Pertanyaan Nuha, putri saya yang belum genap berusia  sepuluh tahun, sore itu membuat saya terperanjat. Cepat atau lambat saya akan mendapatinya.

“Valentine itu haram ya, Yah?” tanyanya usai mendapati rak khusus bertuliskan “Happy Valentine” di sebuah toko swalayan, penuh dengan permen coklat.

Aku menjawab singkat,”Ayah sih gak merayakannya, Nu … .”

Kalau jawaban lengkap mungkin apa yang disampaikan Fitradjaja Purnama, melalui broadcast-nya via bbm (14/2), cukup mewakili apa yang hendak saya sampaikan. Semoga kelak, Nuha bisa menemukan tulisan ini atau mendiskusikannya perihal ini.

Fitra menulis dengan cukup singkat tapi penuh elegan:

Valentine Days mulai marak di Indonesia pada sekitar awal 80-an. Saat itu saya masih anak-anak.

Sedari mula saya tak pernah mau ikut-ikutan merayakannya karena bagi saya setiap hari adalah HARI KASIH SAYANG. Sampai remaja pun berpandangan begitu, tapi saya tak pernah punya sikap melarang terhadap mereka yang merayakannya.

Muatan nilai-nilai yang kita yakini memang harus kita terus tebar untuk penyadaran, termasuk mengenai pandangan dan sikap kita tentang Valentine Days ini.

Saya setuju untuk menyosialisasikan kebenaran sejarah yang terjadi terkait dengan munculnya perayaan ini. tapi melakukannya dengan tendensi sinis terhadap Nasrani dan Yahudi adalah persoalan tersendiri!

[kkpp, 25.02.2014]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s