Don’t judge a book by its cover.

Metafora yang ini sudah sering kita dengar. Pesannya singkat, bahwa sebagaimana kita tidak bisa menilai (kualitas) buku dari sampulnya, kita pun sebaiknya tidak menilai seseorang dari tampilan luarnya saja tanpa mengenal lebih jauh siapa seseorang tersebut.

Ideal sih, akan tetapi bagaimana caranya agar kita bisa memberlakukan nasehat berupa metafora tersebut dengan standar yang sama tanpa standar ganda?

Sebuah contoh saja. Bisa kah kita menilai mana pengemis beneran yang butuh uluran tangan dan mana pengemis profesional yang keberadaannya dinaungi oleh tim managemen yang juga profesional?

Apakah kita harus mengenal masing-masing pengemisnya terlebih dahulu baru kemudian menilai: ooo yang ini pengemis profesional, ooo yang ini bener dia perlu sekeping dua keping agar bisa makan untuk siang nanti. Haruskah kita berinteraksi dengan semua pengemis baru kemudian bisa memberikan penilaian? Atau adakah cara yang lebih singkat?

Rasanya ada dua opsi sebelum mengulurkan tangan atau tidak: anggap semua pengemis sebagai pengemis yang butuh uluran tangan, atau sebaliknya, anggap semua sebagai pengemis profesional. Bagaimana?

Masalahnya, justifikasi antara kedua pilihan di atas, tentunya adalah sebuah judgement tersendiri. Sudah ada preferensi yang melandasi atas pilihan mana yang dibuat. Bagi mereka yang sudah menonton/membaca liputan tentang mafia pengemis profesional (bisa baca di sini dan sini) ya beranggapan bahwa pengemis yang ditemui adalah bagian dari mafia tersebut. Padahal siapa tahu jika pengemis itu sebaliknya.

Bagaimana bisa tak menilai dari tampilan luarnya?

Maka, di era bahwa kesan pertama haruslah ditonjolkan, metafora itu pun tinggallah sebagai sebuah metafora yang tak membumi lagi.

***

COv1_g2VEAAHYf6
Konsierto di Kyoto karya Mochtar Pabottingi. Buku yang saya beli kali ini tidak dari toko buku, sebagai teman perjalanan di akhir Agustus yang lalu.

Buku terakhir yang saya beli sebelum membikin tulisan ini adalah saya dapatkan dari memesan via media sosial. Nimbrung di status seorang kawan yang saya tahu bagaimana selera bacaannya. Selain itu nama penulisnya pun saya sudah familiar.

Bagaimana dengan yang ini? Apakah saya tersebut membeli buku karena berdasarkan tampilan luarnya semata? Bagaimana saya bisa memastikan bahwa buku itu benar sebuah buku yang baik?

Bayangkan jika Anda pergi ke toko buku, tanpa punya rencana untuk membeli buku apa. Anda pergi dari rak satu ke rak yang lain sambil membaca judulnya. Satu per satu. Memperhatikan desain sampulnya. Pakai hardcover atau softcover. Masih plastikan atau sudah dalam kondisi terbuka. Siapa pengarangnya. Siapa penerbitnya. Siapa endorser-nya. Bagaimana kutipan di sampul belakangnya. Bisakah mengintip pengantar dan prolog atau malah juga epilognya?

Saya pernah tertipu. Dalam kondisi yang sama, saya pergi ke toko buku tanpa punya niatan mau nyari buku apa. Cara yang paling gampang adalah pergi ke rak yang ditulisi buku laris minggu ini. Mirip top chart, dari nomer satu hingga nomer 10 buku terlarisnya terpasang dengan rapi. Membaca satu persatu judulnya dan mengamati sampulnya. Memilih satu dari sepuluh buku, karena masih dalam plastik, saya balik ke cover belakang. Ada pengantar dari endorser-nya: bla bla bla baba bla bla.

Oke. Saya pilih satu. Nyampai di rumah menyesal. Satu dua tiga bab, hingga kini buku itu tak terselesaikan.

Senyesel-nyeselnya, setidaknya saya tidak misuhi si desainer cover yang menipu karena desain sampulnya telah memukau mata saya. Saya juga tidak misuhi si endorser yang ternyata berbeda standar penilaian dengan saya.

Setidaknya saya lebih berhati-hati ke depan. Saya kapok untuk mencari buku di rak buku paling laris minggu ini. Mungkin saja itu titipan dari marketing penerbitnya agar bisa berpose di rak keramat itu. Hehehe. Namanya marketing, kesan pertama adalah segalanya.

***

Don’t judge a book by its cover.

Idealnya begitu. Tetapi nyatanya tak bisa begitu.

Jika memang begitu, maka matilah ladang penghidupan para desainer cover yang dipekerjakan penerbit buku. Karena buku akan tampil dengan cover yang serupa. hanya dibedakan judul dan ketebalannya semata. Mirip-mirip dengan buku skripsi dan tesis yang distandarkan oleh perguruan tinggi. Seragam.

Saya setuju, untuk bisa menilai buku kita harus membaca dan berinteraksi dengan kata demi kata. Memahami tiap alinan alinea serta bagaimana bab demi bab saling menautkan pikiran penulisnya. Kata beberapa teman, pembaca merdeka untuk memaknai apa yang telah tertuliskan oleh penulis. Benar sih. Akur atas hal itu. Tapi bagi saya, akan lebih dalam pemaknaannya jika dimungkinkan ada interaksi antara pembaca dengan penulis. Tak harus interaksi face to face, tetapi saat pembaca mencari tahu bagaimana suasana kebatinan saat penulisan pun adalah salah satu bentuk interaksi itu. Memahami asbabun nuzul adalah salah satu cari memahami makna dari sebuah ayat. Begitu katanya.

Tetapi sebelum berinteraksi dengan itu semua: tiap kata demi kata, tiap kalimat demi kalimat serta tiap alinea hingga titik dan komanya, jauh sebelum memutuskan untuk membaca kita telah terbangun penilaian (sementara) berdasarkan preferensi atas tampilan cover luar, judul, siapa penulisnya, siapa penerbitnya, bagaimana referensi dari pembaca lainnya. Fakta yang tak bisa ditolak bahwa preferensi sebelum bacaan telah terbentuk dan membangun ceritanya tersendiri. Bisa jadi sebagai stimulus keingintahuan, atau malah bisa jadi sebagai barrier penolakan atas ide dan gagasan.

Begitu pun di dunia nyata. Idealnya kita memang tak menilai seseorang pun kejadian dari tampilan luarnya semata. Kita sebaiknya berinteraksi dan mencari segala sesuatu tentang seseorang dan kejadian sebelum memberikan penilaian. Tetapi nyatanya, preferensi dan penilaian atas tampilan luar tentang seseorang dan kejadian itu telah memanipulasi bagaimana kita berinteraksi lebih jauh dengan seseorang atau kejadian.

Mungkin metafora itu tak lagi membumi. Tapi setidaknya metafora itu menitipkan pesan agar jangan gampang-gampang terkesan dengan tampilan luar. Kehati-hatian dan kejelian perlu lebih diutamakan di era tampilan luar begitu berjaya.

Seperti kata iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah Anda …

[kkpp, 05.10.2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s