takkan pernah berhenti
untuk selalu percaya
walau harus menunggu
seribu tahun lamanya
biarkanlah terjadi
wajar apa adanya
walau harus menunggu
seribu tahun lamanya

Flash back ke awal penulisan tagar angka (bisa baca di sini), rasanya postingan #1000 inilah yang sudah melekat di kepala meski bukan dalam bentuk draft sebagaimana kebiasaan menyimpan postingan untuk blog ini. Akhirnya sampai juga pada hari ini. Ketika pernyataan bahwa waktu adalah relatif telah terbuktikan. Seribu hari terasa seperti kemarin. Tetapi juga di saat yang sama seribu hari terasa begitu lama untuk dilalui dari hari ke hari. Dan, inilah hari ini. Hari keseribu.

Quote yang disiapkan untuk postingan ini adalah lirik dari lagu “Seribu Tahun Lamanya” punya grup Jikustik, yang kemudian dibawakan ulang oleh Tulus. Perhari ini (26/7), official video klip di youtube untuk lagu ini, punya Jikustik ditonton 450 ribuan, sedangkan video klip Tulus sudah melalui 19 juta viewer.

Untuk urusan ini, ternyata saya termasuk mainstream. Saya lebih suka versi Tulus serta memasukkan versi Tulus ini ke salah satu playlist saya yang tak pernah bosan mendengarkannya. Playlist yang senantiasa menghibur sepi, menemani kebosanan, menyemai harapan, menjaga asa untuk selalu terjaga.

Seribu hari yang telah dihitung tak ada artinya dibandingkan dengan seribu tahun yang membentang. Tak ada yang berubah meski harus menunggu tanpa kepastian.

[kkpp, 26.07.2018]