nek wong tuwek iku biasane omongane digugu karo sing enom, tapi yo ono ae sing omongane malah diguyu sing enom

Quote di atas nemu di salah satu whatsapp group. Tidak persis sih, tapi hampir dipastikan tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Quote dalam bahasa Jawa yang terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah “kalau orang yang beranjak tua itu biasanya apa yang diucapkan adalah hal yang dapat dipercayai dan menjadi anutan bagi yang lebih muda, tetapi ya ada saja yang ucapannya (mereka yang beranjak tua) malah jadi bahan tertawaan yang muda”. Alih-alih diguyu karena joke segar ala Cak Lontong, tapi ini diguyu karena memuat banyak hal yang tidak pada tempatnya. Ditertawakan karena sungguh tidak layak menjadi panutan.

Begitulah. Nyata adanya. Kejadian di whatsapp group itu membuktikan bahwa ujaran “menjadi tua itu pasti menjadi dewasa itu pilihan” terasa sebagai kebenaran. Mestinya perjalanan waktu menjadikan manusia menjadi seperti padi. Makin berisi maka makin menunduk ke arah bumi. Semoga kita menua sebagaimana padi. Menua dengan bertambah kebajikannya, menua dengan bertambah pula kebijakannya.

Lupakan saja mereka yang diguyu. Mending kita belajar saja kepada mereka-mereka yang layak digugu. Salah satunya adalah Buya Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005. Kemarin (10/11), tepat di Hari Pahlawan Buya Syafii yang berusia lebih dari 86 tahun, tulisan opininya dimuat di Kompas. Secara bernas tulisan beliau yang berjudul “Mentereng di Luar, Remuk di Dalam” mengkritik kondisi negeri ini tanpa terasa nyinyir. Kritikan beliau pedas menguliti wajah bopeng republik tetapi apa yang layak dipuji pun dituliskan dengan tulus. Tak banyak yang bisa seperti itu. Asal nyinyir sih banyak, asal menjilat pun banyak.

Panorama “rancak di labuah” atau “mentereng di luar, remuk di dalam” adalah penyakit sosial kronis yang menipu kita selama ini. Sumpah jabatan para birokrat pejabat publik tidak ada pengaruhnya pada perilaku mereka.

Ahmad Syafii Maarif

Buya Syafii sungguh layak digugu. Sederhana di keseharian. Jernih mengamati dan mengobati bangsa.

Yang masih diguyu, mau sampai kapan begitu?

[kkpp, 11.11.2021]

Note: Buat yang belum sempat baca tulisan beliau itu, sila disimak di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s