Friggatriskaidekaphobia

Pernah dengar kata di atas? Mungkin baru pertama kali ya dengar kata itu. Sudah pertama kali, susah pula membacanya. Eh, Kata itu punya sinonim juga lho, paraskevidekatriaphobia. Nah, gak lebih mudah kan. Hihihi.

Kedua kata itu merujuk kepada hal yang sama, ketakutan pada hari jumat tanggal tiga belas. Seperti hari Jumat kemarin. Jumat yang pas tanggal tiga belas. Friday the thirteen kata orang-orang yang buat saya malah mengingatkan pada sebuah serial horor di televisi buatan 1987-1990 itu. Dulu saya biasa menonton serial itu di televisi punya negara tiap malam Jumat tahun 1990-1991-an. Sebagai hiburan, boleh juga. Buat yang mau nostalgia, sila mampir ke sini buat baca-baca.

Kalau bukan karena serial itu, mungkin saya juga nggak ngeh dengan Friday the thirteen ini. Biasa saja. Jumat tanggal 13 dengan jumat lainnya ya sama saja. Sebuah kebetulan yang saya sadari belakangan, pertama kali nge-blog di blog ini ya pas momen Friday the thirteen ini sembilan tahun yang lalu (bisa baca di sini). Pun kemudian, ketika si bungsu lahir delapan tahun yang lalu, kombinasi tanggal dan bulan lahir, jadi kompakan dengan si sulung dan saya yang jika dijumlahkan sama-sama tiga belas (bisa baca di sini)

***

TGIF. Thanks God It’s Friday.

Jauh sebelum ungkapan itu populer di telinga saya, Jumat adalah momen yang istimewa. Zaman sekolah dulu, hari Jumat adalah saat dimana Ibu pulang lebih pagi dari tempat mengajarnya, sehingga saat pulang Jumatan biasanya saya sudah disambut dengan makan siang yang masih segar dimasak langsung oleh Ibu. Sayur asem, sayar bening, sayur sop, atau sayur bobor. Beneran terasa segar karena terhidang fresh from the oven, eh bukan oven ding, kompor yang bener, hihihi. Berteman tempe goreng yang juga fresh dan sambel yang juga fresh. Komplet. Istimewa.

Lantas sambil makan, kemudian Bapak bertanya, isine khotbah Jumat e opo, Le … 

Bwahahaha, mendadak saya langsung kesereten

***

Jumat tanggal 13 kemarin adalah hari Jumat kedua di tahun 2017. Saya masih mempertahankan kebiasaan yang saya mulai sejak tahun 2016 kemarin. Menunaikan sholat Jumat di masjid yang berbeda. Iya, di masjid yang berbeda. Kebiasaan baru yang menyulitkan?

Tidak juga. Nyatanya sepanjang tahun 2016 itu saya sukses jumatan di masjid-masjid yang berbeda. Ide yang aneh mungkin. Ide yang berawal bahwa tahun 2016 kemarin bertepatan di awali hari Jumat dan karenanya ada 53 hari Jumat di sepanjang tahun 2016. Biasanya cuma ada 52 saja di tiap tahunnya, kan?

Ide yang awalnya sebagai sebuah keisengan membunuh kebosanan, rupanya berkembang dan terasa menarik karena kemudian saya menemui berbagai keragaman mulai dari topik khotbah Sang Khotib, bagaimana kebiasaan di satu masjid berbeda dengan masjid lainnya, tempat wudlunya, toiletnya, parkirannya. Beda pula dinginnya lantai atau empuknya karpet. Juga yang menarik adalah desain dari masjid yang juga berbeda-beda.

Ada yang khotbahnya pakai bahasa Indonesia, ada yang pakai bahasa Jawa campuran, serta ada yang pakai bahasa Jawa krama. Jumat pertama di sebuah masjid di Wonosari, Jumat terakhir di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Lainnya ada yang di Bali, dan sebagian besar di lingkungan Surabaya dan Sidoarjo. Kadang saya juga mengamati berapa besar saldo kas masing-masing masjid. Hihihi, kepo banget ya.

Pengalaman yang luar biasa memperkaya khasanah. Sayang jika tidak dilanjutkan. Tiap Jumat yang berbeda itu kemudian saya mendapatkan siraman Islam yang tercermin di berbagai masjid menyerukan kebesaran Tuhan yang sama. Laa illaha illallah.

Di tiap Jumat yang berbeda itu, saya larut dalam kebesaran Islam rahmatan lil alamin.

[kkpp, 14.01.2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s