#1048

Aku ingin melipat senja, seperti Sapardi melipat jarak untuk memproklamasikan bahwa Jakarta itu adalah cinta yang tak hapus oleh hujan pun tak lekang oleh panas, sekaligus menandaskan bahwa Jakarta itu kasih sayang.

Nyatanya, Jakarta itu senyap. Meski begitu, Sapardi benar: Jakarta dengan diammu adalah ruang lapang seluas angan-anganku. Bagaimana tidak? Dimana-mana kutemukan bayangmu. Lanjutkan membaca “#1048”

#1000

takkan pernah berhenti
untuk selalu percaya
walau harus menunggu
seribu tahun lamanya
biarkanlah terjadi
wajar apa adanya
walau harus menunggu
seribu tahun lamanya

Flash back ke awal penulisan tagar angka (bisa baca di sini), rasanya postingan #1000 inilah yang sudah melekat di kepala meski bukan dalam bentuk draft sebagaimana kebiasaan menyimpan postingan untuk blog ini. Akhirnya sampai juga pada hari ini. Ketika pernyataan bahwa waktu adalah relatif telah terbuktikan. Seribu hari terasa seperti kemarin. Tetapi juga di saat yang sama seribu hari terasa begitu lama untuk dilalui dari hari ke hari. Dan, inilah hari ini. Hari keseribu.

Quote yang disiapkan untuk postingan ini adalah lirik dari lagu “Seribu Tahun Lamanya” punya grup Jikustik, yang kemudian dibawakan ulang oleh Tulus. Perhari ini (26/7), official video klip di youtube untuk lagu ini, punya Jikustik ditonton 450 ribuan, sedangkan video klip Tulus sudah melalui 19 juta viewer. Lanjutkan membaca “#1000”