tattock001
Bulan penuh, difoto dari roof top sebuah hotel-apartemen di kawasan Seturan, Yogyakarta. Agustus 2015.

Ayah, mengapa Muhammadiyah berbeda (hari) Arafah dan (hari raya) Idul Adha-nya?

Pertanyaan si sulung malam itu (29/9), bagaikan sergapan sang cicak di lagu cicak-cicak di dinding. Cepat dan tanpa disangka-sangka sebelumnya. Lha bagaimana tidak, barusan saja ngomongin mata pelajaran IPS-nya yang notabene tidak disukainya, ternyata tidak disangkanya dapat nilai bagus di ulangan harian pagi harinya padahal di ulangan harian sebelumnya sempat jeblok, lha kok malah belok nanyain pertanyaan tersebut. Mestinya sih ya gak kaget amat jika ia menanyakannya seminggu yang lalu pas kejadian.

Memang sih, biasanya saya memang mengikuti penanggalan Muhammadiyah dengan pengecualian untuk perayaan hari Arafah dan Idul Adha, biasanya pula saya mengikuti penanggalan mereka yang sedang melakukan haji.  Kebetulan kali ini, penanggalan Muhammadiyah lebih cepat sehari dari hari Arafah yang yang dijalani jamaah haji sedang wukuf di tanah suci.

Iya Nu, Muhammadiyah punya metode penghitungan kalender yang kali ini hasilnya berbeda dengan yan lain. Jawab saya tak kalah sigap dengan sang cicak.

Kok bisa?

Ya bisa saja. Umat Islam kan untuk menentukan penanggalan dengan memperhitungkan posisi bulan. Namanya kalender hijriyah. Kalender hijriyah ini menggunakan lunar. Lunar artinya bulan. Kalau Muhammadiyah, bulan baru ditentukan dengan menghitung, sementara yang lain dengan melihat bulan baru.

Nuha mencoba mencerna apa yang saya sampaikan.

Bulan kan berkeliling mengelilingi bumi, masa edar bulan mengelilingi bumi adalah 29.5306. Karenanya kadang ada yang 29 kadang ada yang 30. Jadi kalau bulan sekali mengelilingi bumi, namanya satu bulan. Karena satu tahun ada 12 bulan, maka satu tahun ada berapa hari?

Ya 12 kali 29 koma berapa tadi itu.

Iya. 12 x 29.5306 = 354.3672 hari. Karena ada angka di belakang koma, jadilah dibulatkan. Ada yang satu tahun 354 hari. Nanti tiap 3 tahunnya ada yang 355 hari.

Nah kalau dengan tanggalan yang biasa digunakan sehari-hari itu, Yah?

Itu penanggalan dengan menggunakan matahari Nu. Bedanya, kalau tadi menggunakan masa edar bulan mengelilingi bumi, penanggalan matahari menggunakan masa edar bumi mengitari matahari. Satu periode namanya satu tahun. Waktunya 365.25 hari. Lebih panjang daripada penanggalan bulan. Makanya, lebaran kita maju terus kan. Dulu barengan sama tujuhbelasan, kapan hari barengan sama liburan.

Aku tahu Yah …

Tahu apa?

Kalau satu hari itu kan sama dengan masa bumi berputar pada porosnya

Iya, bener. Masih ingat kan, globe yang Ayah belikan dulu itu kan tiruan bumi (sambil melihat globe yang diletakkan di atas rak bukunya)

Rumit ya Yah?

Apanya?

Bumi berputar pada porosnya. Bulan mengelilingi bumi. Bumi mengelilingi matahari. Perhitungannya pasti rumit sekali.

Tetapi bisa dihitung kan. Nah itu sudah ada yang bisa menghitung. Awalnya ya belajar berhitung yang sederhana dulu, kayak yang Nuha lakuin dengan matematikanya Nuha. Lama-lama kalau yang sederhana bisa, yang lebih rumit juga bisa jadi sederhana.

Begitulah. Obrolan seperti di atas adalah salah satu cara untuk melewatkan waktu berdua dengan si sulung, Aurora Nuha Sadida, yang baru genap 11 tahun di awal bulan. Dari ngobrolin soal ulangan IPS, jadi ke Muhammadiyah yang gak sama Idul Adha-nya. Jadinya malah ngobrolin tentang manusia yang ada di bumi yang memanfaatkan benda-benda angkasa seperti bulan dan matahari sebagai alat bantu penanggalan. Obrolan jadi berkembang juga tentang bumi, matahari, bulan, orbit, bintang dan tata surya. Juga jadi menyerempet pembahasan tentang gerhana: gerhana matahari dan gerhana bulan, sebagai fenomena semesta. Dan balik lagi ke penanggalan.

Nah, Nu, bedanya lagi antara penanggalan bulan dan penanggalan matahari adalah awal mulanya hari. Kalau penanggalan matahari dimulai jam 12 malam, penanggalan bulan dimulai sejak matahari terbenam.

Tiba-tiba Nuha teringat sesuatu.

Kasihan ya Yah …

Kasihan apa?

Kasihan yang ulang tahun 29 Februari. Kan nggak tiap tahun ada.

Hehe, iya. Namanya apa hayo, tahun yang ada tanggal 29 Februarinya?

Tahun kabisat

Tiap kapan?

Maksudnya?  Nuha balik bertanya.

Tiap kapan ada tahun kabisat?

Nuha mengedikkan bahu.

Masih inget masa edar bumi mengelilingi matahari tadi? Kan nggak pas tuh karena masa edarnya adalah 365.25 hari. Kalau 1 tahun 365 hari, kan sisa seperempat tuh. Biar pas 1 hari, perlu berapa?

Empat.

Nuha menjawab cepat.

Iya, makanya tahun kabisat adalah tahun kelipatan empat. Tahun kabisat terakhir adalah 2012. Tahun depan tuh, ada tanggal 29 Februarinya.

Nuha mengangguk-angguk.

Tapi Yah, mengapa kok Februari yang kebagian 28. Paling sedikit dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain? Mengapa bukan Januari saja yang 28? Atau Desember?

Saya tidak punya jawaban.

***

Apa ya kira-kira? Saya bertanya-tanya mengapa saya dulu tak pernah bertanya hal yang sama. Kalau mengenai mengapa ada 29, saya sudah tahu. Tapi mengapa ada 28, sementara yang lain 30 dan 31, saya masih belum tahu. Mestinya sih 365 hari dibagi 12 (bulan) ketemunya 30.4167. Gampangannya, dengan 7 bulan masing-masing 30 hari, 5 bulan masing-masing 31 hari mestinya sudah klop kan sejumlah 365. Tetapi mengapa Februari cuma kebagian 28?

Dalam hati saya ngakak mentertawakan diri sendiri, iya ya, mengapa gak pernah terbesit sama sekali untuk mempertanyakannya. Padahal dari tahun ke tahun melewatinya.

Walhasil, jadilah saya nyari-nyari jawabannya. Supaya kalau ditanya lagi, setidaknya saya punya jawaban. Usut punya usut, kira-kira jawabannya seperti ini:

  • penanggalan yang biasa kita pakai sekarang (Januari, Februari, dst, hingga Desember) disebut juga kalender masehi. tapi nyatanya sistem kalender ini sudah ada jauh hari sebelum kelahiran Isa Al-Masih itu sendiri
  • tepatnya kalender yang digunakan adalah kalender Romawi.
  • Romawi sendiri bukanlah satu-satunya peradaban yang sudah mengenal peradaban. Peradaban Babilonia, Sumeria, Maya juga Yunani juga sudah mengenal penanggalan. Mesir malah jaman itu sudah menghitung bahwa satu tahun adalah 365 hari.
  • Sementara awalnya dulu kalender Romawi menggunakan 304 hari. Dimulai dari Martius (31 hari), Aprilis (30 hari),  Maius (31 hari), Iunius (30 hari), Quintilis (31 hari), Sextilis (30 hari), September (30 hari), October (31 hari), November (30 hari) dan Desember (30 hari). Hari-hari setelah desember hingga maret tidak dihitung.
  • Karena cuma sepuluh bulan, jangan heran bila Desember adalah bulan kesepuluh. Konsisten dengan decimeter, decimal. Demikian halnya, Oktober adalah bulan kedelapan. Konsisten dengan ‘octa’
  • Di jaman kemudian, oleh Caesar Numa Pompilius, angka genap adalah angka tak menguntungkan. Maka dibuanglah satu hari dari masing-masing bulan yang punya 30 hari. Total ada 6 bulan. Dengan mempertimbangkan selisih satu tahun 355 hari sementara kalender sebelumnya 304, jadilah selisih hari yang belum punya bulan ada 57 hari. Nah, dibuatlah dua bulan baru menjadikan semula 10 bulan menjadi 12 bulan, dimana dua belan ini terdiri dari 57 hari, dengan perincian  ini yang 29 punya bulan Ianuarius, dan sisanya yang 28 hari punya bulan Februarius.
  • Versi di atas, adalah asal usul pertama mengapa Februari lah yang ketempatan hanya 28 hari
  • Masih ada versi yang lain. Versi yang lain mengapa Februari 28 adalah karena kuasa Caesar August. August Caeser ini adalah pelanjut Julius Caesar. Julius Caesar, salah satu tokoh besar dunia, yang dijadikan bahan tertawaan di serial komik Asterix, Asterix si pahlawan Galia itu kalau ketemuan tinggal panggil dengan njambal: Hai Jul …
  • Nah, si Julius Caesar lah yang mereformasi kalender Romawi peninggalan Caesar Numa dari 355 hari dalam setahun, menjadi 365 hari dengan tiap tahun keempatnya menjadi 366 hari. Dengan tambahan hari itu, jadilah penanggalan Julian menjadi: Ianiarius (31), Februarius (29/30), Martius (31 hari), Aprilis (30 hari),  Maius (31 hari), Iunius (30 hari), Quintilis berganti nama menjadi Iulius (31 hari), Sextilis (30 hari), September (30 hari), October (31 hari), November (30 hari) dan Desember (31 hari). Genap 365/366 hari.
  • Di era Caesar selanjutnya, August Caesar ingin mengganti nama bulan Sextilis menjadi bulan August. Tak ingin minder dengan pendahulunya, bulan August dijadikannya 31. Tanpa menambah jumlah hari dalam setahun, jadilah bulan Februari dikembalikan seperti jaman Caesar Numa, yaitu 28 hari. Jadilah susunan penanggalan menjadi:  Ianiarius (31), Februarius (28/29), Martius (31 hari), Aprilis (30 hari),  Maius (31 hari), Iunius (30 hari), Iulius (31 hari), August (31 hari), September (30 hari), October (31 hari), November (30 hari) dan Desember (31 hari). Genap 365/366 hari. Konfigurasi ini yang kemudian dipakai secara meluas hingga sekarang.
  • Meski demikian, kisah bulan Februari dipotong agar bulan Agustus sama panjang dengan bulan Juli, sebagaimana dikisahkan oleh Sacrobosco ini, masih diragukan apakah ini fakta ataukah hanya cerita belaka. Nyatanya, konfigurasi inilah, yang kemudian dikenal sebagai penanggalan Julian, yang kemudian dipakai secara meluas.
  • Dalam catatan sejarah, nyatanya pernah kejadian beberapa kali tanggal 30 Februari adalah nyata. Pertama, kejadian di tahun 1712 di Swedia. Kejadiannya akibat perubahan penggunan penanggalan Julian ke penanggalan Gregorian. Kedua, kejadian di Uni Sovyet. 30 Februari pernah terjadi di tahun 1930 dan 1931, setelah memberlakukan penanggalan revolusioner, yaitu setiap bulan diberlakukan sama rasa sama rata, masing-masing bulan mempunyai 30 hari. Jadilah kemudian ada 5/6 hari tanpa bulan sebagai hari libur. Kisah tentang 30 Februari ini bisa dibaca di sini.

Hehe, lucu juga. Soal penanggalan saja ternyata ribet juga. Bagaimanapun kita masih memerlukan penanggalan sebagai sebuah penanda waktu.

[kkpp, 02.10.2015]

Catatan: Penjelasan tentang penanggalan ini bisa baca di sini, sini, sini serta sini

Satu pemikiran pada “Celoteh Nuha: Februari Kok Kebagian 28?

  1. Dapat info soal jumlah hari bulan Februari akhirnya. Betul sekali Tok, setiap tahun kita melewatinya begitu saja. Beberapa hari yang lalu penasaran juga dan niat google tapi belum kesampaian. E eh malah ketemu infonya disini….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s