Salah satu email yang masuk ke inbox saya kali ini (Selasa, 11/2) sungguh membuat saya memilih untuk membukanya pada kesempatan pertama. Email dari Garuda Indonesia karena saya ikut keanggotaan Garuda Frequent Flyer (GFF). Isinya tentang rencana kepindahan Garuda ke Terminal 2 Juanda per Jumat, 14 Februari 2014.

Flyer kepindahan Garuda Indonesia ke Terminal 2 (T2) Juanda
Flyer kepindahan Garuda Indonesia ke Terminal 2 (T2) Juanda

Sebenarnya bukan hal bombastis fantastis, cuma kebetulan, karena urusan pekerjaan, saya sudah mengantongi tiket pulang pergi dengan menggunakan Garuda pas dengan tanggal tersebut. Dengan rencana kepindahan tersebut, maka rencananya saya berangkat masih menggunakan terminal yang lama, tetapi pas pulangnya menggunakan terminal yang baru. Nganyari nih ceritanya …

***

Spanduk pengumuman pada H-1 di Terminal Kedatangan/Keberangkatan International
Spanduk pengumuman pada H-1 di Terminal Kedatangan/Keberangkatan International

Seseorang kawan sempat mengomentari di laman path saya: dimana tuh T2 Juanda itu? Saya mencoba mengingat-ingat. Iya ya, dimana ya. Kok tidak terlihat pembangunan gedung terminal baru. Sependek ingatan saya, yang ada renovasi cuma penambahan atap di area drop-zone. Atau, jangan-jangan menggunakan terminal Juanda lama yang di area TNI-AL.? Bisa jadi …

Tebakan saya terjawab hari H-1. Karena sesuatu hal, penerbangan keberangkatan saya harus ditunda sehari. Sehingga saya harus mengurus ke counter tiket Garuda sambil menanyakan kepastian tentang T2 Juanda tersebut. Ternyata benar, T2 Juanda adalah terminal Juanda lama yang dibangun ulang.

Urusan perubahan tiket beres dan jadilah saya bakal nganyari tenanan. Terbang menggunakan kesempatan awal di hari pembukaan Terminal 2 Juanda International Airport.

***

Bandara International Juanda yang terletak di Desa Sedati, Sidoarjo, dibangun pada tahun 1959 pada era Indonesia masih menggunakan sistem pemerintahan perdana menteri. Nama bandara ini diambil dari nama Perdana Menteri Indonesia terakhir, yaitu Ir. H. R. Djoeanda Kartawidjaja, sebagai seorang yang berjasa atas terselesaikannya pembangunan bandara ini.

Awalnya bandara ini menggunakan terminal lama di sisi selatan, langsung berhadapan dengan pangkalan TNI-AL..Namun mengingat kapasitas yang meningkat, maka sejak diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 November 2006, dibukalah terminal baru di sisi utara, terdiri dari tiga terminal: internasional, domestik, dan kargo.

Entah siapa yang salah, pembangunan terminal baru di sisi utara tersebut ternyata tidak bisa mengantisipasi lonjakan kapasitas penumpang. Hanya dalam kurun 6 tahun, bandara Juanda harus diperluas dengan membangun terminal baru di area terminal lama, yang (ternyata) ground-breaking-nya telah dilakukan per 1 Desember 2012.

***

Jumat, 14 Februari 2014, dinihari. Saya sudah terbangun untuk bersiap berangkat ke Jakarta dengan pesawat paling pagi. Ada meeting yang menanti lepas Jumatan nanti di bilangan Tebet.

Sempat kaget mendapati berita meletusnya Gunung Kelud tadi malam saat saya terlelap. Tetapi saya belum ngeh betapa dahsyatnya letusan itu, hingga saat mendapati si Rossi, avanza hitam yang menemani saya tiga tahun terakhir, sudah berselimut debu. Pun demikian, saat dalam perjalanan ke bandara. Saya harus menyalakan wiper untuk membersihkan kaca depan dari hujan debu. Tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya para pengendara motor yang tidak mengantisipasi kondisi tersebut, tanpa kacamata dan masker.

Si Rossi berselimut debu
Si Rossi berselimut debu

Sesampai di Terminal 2 Juanda, tampak kesibukan seremoni pembukaan, menepis kekhawatiran bahwa cuaca akan mengganggu penerbangan. Di sana sini masih tampak kacau. Terminal baru tapi lama itu, tampak berbeda dengan ingatan saya tentangnya tujuh tahun yang lalu.

T2 Juanda - Subuh di hari pertama
T2 Juanda – Subuh di hari pertama
Gus dan Yuk Sidoarjo menyambut di pintu untuk check in
Gus dan Yuk Sidoarjo menyambut di pintu untuk check in
Conter check in - T2 Juanda
Conter check in – T2 Juanda
Sudut waktu penjuru dunia
Sudut waktu penjuru dunia
Foto-foto bareng Gus dan Yuk Sidoarjo
Foto-foto bareng Gus dan Yuk Sidoarjo
Alhamdulillah, masih kebagian bubur ayam seremoni pembukaan ...
Alhamdulillah, masih kebagian bubur ayam seremoni pembukaan …

Selepas acara seremoni, waktu terus bergulir. Sementara dari dalam terminal sama sekali tak menyadari bahwasanya hujan debu masih menghantui. Jam keberangkatan mulai terlewati, penumpang di ruang tunggu mulai gelisah. Kabar penundaan karena cuaca masih diharapkan oleh para penumpang. Kompensasi makanan ringan atas keterlambatan juga sudah dibagikan. Tak ada satu pun yang mengira jika ternyata kemudian seluruh penerbangan di-cancel, bahkan bandara ditutup untuk waktu yang tidak ditentukan. Pengumuman resmi tersebut diumumkan tepat pukul 07.25.

Debu di atas kokpit. Langit kelabu.
Debu di atas kokpit. Langit kelabu.
Papan informasi yang seragam
Papan informasi yang seragam (06.38): delay bad weather. Tepat 07.25, pengumuman resmi mengudara: Bandara Juanda ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan.
Antrian panjang di counter tiket Garuda di T2 Juanda, untuk mengurus refund atau rescheduling. (Panah, adalah lokasi counter-nya)
Antrian panjang di counter tiket Garuda di T2 Juanda, untuk mengurus refund atau rescheduling. (Panah, adalah lokasi counter-nya)
Menentukan langkah selanjutnya
Menentukan langkah selanjutnya, mumpung masih pagi

Tidak ada yang menggerutu dari seluruh penumpang. Semua menyadari, namanya bencana bagaimana bisa menolaknya. Tinggal bagaimana kelanjutannya, mau refund, reschedule, atau malah nyari alternatif transportasi karena ada acara yang tidak bisa ditunda. 

Saya sih memilih bersegera ke salah satu kantor Garuda Indonesia di Surabaya (lha antrinya yang di Juanda sebegitu panjangnya) serta mengabari pihak-pihak yang rencananya meeting dengan saya, bahwa saya tidak bisa hadir karena kejadian penutupan terminal baru tapi lama, yang baru buka tapi langsung serta merta tutup akibat derasnya hujan debu erupsi Gunung Kelud.

Sesampainya di parkiran, mendapati debu yang semakin tebal, padahal hanya di parkir jam 3.5 jam saja
Sesampainya di parkiran, mendapati debu yang semakin tebal, padahal hanya di parkir 3.5 jam saja

[kkpp, 20.02.2014]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s