang dan bandingkan,” kata sang tamu mencoba meyakinkan saya.

“Apa namanya?” tanyanya kemudian.

“Penanggungan,” saya menjawab singkat sambil membatin, dasar Singaporean, gak pernah punya gunung, bisa-bisanya takjub dengan gunung yang sering saya lewati saat pulang balik Surabaya-Malang itu. Angan saya berkelana saat obrolan jadi senyap. Pikir saya, ya, jauhlah dengan pesona Semeru (3.676 mdpl),  gunung tertinggi di pulau Jawa yang terletak di sebelah timur kota Malang, yang senantiasa saya kagumi setiap berangkat ke sekolah menengah dulu. Tetapi keseriusan sang tamu mengamati Penanggungan membuat saya ikut memperhatikan gunung itu secara seksama.

Rupanya dia benar. Gunung Penanggungan pagi itu tampak biru cerah mempesona meski terlihat mungil dibandingkan dengan dua gunung yang mengitarinya: gunung Arjuno dan gunung Welirang. Bandingkan saja, gunung Arjuno setinggi 3.339 mdpl, gunung Welirang setinggi 3.156 mdpl, sedangkan Penanggungan hanya setinggi 1.653 mdpl.

Penanggungan | dari arah jalan raya Trawas-Mojosari (2011)
Penanggungan | dari arah Porong (2010)
Penanggungan | di kala senja, dari arah Pandaan (2011)

Tetapi Penanggungan-lah, gunung terdekat bagi warga Surabaya untuk plesir. Tretes, Trawas, Prigen, adalah beberapa lokasi yang tak jauh dari gunung itu. Di gunung itu pula, banyak terdapat artefak peninggalan Majapahit. Berbeda dengan ibukota Trowulan, yang dimaksudkan peninggalan di sini kebanyakan berupa punden berundak, petirtaan, serta gua atau ceruk yang konon biasa digunakan sebagai pertapaan. Dari beberapa candrasengkala yang ditemukan, menunjukkan peninggalan-peninggalan tersebut dibangun di masa akhir Majapahit. Sementara di Negarakertagama, gunung ini disebut dengan Pawitra, salah satu gunung suci bagi Majapahit.

Saya sendiri belum sempat berkunjung situs-situs itu dari dekat. Katanya sih ada puluhan situs yang bisa dikunjungi. Tetapi setelah mengunjungi Trowulan beberapa waktu yang lalu (baca di sini), saya jadi ingin menjelajahnya dari dekat.

Sementara saya hanya bisa memandangnya dari jauh. Setiap pagi sambil membuka pintu pagar sebelum berangkat ngantor.

[kkpp, 22.07.2011]

Keping terkait

Bersepeda ke Lapindo

Sila mampir juga ke

Millenarisme di Gunung Penanggungan

Ratusan Candi di Gunung Penanggungan

 

 

Berkunjung ke Ibukota Masa Lalu (3 – habis)

Kunjungan kami kali ini ke Trowulan, ibukota kerajaan Majapahit, memang terbatas secara waktu. Eksplorasi lebih detil harus ditanggalkan karena pertimbangan para junior yang masih terlalu kecil untuk tidak cepat bosan dengan obyek yang kita kunjungi. Karenanya, meski dengan sementara waktu melupakan berkunjung ke beberapa petilasan, kunjungan akan kami akhiri ke Trowulan pada sisi utara jalan raya Surabaya-Yogyakarta.

Pada sisi utara itu, terdapat Candi Brahu yang jadi sasaran utama.

Candi Brahu

Secara umum, lokasi kompleks candi ini mirip dengan kompleks Bajang Ratu. Luas, taman terawat, serta parkir di sisi jalan desa. Toilet dan layanan informasi juga tersedia. Kebun tebu juga dominan di kawasan ini.

Candi Brahu ini diduga sebagai candi Buddha, atas kesimpulan ditemukannya beberapa perhiasan, arca logam, serta alat upacara di sekitar candi tersebut. Juga atas profil alas stupa yang ditemukan di tenggara atap candi.

Meski terbuat sama-sama dari bata merah, bentuk candi ini berbeda dengan candi-candi yang lain. Bila bentuk candi lain kebanyakan persegi, sedangkan candi Brahu ini bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Terdapat bilik di candi ini, tetapi sayang saya tak sempat mengintip apa yang terdapat di bilik itu karena tangga-nya sudah tidak ada. Konon, di sinilah tempat raja-raja Brawijya diperabukan. Tetapi tidak ada cukup bukti untuk itu.

Lihatlah biliknya! Tidakkah pengin tahu, di sana dulu dipakai untuk apa?

Soal nama, ada yang meyakini bahwa “Brahu” merujuk pada kata “warahu”, sebuah nama bangunan yang terdapat di prasasti Alasantan yang ditemukan 45 meter di sebelah barat candi ini. Jika benar seperti itu, maka candi ini bisa dikatakan lebih tua dibandingkan dengan candi-candi lain yang ditemukan di kawasan Trowulan. Karena prasasti tersebut bertanda 861 Saka atau 939 Masehi atas perintah Raja Mpu Sindok, raja Kahuripan, moyang raja-raja Majapahit.

Candi Brahu ini berukuran 18 x 22,5 meter, dengan tinggi yang tersisa saat ini adalah 20 meter. Dengan tinggi ini, bisa dikatakan bahwa Candi Brahu adalah candi tertinggi di kawasan Jawa Timur.

Tak jauh dari sana, terdapat situs Candi Gentong. Sayangnya, bentuk candi saat kami melewatinya baru berbentuk puing-puing yang menunggu rekonstruksinya.

***

Sebelum sampai di Candi Brahu, kami menyempatkan mampir di Maha Vihara Majapahit. Bangunan ini bukanlah peninggalan langsung dari Majapahit meski sama-sama terletak di kawasan Trowulan. Tetapi ada alasan khusus untuk mampir ke sana. Patung Buddha Tidur (Sleeping Buddha) terbesar di Indonesia (tercatat MURI) dan katanya ketiga di Asia setelah yang di Thailand dan Nepal. Ukuran patung ini berukuran  22 x 6 meter dengan tinggi 4,5 meter.

Warna keemasan patung yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso itu langsung mengundang mata untuk menghampirinya di kompleks peribadatan yang teduh itu.

Suasana dari balik gerbang vihara

 

Warna emasnya terasa kontras dengan keteduhan

 

Close up!

 

***

Demikianlah. Kunjungan setengah hari memang tidak cukup memuaskan mata dan segala keingintahuan yang masih terpendam. Suatu saat, Insya Allah akan kembali lagi, menggali kenangan dari Ibukota Masa Lalu: TROWULAN. (habis)

[kkpp, 09.07.2011]

Sila mampir juga ke:

Maha Vihara Majapahit

Berkunjung ke Ibukota Masa lalu (2)

Di tulisan terdahulu, kami mengawali perjalanan ke Trowulan terlebih dahulu ke Gapura Wringin Lawang dan Gapura Bajang Ratu. Masih di sisi selatan jalan raya Surabaya-Yogyakarta, kami melanjutkan ke Candi Tikus yang tak jauh dari Bajang Ratu.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sudah banyak mobil yang parkir di pinggir jalan. Bahkan ada rombongan yang menggunakan mobil kelinci (istilah kami untuk mobil yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memungkinkan memuat lebih banyak penumpang, dengan di sisi kiri dan kanan terbuka, di sisi luar penuh dengan gambar yang memikat anak-anak).

Candi Tikus berbentuk sebagaimana kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya, dengan ukuran 29,5 x 28,25 meter, dan menariknya terletak 3,5 meter lebih rendah dari tanah permukaan sekeliling. Karena berbentuk kolam itu, maka pada awal penemuannya pada tahun 1914, candi ini terpendam tanah di sebuah pekuburan rakyat. Awalnya hanya dikira sebagai sebuah miniatur candi, tetapi setelah dilakukan pemugaran secara menyeluruh pada tahun 1983-1985, jadilah sebagaimana foto di atas, sebagaimana yang bisa kita saksikan saat ini.

Di sisi utara, terdapat tangga turun selebar 3,5 meter. Juga terdapat selasar yang memungkinkan untuk mengelilingi bangunan candi. Anak-anak pasti menyukai situs ini karena ada selasar dan tangga-tangga, serta ikan-ikan, tapi tetap awas karena jika lengah bisa kecemplung kolam yang dalamnya 1,5 meter.

Bayangan menara yang menyerupai Mahameru

Ada yang menduga bahwa kolam ini berkenaan dengan sistem penampungan air yang digunakan penduduk ibukota Majapahit, tetapi mengingat adanya bentuk “meru” pada menara yang mirip dengan konsep Mahameru di India sehingga dugaan lainnya lebih kuat yaitu sebagai petirtaan yang terkait dengan pemujaan. Atas dugaan ini, maka bangunan ini layak mendapatkan sebutan sebagai sebuah candi yang sebenarnya.

Soal nama “tikus”, semata merujuk pada saat penemuan situs ini dimana masyarakat setempat banyak menemukan tikus. Mirip-mirip penamaan Gapura Wringin Lawang, yang dinamakan “wringin” karena pada saat itu ditemukan pohon beringin di sekitarnya.

Jika sampai di sini, sempatkan sejenak untuk mengisi buku tamu, membaca keterangan singkat tentang candi yang tertera pada kantor depan, dan … berpose!! Hehehe.

Berpose 1 - Pakai handphone pun jadi ...
Berpose 2 - Selasar merah bata
Berpose 3 - Biar panas, tak mati gaya ...

Oia, menurut informasi, di sekitar Candi Tikus ini akan dibangun sebuah tempat peribadatan Hindu, tetapi belum dapat terealisasikan karena sesuatu hal.

Hari kian panas, maka kami melanjutkan ke Museum Trowulan.

***

Museum Trowulan, atau yang sejak 2008 dikenal sebagai Pusat Informasi Majapahit, juga terletak di sisi selatan jalan raya Surabaya-Yogyakarta. Setelah berpanas-panas, berturut-turut dari Wringin Lawang, Bajang Ratu, dan Candi Tikus, di sini bisa sedikit ngadem. Tentunya sambil menikmati koleksi-koleksi yang telah diketemukan sejak jaman penjajahan (sambil mikir, berapa ya yang sudah dikirim ke Leiden sana).

Parkiran cukup luas. Seperti siang itu, ada beberapa bus pariwisata serta beberapa kendaraan roda empat yang telah parkir mendahului kami. Juga tersedia masjid bagi yang hendak melakukan kewajiban.

Hanya bisa foto di luar museum

Sayangnya keasyikan ngintip viewfinder harus terhenti di pintu masuk museum. Ada larangan untuk mengambil foto di area museum. Meski ada beberapa pengunjung yang nekat, saya yang tak sibuk dengan kamera malah banyak melamun, membayangkan suasana Majapahit dari artefak, benda-benda peninggalan, serta keterangan-keterangan yang diberikan oleh pihak pengelola museum (saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala -BP3- Jawa Timur).

Di museum juga memuat banner-banner berisi keterangan tentang candi-candi yang terkait dengan Majapahit. Tiga lokasi terdahulu juga ada disebutkan. Tak salah, beberapa rombongan memilih untuk datang lebih dahulu ke museum, baru kemudian menjelajah beberapa situs terkait. Sementara kami, memilih berdasarkan urutan kemudahan akses geografis.

Jangan khawatir, jika belum sempat membaca-baca literatur tentang Majapahit, di museum sudah memberikan keterangan yang diperlukan. Termasuk silsilah raja-raja Majapahit.

Puas mengitari museum, kami melanjutkan perjalanan dengan tidak mampir ke beberapa situs di Trowulan. Misalnya, Kolam Segaran,  Makam Troloyo, Makam Putri Campa, Candi Kedaton. Bisa di kemudian hari. Kali ini, karena telah siang, kami bermaksud menuju dua objek selanjutnya, yang berada di sisi utara jalan raya Surabaya-Yogyakarta. (bersambung)

[kkpp, 07.07.2011]

Sila mampir juga ke:

Situs Arkeologi Indonesia Terjadul

Memory of Majapahit

Berkunjung ke Ibukota Masa Lalu (1)

Saat ini Trowulan bisa jadi hanyalah sebuah kecamatan dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi berabad-abad yang lalu, kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan besar di masanya. Majapahit, Hayam Wuruk, dan Gadjah Mada, adalah nama-nama yang terkorelasi dengan nama Trowulan dan melegenda hingga sekarang.

Di kecamatan ini terdapat beberapa petilasan yang sering dikunjungi. Meski terletak tak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Surabaya-Yogyakarta, menurut catatan di pemerintah kabupaten setempat, pada tahun 2009 situs Trowulan ini kalah jumlah pengunjungnya dari pengunjung daerah wisata kawasan Pacet-Trawas dan sekitarnya. Itu pun didominasi oleh anak-anak (mungkin pelajar), hampir sebesar 87.5% atau mendekati 50 ribu pengunjung dalam tahun itu. Angka kasar untuk pengunjung wisata di kabupaten Mojokerto, dari 4 pengunjung, 1 orang mengunjungi Trowulan.

Bila diingat, saya sendiri pun meski berkali-kali melewati ruas jalan Surabaya-Yogyakarta itu, hanya sekali pernah ke Trowulan. Itupun jaman masih pelajar SMP dulu. Karenanya, tak ada salahnya kali ini saya mengiyakan ajakan seorang kawan untuk hunting menghabiskan shutter-count ke sana, sekaligus mulai mengenalkan sejarah bangsa ke para junior.

***

Kami berusaha berangkat pagi-pagi. Menurut informasi, di Trowulan terdapat banyak tempat yang bisa dikunjungi dan tempatnya terpisah-pisah. Bila harus bertemu dengan terik, kami khawatir, para junior nanti jadi tidak menikmati perjalanan sejarah ini. Jadilah kami berangkat beriringan dengan kawan yang sudah menunggu dengan keluarganya di resto cepat saji di daerah Waru, Sidoarjo. Bila jalan lancar, paling hanya membutuhkan satu jam perjalanan dari bundaran Waru.

Tujuan pertama kali adalah Gapura Wringin Lawang, karena letaknya paling dekat dari arah Surabaya. Di sebelah kiri jalan pula, jadi tak harus pakai putar balik segala.

Saat kami sampai di parkiran, hanya ada satu mobil yang telah parkir. Bertiga dengan kami.

Gapura Wringin Lawang ini sendiri telah dipugar, terdiri dari dua bangunan kembar saling berkebalikan. Pada awalnya, hanya satu yang masih utuh, sedang yang satunya sudah dalam keadaan rusak. Menurut pak Seger, petugas penjaga candi sejak 1995 itu, biasanya di Gapura Wringin Lawang ini masih sering dilakukan ritual desa yang kali ini jatuh pada hari Minggu depan (10/7). Ah, sayang banget melewatkan momen tradisi desa setempat. Katanya, paginya ada acara arak-arakan tumpeng, malamnya ada pagelaran wayang kulit.

Gapura Wringin Lawang

Oia, Gapura Wringin Lawang juga dikenal sebagai Gapura Jatipasar, sebagaimana ditulis Raffles tahun 1815, merujuk pada nama desa lokasi gapura ini. Terbuat dari batu merah, berbentuk candi bentar, yaitu gapura tanpa atap yang fungsinya sebagai jalan masuk menuju kompleks bangunan tertentu di masa Majapahit itu. Setinggi 15,5 meter, dengan pondasi berukuran 11,5×13 meter. Sayangnya hingga kini kompleks bangunan apa tidak diketahui dengan pasti. Yang pasti, kompleks Gapura Wringin Lawang ini cukup luas. Bersebelahan dengan penduduk, juga dengan kebun tebu. Bersih, terawat, dan jangan khawatir, tersedia toilet…

***

Dari Wringin Lawang, kami melanjutkan perjalanan dengan ditemani pak Seger. Bersama pak Seger, kami mereka-reka kemana saja nantinya. Arahan kami sih, lokasi yang letaknya berurutan, serta objek yang biasanya disukai para fotografer.

Jadilah, kami ke merencanakan ke Gapura Bajang Ratu, Candi Tikus, Museum Trowulan, serta Candi Brahu dengan mampir terlebih dahulu ke Maha Vihara Majapahit, yang terdapat patung raksasa Buddha tidur.

Nuha dan Lula, yang segera akrab menjelajah sejarah

Suasana cukup cerah, dan alhamdulillah, anak-anak tampak menikmatinya.

***

Bajang Ratu, di Malang, tempat kelahiran saya dan menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, dikenal sebagai nama jalan. Tepatnya Jalan Candi Bajang Ratu, di kawasan Blimbing, di sebuah kawasan yang nama jalan-jalannya menggunakan berbagai nama candi. Teman saya tinggal di jalan itu.

Ternyata saya baru sadar. Bajang Ratu bukanlah candi, tetapi gapura. Bedanya dengan Wringin Lawang yang terletak 3,5 km-an, gapura ini menggunakan atap serta lebih kaya pahatan.

Gapura Bajang Ratu

Beda yang lain, jika nama Wringin Lawang disematkan karena konon ditemukan pohon beringin (wringin = beringin, dalam bahasa Jawa) di sekitar gapura tersebut, sementara Bajang Ratu adalah merujuk pada sosok Jayanegara, raja kedua Majapahit, anak dari Raden Wijaya si pendiri Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardana, yang naik tahta pada saat kanak-kanak (bajang=anak-anak, ratu=raja).

Diperkirakan gapura yang didirikan seumuran dengan Candi Jago di Tumpang, Malang, serta mempunyai banyak kesamaan bentuk dan desain dengan Candi Penataran di Blitar ini, berfungsi sebagai penghormatan pada Jayanegara yang wafat pada tahun 1328. Juga ada yang menduga bahwa gapura ini adalah salah satu gapura menuju kedaton Majapahit.

Gapura Bajang Ratu, setinggi 16,1 meter
Terik di atas Bajang Ratu

Tak salah, kunjungan kami ke Trowulan (mungkin berasal dari kata Antarawulan, sebagaimana disebut di kitab Pararaton) dua-duanya dimulai dari dua gapura: Gapura Wringin Lawang dan Gapura Bajang Ratu. Setelahnya baru kami melanjutkan ke candi sebenarnya: Candi Tikus. (bersambung)

[kkpp, 04.07.2011]

Sila mampir juga ke:

– Mencari Jejak