Tentang Valentine

Pertanyaan Nuha, putri saya yang belum genap berusia  sepuluh tahun, sore itu membuat saya terperanjat. Cepat atau lambat saya akan mendapatinya.

“Valentine itu haram ya, Yah?” tanyanya usai mendapati rak khusus bertuliskan “Happy Valentine” di sebuah toko swalayan, penuh dengan permen coklat.

Aku menjawab singkat,”Ayah sih gak merayakannya, Nu … .” Baca selengkapnya

Blog dan Pensieve

Dumbledore: “I use the Pensieve. One simply siphons the excess thoughts from one’s mind, pours them into the basin, and examines them at one’s leisure. It becomes easier to spot patterns and links, you understand, when they are in this form.”

Harry: “You mean… that stuff’s your thoughts?”

Dumbledore: “Certainly.”

Petikan percakapan di atas tentunya diakrabi oleh para pembaca serial tujuh novel karya JK Rowling. Ya, kisah Harry Potter. Kisah yang menyihir para pembacanya untuk menamatkan seluruh kisah penuh penantian selama 10 tahun sejak serial yang pertama kali diterbitkan pertengahan tahun 1997. Hingga tahun lalu, kisah ini telah diterbitkan dalam 67 bahasa dan edisi film-nya pun juga (telah) ditunggu oleh para penggemarnya.

Baca selengkapnya

In Memoriam: Ir. Soetjipto

Tokoh, salah satu orang kuat (di/dari) Jawa Timur. Sebagai politisi dia punya sikap dan setia pada pilihan. Sebagai wirausahawan dia berilmu dan ‘utun’. –Fitradjaja Purnama

Insinyur yang berpolitik dan melawan. Mungkin itulah gambaran sosok Pak Tjip, yang tak berbeda dengan tokoh yang ia kagumi, Bung Karno. Selamat jalan Pak Tjip. –detik.com

Pak Tjip, begitu beliau lebih akrab dipanggil, adalah sosok politikus yang dikenal meletakkan dasar-dasar partai PDI Perjuangan. Di awal kelahirannya, PDI-P, memang tidak bisa dipisahkan dari sosok pria kelahiran Trenggalek, enampuluh enam tahun yang lalu itu. Pada masa itu, alumni ITS jurusan Teknik Sipil angkatan kedelapan (S8), memimpin DPD PDI Jawa Timur Pro Megawati melawan kepengurusan PDI hasil campur tangan rezim Orde Baru, Latief Pudjosakti. Karenanya, bagi mereka penentang rezim Orde Baru di Jawa Timur, pastilah mengakrabi istilah ‘posko pandegiling’, yaitu salah satu kawasan di Surabaya dimana pak Tjip berkantor sebagai wirausahawan di bidang konstruksi yang kemudian digunakan sebagai posko menggalang kekuatan rakyat melawan rezim.

Di Posko Pandegiling itulah, saya pertama kali bertemu beliau secara langsung. Waktu itu, saya dan seorang kawan, mewawancarai beliau untuk salah satu artikel yang akan kami terbitkan di media pers mahasiswa, “1/2 tiang”, di medio 1998. Wawancara antara mahasiswa dengan kakak seniornya, walau kami terpisah usia yang cukup jauh. Di sela-sela kesibukan eskalasi dunia politik Indonesia yang tengah bergejolak pada waktu itu, beliau tetap menyempatkan waktu untuk wawancara yang ternyata banyak berisi pesan agar mahasiswa seharusnya senantiasa setia pada peran agen perubahan.

***

Ir. Soetjipto, yang meninggal hari Kamis (24/11) kemarin sore di RS Darmo Surabaya dan dimakamkan di TPU Keputih Surabaya dengan sederhana keesokan harinya, adalah termasuk salah satu dari sedikit alumni ITS yang berkiprah di dunia politik. Bahkan dari yang sedikit itu, bisa dikatakan beliaulah yang terbaik. Meniti karir di PDI-P, beliau sempat menjabat sebagai Sekjen DPP PDI-P periode 2000-2005, kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI pada periode 1999-2004, dan sempat mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah Jawa Timur 2009.

Meski beliau lebih dikenal karena karir politiknya, di profesinya di dunia konstruksi beliau juga mencatatkan prestasi menemukan teknologi pondasi sarang laba-laba bersama Ir. Ryantori. Atas temuannya ini, pak Tjip mendapatkan penghargaan Upakarti.

Sungguh, sebuah keteladanan bagi kita semua. Tentang keberpihakan, tentang kesetiaan pada pilihan, tentang profesionalitas.

Selamat jalan, Pak Tjip!

[kkpp, 25.11.2011]

Sila mampir juga ke:

In Memoriam Ir Sutjipto (Pak Tjip)

KAAI: Hanya untuk Lima

Kawan, sebagai rangkaian dari berbagai rally diskusi yang telah dijalani sejak pergantian tahun, resmilah sudah Komite Aksi Alumni ITS (KAAI) merilis dukungan untuk mendukung secara penuh pasangan calon walikota – wakil walikota Surabaya 2010-2015 nomor urut 5, yaitu Fitradjaja Purnama – Naen Suryono.

Bertempat di Nen’s Corner Cafe & Resto, Jl. Indragiri no. 5 Surabaya, di hadapan puluhan wartawan media cetak dan media internet, berikut ini adalah pernyataan resmi dari KAAI:

***

” … jadi pejuang yang tak kan kenal letih, membangun negeri … ” (hymne ITS)

Keberadaan Komite Aksi Alumni ITS (KAAI), yang dilahirkan pada bulan Maret 1998, sebagai wahana bagi alumni ITS yang kritis terhadap kondisi bangsa dan negara pada waktu itu, hingga kini tetap eksis di bidang sosial, politik maupun ekonomi kerakyatan.

Bila memperbandingkan kondisi politik era kelahiran KAAI waktu itu, hingga 12 tahun kemudian, tentu saja banyak terjadi perubahan. Kebebasan berkumpul dan berpendapat lebih terjamin hingga mampu menumbuhsuburkan partai politik.

Sayangnya, keberadaan partai politik belum menjawab kepercayaan rakyat. Masih jauh panggang dari api. Nuansa jual-beli suara masih terasa di sana sini. Tidak saja di tataran elit partai, juga terasa pada saat elit partai berupaya mendapat dukungan dari rakyat. ”Persekongkolan” berdalih koalisi pun oposisi lebih banyak terjadi sebagai cara untuk menaikkan posisi tawar antara satu partai dengan yang partai lainnya dengan menafikkan apa yang sebenarnya diinginkan rakyat sebagai pemilihnya.

Begitu halnya harapan untuk melihat partai politik sebagai kawah candradimuka kepemimpinan nasional tak terjadi. Partai lebih banyak mempertimbangkan untung rugi dari sisi materiil dibandingkan mengedepankan proses pembinaan kader secara internal. Bahkan integritas seorang kader yang loyal dan baik ternyata kalah dengan fungsi kekerabatan. Tak jarang pula diberitakan, seorang kader partai tertentu berpindah ke partai lain atas hal-hal yang tidak prinsipil. Keinginan mendapatkan restu dari elit politik, yang kental nuansa orde baru, lebih mengemuka dibandingkan nuansa partai yang sehat karena mengedepankan upaya bottom up yang lebih merakyat.

Menjelang pelaksanaan pemilihan umum walikota Surabaya 2010-2015 ini, KPU telah menetapkan calon-calon kontestan yang memenuhi persyaratan dan bahkan telah melalui pemilihan nomor urut yang akan digunakan. Sebagian besar (tiga dari lima) di antara calon-calon walikota tersebut dekat dengan kami karena mereka adalah saudara kandung. Saudara kandung se-almamater ITS.

Meski demikian KAAI menyatakan dukungan penuh untuk pasangan nomor LIMA, pasangan Fitradjaja Purnama – Naen Suryono, berdasar kedekatan cita-cita historis kelahiran KAAI dengan visi dan misi yang diemban oleh pasangan nomor LIMA tersebut, yaitu pasangan calon walikota – wakil walikota yang diajukan dari jalur independen oleh Konsolidasi Arek Suroboyo.

Sebagai langkah awal, KAAI akan berinisiatif untuk membuka ”DOMPET untuk Fitradjaja-Naen”, sebagai bentuk konkret dukungan tersebut. Upaya ini sejalan dengan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, serta partisipasi aktif dari rakyat pemilik sesungguhnya kedaulatan negeri ini.

Dengan upaya ini diharapkan para alumni ITS (serta simpatisan pendukung calon independen) dapat menyalurkan dananya untuk maksud-maksud pemenangan secara bertanggungjawab. Bukan sebagaimana ke-salah-kaprah-an yang terjadi selama ini, bahwa calon eksekutif dan legislatif adalah mereka yang bisa membeli suara rakyat, serta ke-salah-kaprah-an pula anggapan bahwa siapapun yang tidak bergelimang uang tidak dapat dipilih menjadi pemimpin negeri ini. Padahal seharusnya: SUARA RAKYAT tidak dapat DIBELI!

”DOMPET untuk Fitradjaja-Naen” yang akan mulai digulirkan sejak pernyataan sikap ini, berupaya agar setiap rupiah yang akan dihimpun melalui rekening bank1 maupun penggunaannya akan dipertanggungjawabkan melalui media internet2 dan media cetak.

Semoga atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dan dukungan rakyat, kemenangan pemilihan umum walikota Surabaya 2010-2015 adalah kemenangan rakyat sesungguhnya.

Surabaya, 6 April 2010.

***

(kkpp, 07.04.2010)

Fitradjaja – Naen, Pasangan Cawali Independen Resmi Didaftarkan KPU

Siang itu, tanggal 17 Februari 2010, hari terakhir dari jadwal pendaftaran calon perseorangan yang ditetapkan KPU Surabaya, gedung KPU masih tampak berbenah. Beberapa tukang tengah bekerja mempercantik gedung yang dalam beberapa bulan mendatang bakal banyak menerima tamu.

Satu demi satu pendukung pasangan Fitradjaya Purnama dan Naen Suryono mulai berdatangan dari pelosok kota. Mereka tergabung dalam Konsolidasi Arek Suroboyo dengan berbagai latar belakang. Wajah tulus, wajah penuh harap akan pemimpin yang merakyat segera memenuhi halaman Jalan Adityawarman.

Menjelang pukul setengah tiga, para wartawan yang menunggu mulai gelisah. Sang korlap pun telah menyerukan untuk merapatkan barisan.

Bergantian para pendukung menyuarakan apa yang dirasakan dan diharapkan.

Bersama menyatukan tekat: bertanah air tanpa penindasan, berbangsa yang gandrung akan keadilan, berbahasa kebenaran.

Ya, sembilan puluh lima ribu enam ratus dukungan telah dikumpulkan. Dari 153 organisasi, dari 124 kelurahan, 31 kecamatan. Sebagai syarat minimal yang telah ditentukan. Bermodalkan semangat untuk perubahan. Biar yang lain mengatakan kami fakir politik, tapi kami kaya idealisme.

“Inilah dukungan kami, Konsolidasi Arek Suroboyo, yang telah melalui berbagai tahap sebelum mencalonkan Fitradjaja Purnama – Naen Suryono,” ujar Muhaji, sang koordinator KAS didampingi Ketua Tim Pemenangan, Gunardi, seorang kawan yang pernah merasai penjara di jaman orde baru.

KPU pun menyatakan menerima pendaftaran dan memproses lebih lanjut sesuai dengan amanat Undang-undang dan peraturan yang terkait.

Selamat berjuang, kawan Fitra. Satu tahap sudah dilewati. Masih banyak yang harus diperjuangkan.

(kkpp, 17/02/2010)

* pukul empat sore lebih, perlahan halaman gedung KPU telah menjadi sepi. dalam sebuah obrolan di warung kopi, bersama pak polisi yang masih bertugas, tiba-tiba pak polisi berkata, “endi calon’e mas? iki mau taufik yho?” katanya sambil merujuk sang korlap. saya mengiyakan sambil meneguk kopi susu. “ealah, mbiyen jaman songo wolu, yo sering eroh aku, pas melok pak oegroseno. ingatan saya lantas melayang jauh … teringat ke beberapa kawan yang dulu sering bersinggungan dengan pak oegroseno di bundaran its, dulu, 12 tahun yang berlalu.