Sadiq Khan

Jika ia, Sadiq Khan, dilahirkan di sini, mungkin namanya dituliskan Sodiq – Shodik – Sodik atau Sodikin. Ya, mungkin sebagaimana nama cak Sodik, teman melekan dulu di kantin ITS. Tapi Sadiq Khan dilahirkan di London. Bisa jadi lafalnya sama, entah juga sih ya, tapi tulisannya: Sadiq. Ayahnya sorang sopir bus, pendatang dari Pakistan dan, -siapa sangka- perjalanan waktu mengantarkannya menjadi Walikota London yang dilantik hari ini (7/5).

Baca selengkapnya

Tentang Valentine

Pertanyaan Nuha, putri saya yang belum genap berusia  sepuluh tahun, sore itu membuat saya terperanjat. Cepat atau lambat saya akan mendapatinya.

“Valentine itu haram ya, Yah?” tanyanya usai mendapati rak khusus bertuliskan “Happy Valentine” di sebuah toko swalayan, penuh dengan permen coklat.

Aku menjawab singkat,”Ayah sih gak merayakannya, Nu … .” Baca selengkapnya

Benar atau Salah

Malam telah larut. Perempatan jalan itu biasanya masih membiarkan lampu lalu lintasnya berfungsi normal: merah – kuning – hijau, secara bergantian. Tentu saja dengan jeda waktu yang di-setting berbeda dengan kondisi siang hari. Maklum, perempatan jalan itu adalah perempatan yang tetap saja ramai meski telah berganti malam.

lampu-merahTapi malam ini berbeda. Lampu lalu lintas tetap beroperasi sebagaimana malam-malam biasanya. Yang membedakan kali ini lebih sepi. Hujan sejak sore tadi tak kunjung reda. Sepi sangat.

Lampu merah menyala. Nyalanya tetap menembus hujan memberikan isyarat bagi pengendara untuk berhenti di perlintasam. Baca selengkapnya

Nevendra Eringce

Untuk sekian waktu, kawan-kawan bbm saya mendapati judul di atas sebagai status di profil saya. Nevendra eringce, alias never ending race. Sebuah potongan jargon yang kemudian saya rokasuka-dekuta-kan. (Seputar rokasuka dekuta, sila mampir ke sini)

BB1162-002Jargon itu selengkapnya adalah “life is never ending race“, jargon yang sering diucapkan atasan saya dulu di meeting berkala di kantor. Beliau yang notabene adalah pembina cabang olahraga atletik, menggambarkan bahwasanya bagi seorang atlet, kehidupan tak berakhir usai menyentuh garis finish. Di kesempatan yang lain, beliau kadang menyitir jargon lain tapi sejenis: “life is a race without finish line“. Baca selengkapnya

Buru-buru Tak Perlu

time-vs-money1Benjamin Franklin, founding father-nya Amerika Serikat, pernah menulis Advice to A Young Tradesman pada tahun 1748 (bisa baca di sini). Salah satu frase-nya kemudian jadi populer menembus ratusan tahun. Pernah dengar kan frase: ‘time is money‘…

Ya, frase Benjamin Franklin itu hanya salah satu dari banyak sekali ujar-ujar, kalimat mutiara, petuah bijak, slogan, dan sebangsanya yang terkait dengan waktu. Jika Anda adalah penggemar –ehm apa ya istilah yang lebih tepat– dari Mario Teguh dan motivator-motivator lainnya, pasti mengetahuinya.

Baca selengkapnya

Kartu Lebaran

Jaman kecil saya dulu, saya masih teringat dengan ritual penuh sesaknya Kantor Pos Besar Malang yang terletak di dekat alun-alun, jelang hari raya Idul Fitri seperti saat ini. Mulai dari bersesak-sesak memilih kartu lebaran, antri beli prangko, dan membubuhkan tulisan yang senantiasa saya kenang: “Sungkem saking Malang”. Ya, sepucuk kartu lebaran buat Mbah Kakung dan Mbah Putri di Yogyakarta, bilamana pada tahun itu kami tidak berkesempatan sowan ke sana.

Sepenuh hati saat itu saya percaya, Mbah Kakung bakal berbinar menerima sepucuk kartu lebaran dari kami, cucu-cucunya yang ‘mecethat‘ terpisah jarak, dan dengan bangganya memamerkannya ke Mbah Putri.

Baca selengkapnya

Seribu Sudut Masjid (1)

Idenya sih sudah lama pengin punya serial postingan kisah foto tentang masjid. Ya, masjid. Rumah peribadatan umat Islam sekaligus pusat peradaban Islam.

Mungkin karena di Indonesia yang mayoritas umat muslim, kurang lebih 85% dari 240 juta penduduk pada tahun 2010, kehadiran masjid memang sedemikian mudah dirasakan. Bahkan di beberapa tempat, jarak satu masjid dengan masjid yang terdekat hanya dalam radius puluhan meter saja, maka kehadiran masjid seolah biasa saja di keseharian kita. Padahal untuk membangunnya bukanlah perkara biasa, belum lagi perkara memakmurkannya.

Nah, serial ini bermaksud untuk mengabadikan sudut-sudut masjid yang ada, dengan segala pesonanya. Sekedar pengingat, bahwa pada seribu sudut masjid itu menunggu kita untuk memakmurkannya.

***

Hanya semata ide ini mengerucut berdekatan dengan liburan long weekend tahun baru imlek kemarin (23/1), maka di serial pertama ini adalah sudut sudut dari masjid ChengHo, yang kental bernuansa oriental. Bahkan jika tak cermat, banyak yang mengira jika bangunan ini adalah sebuah klenteng.

#1 Masjid Chengho, Jalan Raya Pandaan, Pasuruan

Parkiran yang cukup luas, tempat mampir yang ideal bagi pejalan Malang-Surabaya dan sebaliknya.
Berbalut merah, dengan aksen hijau dan warna keemasan, tampak berbeda dengan masjid kebanyakan
Lampion. Cantik menjelang Maghrib
Speechless.

Masjid ini terletak di jalan raya Pandaan, salah satu jalur terpadat di Jawa Timur. Menghubungkan ibukota propinsi, Surabaya, dengan kota terbesar keduanya, Malang.

Merupakan masjid berlantai dua, dengan ruang utama terletak di lantai dua, sedangkan di lantai satu adalah ruang serba guna. Sayang, meski ada himbauan untuk melakukan sholat di lantai dua, masih saja ada yang melakukan sholat di lantai satu.

Cukup menyenangkan sebagai tempat persinggahan: parkiran luas, tukang parkir yang ramah serta tempat wudlu dan toilet yang sangat memadai. Apalagi di pojok belakang ada warung kopi, murah meriah dan merakyat. Dari parkiran itu pula, keindahan gunung Penanggungan bisa terlihat.

Maka, cobalah untuk singgah, merasakan kebhinekaan sedemikan dekat, merasakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.

[kkpp, 31.01.2012]

Keping terkait:

Pesona Penanggungan