History is great, but it’s only to remember. Now we have a possibility to write a new story.

LCk4UtuY
#KloppforTheKop. Ilustrasi ini pinjem hasil karya @fajarrusalem. yang membuat edisi kaos dengan gambar di atas menyambut kedatangan Jurgen Klopp sebagai manager baru LFC. Kaos bisa dipesan via akun @fajarussalem tersebut.

Di antara banyak quote yang quotable di sepanjang hari pertama kehadiran Jurgen Klopp, manager klub baru Liverpool FC (LFC) yang menandatangani kontraknya kemarin (8/10), saya menyukai yang ini.

Bukan, bukan bermaksud untuk melupakan sejarah, tetapi nyatanya Liverpool FC sudah terlalu lama tidak menuliskan sejarah.

Benar yang dikatakan Jamie Carragher, salah satu pemain lokal Liverpool yang bermain sepanjang hidupnya untuk dan hanya untuk LFC, mengatakan sebagaimana kutipan berikut (lebih lengkapnya bisa baca di sini) pasca pemecatan Brendan Rodgers.

Liverpool are becoming Tottenham, think they’re a big club but the real big clubs are not too worried about them – who they buy, what they’re going to do – that’s the situation as it’s become for Liverpool, even when I was there at the end.

I’m not just blaming Brendan Rodgers and this set of players. What are these owners of the club going to do to get Liverpool back where they need to be?

That’s consistently in the Champions League and challenging for trophies because at this moment we’re becoming a team who think we’re a big club but we’re not. ~ Jamie Carragher

Carra, sepertinya memahami kekhawatiran bahwasanya LFC lupa dengan siapa dirinya sebenarnya, merasa dirinya klub besar padahal sudah tidak lagi menjadi klub besar.

Kekhawatiran ini sepertinya mewakili sebagian suporter LFC. Nyatanya, sesaat sebelum Brendan Rodgers dipecat, LFC yang juara lima kali Piala Champion, kini hanyalah tim berperingkat ke-55 di klasemen UEFA yang susah payah menahan imbang klub yang baru didengar namanya.

Brendan Rodgers, yang menukangi LFC sejak 1 Juni 2012, sempat membawa asa di musim keduanya, 2013/2014, saat LFC terpeleset untuk mengakhiri kegalauan tak pernah juara Liga Inggris kembali. Sayangnya asa itu menguap begitu saja di musim ketiganya. Perpanjangan kontrak tak menjamin konsistensi. Roda berputar sedemikian cepat. Kesempatan untuk tampil kembali di Liga Champion malah gagal tampil dengan mengesankan. Begitu halnya dengan kompetisi lainnya. Tidak ada tambahan trophy. Di liga terpuruk di peringkat enam, dan mengakhiri kompetisi dengan dibantai 1-6, di laga perpisahan Sang Kapten, Steven Gerrard. Jersey baru LFC yang hendak dipamerkan di game akhir musim itu malah membuat khawatir kolektor jersey untuk mengkoleksinya, karena takut dihantui kekalahan telak enam gol.

Musim keempat Brendan Rodgers. Mungkin tidak ada yang menyangka Brendan akan dipecat sedemikian cepat. Ada yang percaya bahwa musim ini adalah musim baik, karena performance klub adalah layaknya grafik sinusoidal yang ada pasang surutnya. Ada yang mengimani bahwa tiap musim akan menawarkan kejayaan buat LFC sebagaimana musim-musim yang lalu dan berlalu. Tetapi kinerja sepanjang awal musim mulai menyebabkan sebagian mulai percaya bahwa kinerja LFC tak kunjung membaik. Ada yang mengira Brendan akan dipecat di pertengahan musim, atau di akhir musim 2015/2016 ini. Ada yang mengira, Fenway Sport Group (FSG), sang pemilik LFC akan menunggu Brendan tahu diri setelah semua asistennya dipreteli di awal musim, dan mengundurkan diri karena pelit memberikan kompensasi pemecatannya.

Brendan Rodgers dipecat setelah derby Merseyside yang berakhir imbang. Siapa yang datang? Spekulasi berkembang.

Garry McAllister yang akan tampil sebagai caretaker hingga akhir musim? Atau Jurgen Klopp, Carlo Ancelloti, Walter Mazzari bahkan Garry Monk pun jadi perbincangan.

Trauma kejadian pasca pemecatan Kenny Dalglish membuat sebagian para suporter hanya menunggu saja. No pic is hoax. Kabar ini itu hanya dipercaya jika sudah ada fotonya.

Dan FSG kali ini tidak PHP lagi. Jurgen Klopp lah yang datang menandatangani kontrak.

The ownership group have continued to show ambition, in the investment they made in the club initially, the investment they have made in the team, the continued support across the whole business and the new Main Stand. This is just another indication of that. 
When we set about looking for the right solution for a new manager, ambition was right at the top, and I would say Jurgen is right at the top of his game. So it fits well. His personality fits very much with this club, this city and our fans. That combination shows that the owners set an ambition to get their man and achieved it ~ Ian Ayre

Momen bersejarah. Jurgen Klopp sebagai orang ke 22 yang pernah menjabat sebagai Manager Liverpool FC. Dan menyenangkannya untuk mengenang: GARUDA INDONESIA tampil di foto bersejarah ini.
Momen bersejarah. Jurgen Klopp sebagai orang ke 22 yang pernah menjabat sebagai Manager Liverpool FC. Dan menyenangkannya untuk mengenang: GARUDA INDONESIA tampil di foto bersejarah ini.

Selanjutnya, saat diwawancarai untuk pertama kalinya, baik oleh Claire Rourke (@clairerourke) pun saat official press conference, bahasa tubuh Jurgen Klopp, gairah dan auranya, cara memandangnya, cara tertawanya serta jawaban-jawaban spontanitasnya yang quotable banget, memang sungguh mengesankan. Impresif. Jika ada yang tak percaya cinta pada pandangan pertama, mungkin ada yang segera mengalaminya dengan mengikuti dua wawancara itu.

He sounded very, very impressive. I think supporters will need to fasten their seatbelts – they’ll really, really enjoy him. He seems like someone who’s not in love with himself, which the Liverpool supporters can relate to, and I’m sure they’ll take him to their hearts. If they’ve heard the press conference where he’s described himself as ‘the normal one’, that’ll do them fine because they regard themselves as being pretty normalKing Kenny Dalglish

Steven Gerrard melalui akun instagramnya, menyampaikan kesannya atas terpilihnya Jurgen Klopp sebagai manager LFC.
Steven Gerrard melalui akun instagramnya, menyampaikan kesannya atas terpilihnya Jurgen Klopp sebagai manager LFC: Exciting time to be a Red.

Meski demikian, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Masih ada 30 gameweek liga Inggris yang tersisa dengan Tottenham, Southampton,  Chelsea, Crystal Palace dan Manchester City menunggu di lima game pertama Jurgen Klopp bersama LFC. Juga masih terbuka di semua kompetisi yang diikuti: Liga Eropa yang akan bertemu Rubin Kazan kandang-tandang serta bertemu Bournemouth di Piala Liga. Kesemuanya hanya dengan memanfaatkan pemain yang ada.

Polling yang dilakukan @premierleague malah menyampaikan hanya 45% yang percaya LFC bakal finish di empat besar musim ini.

Berat mungkin. Tapi saya mulai percaya: antusiasme dan optimisme itu adalah hal yang dapat ditularkan.

Semoga LFC akan menuliskan sejarah barunya bersama nahkoda baru meski terlalu terburu bila kemudian sepagi ini menyamakan nahkoda baru dengan manager terdahulu yang telah melegenda. Biar waktu membuktikan. Walk On, Klopp!

[kkpp, 10.10.2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s