Kisah Kepahlawanan dari Thailand

Umtiti, Les Bleus’s Latest Hero. Begitulah laman resmi FIFA menuliskan judul utama artikelnya hari ini (bisa baca di sini). Samuel Umtiti, melalui heading-nya menjadi pahlawan buat Les Bleus, julukan buat kesebelasan Prancis, karena dengan satu-satunya gol itu Prancis memastikan ke final Piala Dunia Rusia 2018 (11/7) menunggu Kroasia versus Inggris nanti malam. Hingar bingar ajang empat tahunan itu senantiasa melahirkan pahlawan dan jagoan baru. Sebagaimana dunia mengenang Pele, Maradona, Zidane.

“A true hero isn’t measured by the size of his strength, but by the strength of his heart.” ~Hercules

Sementara itu, berjarak lima ribu seratusan kilometer dari Russia, dunia layak mengenang pahlawan-pahlawan baru, yang kisahnya menginspirasi siapa saja, melintasi sekat-sekat perbedaan, menyatukan rasa kemanusiaan. Thailand. Tepatnya di Chiang Rai, di kawasan utara Thailand yang berbatasan dengan Laos dan Myanmar.

images1

Awalnya saya menemukan kisah itu di linimasa twitter. Berita tentang sekelompok anak yang sudah berhari-hari hilang di sebuah gua. Waktu itu tagar #ThaiCaveRescue masih belum trending. Hilang sejak 23 Juni 2018, menggunakan berbagai cara termasuk anjing pelacak, robot dan juga drone, akhirnya mereka berhasil ditemukan selamat pada tanggal 2 Juli 2018 jam sepuluh malam waktu setempat. Mereka ditemukan masih berseragam sepakbola dan dalam kondisi kelaparan. Mereka tak tahu sudah berapa hari berada di sana lantas bertanya, hari apa sekarang. Sang penyelamat dengan berbahasa Inggris menjawab,“Monday. Monday. You have been here more than a week — 10 days.” 

Tetapi upaya menyelamatkannya bukanlah hal yang mudah dilakukan. Gubernur Chiang Rai, Narongsak Osatanakorn mengumumkan,”We found them safe. But the operation isn’t over.” 

Di sebuah artikel, sempat beredar 4 opsi pilihan untuk menyelamatkannya. Pertama, air yang membanjiri gua harus dipompa keluar. Meski demikian tak bisa mengharapkan gua segera kering karena sungguh harus berpacu dengan korban yang sekian lama sudah terperangkap yang jika tidak segera dievakuasi maka dikhawatirkan makin memburuk kondisi kesehatannya. Juga cuaca musim hujan yang tidak bisa diajak kompromi. Opsi lain menunggu musim hujan berakhir juga tidak bisa dipertimbangkan. Opsi yang terlihat mungkin adalah mengebor dari sisi lain. Tetapi akhirnya yang dipilih adalah mengajari para korban untuk berenang dan menyelam. Mereka akan dibimbing keluar oleh para penyelam profesional dan penyelam dari Angkatan Laut Thailand. Tentang opsi-opsi itu, bisa dibaca di sini.

Berhari-hari korban yang terdiri seorang pelatih berusia 25 tahunan dan anak latihnya berjumlah 12 anak-anak menunggu upaya penyelamatan. Dari info di twitter itu pula tampak betapa susahnya upaya penyelamatannya dan tak terbayangkan bagaimana bisa mereka bertiga belas tersesat di lubang gua yang kebanjiran dan menutup jalan keluar.  Bertahan selama berhari-hari menunggu pertolongan juga hal lain yang sulit dibayangkan. Berbagi harapan dengan cara yang kelak akan diceritakan oleh sang pelatih, Ekapol Chantawong kepada para khalayak dunia. Ia sungguh teladan. Menanggung 12 anak latihnya, ia membagikan asa bagaimana cara bertahan tanpa lari dari tanggung jawab.

Nama lain yang perlu disebut adalah Saman Gunan. Ia salah satu pahlawan yang gugur di sana. Meninggal kehabisan oksigen pada misi penyelamatan tersebut.

…. [bersambung, kkpp, 11.07.2018]

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s