Mencicip Trans Jawa

Layaknya tiap lebaran, perjalanan pulang ke keluarga besar adalah hal yang masih dan perlu diagendakan bagi sebagian besar rakyat negeri ini. Siapa saja kemudian mendapat berkah acara tahunan yang tiap tahunnya bergeser maju penyelenggaraannya karena mengikuti penanggalan hijriah karena bagaimanapun lebaran identik dengan Idul Fitri.

Fenomena gegap gempitanya perjalanan pulang ke keluarga besar pas momen Idul Fitri itu kita mengenalnya sebagai mudik. Baca selebihnya »

Catatan dari Khotib: Eksekusi Ide

Jumat demi Jumat berlalu. Tahun 2016 ini dimulai oleh hari Jumat. Jumat pertama terasa istimewa karena sepanjang khotbah, khotibnya pakai bahasa Jawa halus. Tentunya kutipan  ayat Al Quran, pembuka khotbah serta doa tetap dalam bahasa Arab. Tetapi terjemahan ayat Al Quran disampaikan dalam bahasa Jawa halus. Khotbah dalam bahasa Jawa halus ini segera memantik memori kecil saya manakala Jumatan diajak suwargi Mbah Kakung ketika saya berlibur di Yogyakarta. Serangkaian doa dan al-fatihah terlantunkan dalam diam untuk beliau.

Sementara itu Jumat kedua saya lewatkan di Masjid Agung Sidoarjo bersama Alvaro. Dan Jumat ketiga ini saya tunaikan di Masjid Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Sejak dikenalkan dengan kewajiban jumatan, rasanya saya lebih senang berpindah-pindah lokasi Jumatan. Baca selebihnya »

Tentang Valentine

Pertanyaan Nuha, putri saya yang belum genap berusia  sepuluh tahun, sore itu membuat saya terperanjat. Cepat atau lambat saya akan mendapatinya.

“Valentine itu haram ya, Yah?” tanyanya usai mendapati rak khusus bertuliskan “Happy Valentine” di sebuah toko swalayan, penuh dengan permen coklat.

Aku menjawab singkat,”Ayah sih gak merayakannya, Nu … .”Baca selebihnya »

Berlomba dalam Kebajikan

Semalam (4/8), penceramah sholat tarawih menyampaikan bahwasanya jelang akhir Ramadhan semacam tadi malam ada dua bahasan yang sering dijadikan topik: pertama soal malam Qadr dan yang kedua adalah tentang zakat.

Tentang hal yang pertama, beliau menyampaikan pertama bahwasanya tak perlu lagi mempermasalahkan kapan tepatnya malam Qadr akan jatuh: pada malam genap atau ganjil. Apalagi pada Ramadhan 1434 ini ganjil-genap menjadi tidak relevan lagi. Sebagian ada yang meyakini jika malam ini adalah genap sementara yang lain meyakini malam ini adalah malam ganjil. Baca selebihnya »

Satu Kalender

Lambat laun kita, umat muslim Indonesia, mulai terbiasa dengan memulai Ramadhan ataupun mengakhirinya dengan tidak bersama dalam satu hari. Seperti tahun ini misalnya (2013M/1434H), penamaannya sih sama-sama 1 Ramadhan, tetapi ada yang memulai 1 Ramadhan di hari Selasa (9/7) dan ada yang memulai di hari Rabu (10/7). Sebuah kejadian yang juga terjadi beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya. Berkali-kali, hingga tak terasa kita kemudian terbiasa.

Iseng-iseng kemarin saya menemukan catatan menarik yang ditulis oleh Abdul Rachman, peneliti di bidang Matahari dan Antariksa, LAPAN. Dari salah satu file yang bisa diunduh di sini, apa yang terjadi pada Ramadhan kali ini sudah bisa diprediksikan sejak dua tahun yang lalu sejak catatan itu di-posting-kan. Bahkan kejadian serupa dimungkinkan akan terjadi juga di Ramadhan tahun depan.Baca selebihnya »

Kartu Lebaran

Jaman kecil saya dulu, saya masih teringat dengan ritual penuh sesaknya Kantor Pos Besar Malang yang terletak di dekat alun-alun, jelang hari raya Idul Fitri seperti saat ini. Mulai dari bersesak-sesak memilih kartu lebaran, antri beli prangko, dan membubuhkan tulisan yang senantiasa saya kenang: “Sungkem saking Malang”. Ya, sepucuk kartu lebaran buat Mbah Kakung dan Mbah Putri di Yogyakarta, bilamana pada tahun itu kami tidak berkesempatan sowan ke sana.

Sepenuh hati saat itu saya percaya, Mbah Kakung bakal berbinar menerima sepucuk kartu lebaran dari kami, cucu-cucunya yang ‘mecethat‘ terpisah jarak, dan dengan bangganya memamerkannya ke Mbah Putri.

Baca selebihnya »

Khotbah Tak Tuntas

Jumat kali ini adalah sebagaimana hari Jumat yang lain. Selalu terselip agenda untuk membasuh ruang keimanan barang sejenak. Ada kewajiban dan ada kerinduan. Dua keping yang bagai perdebatan ayam dan telur :mana yang lebih dulu: kewajiban atau kerinduan.

Salah satu yang membuat saya merindukan Jumat adalah acara utamanya: khotbah oleh khotib saat naik mimbar. Seperti kerinduan pengembara menemukan persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan hidup yang entah berujung dimana dan kapan.

Sedih bila kemudian mendapati khotib berkhotbah dengan cara yang standar dan dengan tema yang standar pula. Seolah bagai sebuah persinggahan yang biasa-biasa saja, yang menyebabkan sang pengembara tak ingin berlama-lama untuk singgah. Bahkan lebih menyedihkan lagi bila kemudian khotib malah lebih senang ‘memarahi’ para pengembara daripada ‘memenuhi kebutuhan bekal’ bagi mereka yang perjalanannya masih tak tahu di mana ujungnya. Para pengembara yang secara sadar untuk singgah seolah mendapatkan ketusnya sang pengelola tempat persinggahan. Jadi, jangan harap ada nilai tambah bagi sang pengembara dan rencana perjalanannya.

Yang sungguh saya rindukan dari khotbah Jumat adalah khotbah yang mencerahkan dan tidak dibawakan dalam langgam menina-bobokan (nina-bobo dalam arti sebenarnya). Misalkan, topik yang belum tergali dari luasnya ayat-ayat Sang Khalik. Masak sih, ayat-ayat Sang Khalik yang sedemikian luas hanya dibahas ayat yang itu-itu mulu dari Jumat satu ke Jumat yang lain, dari masjid satu ke masjid yang lain, dari khotib yang satu ke khotib yang lain.

Atau bisa juga khotbah yang berisi pembahasan yang dekat dengan permasalahan yang masyarakat. Bahasa twitter-nya: yang sedang jadi trending topic. Khotbah yang membumi.

***

Jumat kali ini sepertinya bakal mendapati terpenuhinya kerinduan sang pengembara. Sebuah persinggahan yang mengajak untuk berlama-lama.

Khotib memilih topik yang sedang trend di masyarakat. Penyampaiannya penuh semangat dengan intonasi tak monoton. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh sidang Jumat yang beragam latar belakang. Serta logika dan sistematika penyampaian yang terjaga sedari awalnya. Well prepared-lah.

Coba tebak, kira-kira tentang apa?

Ya, tentang Ahmadiyah. Trending topic yang pantas untuk diperbincangkan dalam minggu-minggu ini. Khotib memilih sudut masuk dengan menyitir ayat yang membahasakan Muhammad Rasulullah SAW sebagai ‘nabi penutup’ dan bukan ‘nabi terakhir’ dan mengakhirinya dengan kesimpulan mengapa Ahmadiyah dianggap sesat sambil melirik arloji di tangan kiri, dan seolah terburu memutuskan untuk melanjutkan dengan do’a sebagai akhir khotbah Jumat.

Masih terngiang hingga di penghujung hari Jumat ini, tengah malam saat Sabtu hendak bergulir, tentang khotbah siang tadi. Ah, mengapa kok jadi khotbah yang tidak tuntas. Andai ditambah sedikit bahasan barang lima menit …

Misalkan, jika memang sesat apa yang sebaiknya dilakukan oleh umat yang mendengarkan khotbah Jumat ini dengan penuh antusias? Apa yang perlu dilakukan oleh umat menghadapi ekses kejadian-kejadian belakangan ini? Layakkah kesesatan itu kemudian dihakimi dengan algojo yang mematikan?

Duh!

[kkpp, 18.02.2011]

Menuju Kesalehan Sosial

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena kita kaum muslimin dan muslimat yang beriman telah berhasil menjalankan ibadah puasa sebulan penuh; dan kini sampai kepada Hari Raya Idul Fitri. Tidak ada harapan lain kecuali ibadah puasa yang telah dikerjakan itu dapat mencapai apa yang diharapkan Allah SWT dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 183; yaitu mengantarkan mereka yang berpuasa (sa’imun) menjadi orang takwa (la’alakum tattaqun).

Muttaqin, orang takwa adalah mereka yang terpelihara dirinya dari segala sesuatu yang tidak baik, bukan hanya waktu menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat individual-personal, tetapi juga dalam kehidupan sosial-komunal pascapuasa. Dengan begitu, kita dapat mengaktualisasikan ‘kesalehan individual-personal’ menjadi ‘kesalehan sosial’ – terwujud dalam berbagai aspek kehidupan.

– Azyumardi Azra, Refleksi Idul Fitri 1431 H: Idul Fitri dan Kepemimpinan, Republika, 9 September 2010, 30 Ramadhan 1431 H

Esok, saat fajar menjelang, tibalah kita di bulan baru, Syawal 1431 Hijriah, yang kali ini relatif sama penetapannya di Indonesia. Sebuah hari baru yang kemudian kita rayakan sebagai sebuah hari raya yang menyedot sedemikian besar perhatian kita, tidak saja bagi kaum yang berpuasa. Bayangkan saja, berapa perputaran ekonomi dari tambahan amunisi THR. Berapa besar harga dari pengalokasian waktu dan energi untuk sebuah liburan nasional untuk tradisi silahturahmi dan mudik, yang menjadi ciri khas negeri ini.

Demikianlah, harapan atas datangnya esok sebagai hari raya idul fitri, sedemikian menyegarkan penjuru negeri. Gempita takbir mewarnai seluruh pelosok hingga ke ranah berbagai media. Kegembiraan, keriangan, akan menghiasi sepanjang hari dan beberapa hari sesudahnya.

Semoga saja, segala keriuhrendahan kegembiraan itu membuat kita tidak melupakan bahwa datangnya hari yang fitri besok, masih menyisakan pekerjaan rumah bagi kita, kaum yang berpuasa. Sebagaimana kutipan di atas, adalah tugas kita untuk mengaktualisasikan kesalehan individu-personal menjadi kesalehan sosial komunal. Menjadi pekerjaan rumah, karena selama ini, sebagaimana diresahkan oleh Komarudin Hidayat, yang juga salah satu kolega Azyumardi Azra di UIN Syaruf Hidayatullah, Jakarta, bahwasanya kemeriahan ramadhan seringkali tak berbekas di sebelas bulan yang lain.

Di negeri dengan umat muslim yang terbesar ini, seharusnya ketaatan kita berpuasa dari sebelum subuh hingga maghrib, yang awalnya adalah salah satu bentuk kesalehan kita dengan Allah semata (tak ada yang tahu bila kita membatalkan puasa saat kita seorang diri, tetapi semata ketaatan kita pada Allah-lah yang menyebabkan kita tetap berpuasa meski hanya seorang diri), seharusnya kemudian teraktualisasikan dalam keseharian kita di sebelas bulan yang lain hingga bertemu dengan ramadhan berikutnya. Sepanjang tahun, kita sebaiknya tetap taat pada aturanNya juga aturan-aturan lain dalam bermasyarakat, tak peduli meski hanya seorang diri tak ada yang melihat.

Demikian halnya, kerendahhatian kita menjalankan puasa seharusnya juga terefleksikan sebagai kerendahhatian kita dengan tetangga, dengan kolega di kantor, bahkan dengan umat yang lain. Tak peduli itu ramadhan atau sebelas bulan yang lain.

Semoga, tanpa iming-iming penggandaan pahala sebagaimana ramadhan, kita tetap bersemangat mengabdi kepadaNya, dan kesalehan sosial-komunal adalah tugas para alumni kaum berpuasa tahun ini hingga bertemu kembali ramadhan tahun depan. Karena bagaimanapun, berbeda dengan haji yang lulusannya bergelar, menjadi muttaqin adalah hal yang senantiasa perlu diperjuangkan dari hari ke hari, bukan sesuatu yang didapat dengan serta merta.

Semoga, Allah meridloi  segala amalan kita selama ini dan masih ada kesempatan bertemu ramadhan tahun depan.

Selamat berbahagia di hari yang fitri bersama sanak, kerabat dan keluarga.

Mohon maaf lahir dan batin.

[kkpp, 09.09.2010]