Kesan dari Sampul

Don’t judge a book by its cover.

Metafora yang ini sudah sering kita dengar. Pesannya singkat, bahwa sebagaimana kita tidak bisa menilai (kualitas) buku dari sampulnya, kita pun sebaiknya tidak menilai seseorang dari tampilan luarnya saja tanpa mengenal lebih jauh siapa seseorang tersebut. Baca selengkapnya

In memoriam: Sumarno

Seberapa sering berita tentang kematian datang kepada kita? Ia adalah kewajaran. Ia juga sebuah kepastian. Kadang mengagetkan. Kadang justru malah membawa kisah mengagumkan. ~ @tattock – Berita Kematian

Berita mengagetkan itu kali ini datang dari seorang kawan. Almarhum yang diberitakan adalah seorang kakak kelas setahun di atas saya sewaktu belajar di jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS. Baca selengkapnya

Catatan tentang “The Kop Comes to Asia 2009” (1)

You’ll Never Walk Alone.

Bagi kami bukanlah semata sebuah jargon, bisa jadi adalah pegangan hidup, penanda pengikat kebersamaan kami, pengingat manakala kami down serta sebuah ikrar tentang optimisme dan kesetiaan.

Saat kemudian terdengar rumor bahwa Liverpool FC (LFC) merencanakan tur ke Asia, rasanya, siapa sih yang tak ingin mengikuti panggilan janji di hati tuk menemani kemana pun LFC pergi. Apalagi tak perlu jauh-jauh ke Anfield. Cukup ke Bangkok atau Singapura yang hanya sekejapan mata. Menunggu datang ke Jakarta pun malah Surabaya, entah kapan bisa terlaksana.

Sempat memendam keinginan itu, karena ada beberapa hal yang perlu didiskusikan dengan Bundanya Alvaro. Eh, ternyata malah Bundanya Alvaro yang menawari di suatu pagi akhir April. “Yah, tadi ada berita kalo Liverpool maen ke Asia Tenggara, apa Ayah ndak berangkat?”.

Ah, masih nyusun rencana gimana ngomongnya, eh, malah dapat lampu hijau duluan. I love you full, dah …

Serta merta, langsung mendaftarkan diri di thread forum. Nyari tiket, saking terburunya malah gak sempat mbanding-mbandingin, tau-tau tiket air asia jakarta-singapura pp, dah ke klik ok. Padahal di kemudian hari, nyesel juga. Satu, ada yang lebih murah lagi, dan yang lebih penting, tampaknya lebih banyak anak Bigreds yang ngambil jalur yang lain. Padahal salah satu alasan ngambil Jakarta-Singapura adalah supaya lebih banyak interaksi dengan Bigreds, maklum event Gathernas Jogja akhir tahun lalu, tidak bisa ikutan karena pas jadi suami siaga.

Lantas, woro-woro ke sekretaris dan kolega kantor buat jadi person in charge waktu ditinggal cuti ntar. “Emang kapan cuti, Kap?”

“Akhir Juli”

“Ya, ntar aja kalo sudah dekat. Masih tiga bulan lagi lho.” Alamak, bodohnya …

Sebulan kemudian, datanglah berita awal kekacauan itu. Acara kantor yang seharusnya diadakan akhir Juni, harus digeser ke akhir Juli karena ngikutin si Prancis yang bisanya datang ke Indonesia akhir Juli. Dan acara yang di Surabaya, jadinya pas tanggal 28. Sehari pas dengan tiket balik Singapura-Jakarta yang sudah di tangan. Alamak, terancam gagal berangkat deh. Walhasil, woro-woro yang penuh kebodohan beberapa waktu yang lalu, malah jadi senjata.

Pokoknya tetep cuti, kan dah jauh hari bilangnya, kataku.

Gak papa sih, asal semua beres sebelum ditinggal cuti, kata mereka.

Yee…

Terpaksa seminggu sebelum keberangkatan, harus membereskan beberapa detil acara. Saking fokusnya, jangankan forum yang hanya diintip sesekali, tiket Surabaya-Jakarta pp malah lupa kalo belum punya. Ternyata kemudian banyak kemudahan. Jumat pagi tanggal 24 yang seharusnya sudah dihitung cuti, ternyata masih harus ke kantor buat serah terima kerjaan dengan para person in charge. Tiket Surabaya-Jakarta pp, yang awalnya keliatan bakal berburu go show langsung di bandara, malah klir karena diurusi sekretarisnya bos.

Nyampai di Cengkareng, iseng ngontak bro uda Havid, salah satu anak Bigreds yang sempat dinas di Surabaya. (Oia, sempet kasak-kusuk sebelumnya, tidak banyak anak Bigreds Surabaya yang berangkat. Ada bro Anand, tapi sama keluarga, serta bro Ucha yang belum jelas jadi apa ndak). Untung ga jadi nyasar ke terminal 3 ternyata malah dapat info kalo anak-anak Bigreds yang pake Tiger Air lagi ngumpul di terminal 2E. Untung yang kedua, meski belum ketemu ama bro Havid, ternyata Bro Rizal, salah satu pentolan BigReds, masih mengingatku padahal cuma ketemu sekali pas nobar Champion versus Madrid leg 1 waktu dines Jakarta tempo hari, dan padahal saat itu aku masih pakai baju kantoran belum sempat ber-merah-ria. Untung yang ketiga, dikenalin bro Rizal dengan para ‘kaum tersesat’ yang naik air asia. Bro Ihsan dan bro Syarief. Ah, bener-bener You’ll Never Walk Alone, dah…

ihsan dan syarief: gak jadi alone, dah ...

Ganti baju, tukar SGD seperlunya lantas bertiga menuju keberangkatan Air Asia. (to be continued)

(kkpp, 03/08/2009)