Februari yang lalu, saat mantenan sepasang kawan di Malang, salah satu tamu undangan resepsi malam itu menyapaku basa-basi, “Mas Gysber ya … pangling aku …”

Hehe, bukan. Aku  menggeleng sambil tersenyum. “Lama juga aku nggak ketemu denagn Gysber,” kataku pula melanjutkan pertanyaan itu menjadi obrolan ringan.

Pertanyaan semacam itu bukanlah pertanyaan yang pertama kudapat. Dulu, sering orang keliru. Apalagi yang baru pertama bertemu. Bagi sebagian orang, dari sosok tubuh, dan apalagi bentuk kepala serta rambut saat dipotong pendek, kami berdua sering dianggap sama. Sehingga waktu itu, kami berdua bila saling menyapa dari jauh senantiasa berteriak: Saudara Sekepala… (saudara karena bentuk kepalanya sama, hehehe).

***

Gysber Jan Tamaela, biasanya temen-temen memanggilnya dengan nama khusus ‘Ambon’, memang dilahirkan di Ambon, Maluku. Meski beda jurusan dan fakultas, kami masuk ke ITS pada tahun yang sama. Kami sering berjumpa di kantin ITS, sebuah ruang egaliter di kampus dimana kami bisa mengenal lintas angkatan, lintas jurusan bahkan tanpa batas kesukuan, agama dan ideologi.

Kadang kami terlibat dalam diskusi yang serius khas mahasiswa, kadang nimbrung gojlok-gojlokan khas kantin, pun kadang Gysber nungguin kami main bridge karena sebagian arek-arek bridge waktu itu satu jurusan dengannya.

Gysber adalah sosok yang ramah dengan ketawa khasnya. Sayang, bertahun-tahun sudah kami tidak bertemu, sejak Gysber menyelesaikan studinya di jurusan matematika, FMIPA. Kabarnya waktu itu, Gysber menjadi pengajar PTN di tanah kelahirannya.

Almarhum (sebelah kiri) saat di-bezoek rekan-rekan seangkatan.
Almarhum (sebelah kiri) saat di-bezoek rekan-rekan seangkatan | Foto dokumen pribadi: Dwiratna Agustina

Kabar tentang Gysber kemudian aku dapatkan dari fesbuk. Wall seorang kawan mengabarkan tentang kondisi Gysber yang sedang dirawat di rumah sakit. Kemudian sempat agak lega melihat kondisinya dari sebuah foto yang diposting bahwa terlihat Gysber telah tertawa dengan renyahnya meski masih di atas pembaringan di rumah sakit.

Lama tak terpantau kabarnya, (sayang feature facebook hanya menampilkan beberapa status update yang frekuensinya paling sering berinteraksi, bukan semua status dari semua friendlist yang ada), berita pada Jumat penghujung April 2010, dari milis alumni ITS, mengabarkan bahwa Gysber telah berpulang tadi pagi jam 08.30 wib.

Sungguh kaget dan terhenyak siang itu membaca email postingan. Sebuah doa segera terucap dari hati dan lamat kembali teringat bahwa hidup dan mati memang rahasia Sang Pemilik.

Jadilah senyum ramah sang saudara sekepala hanya tinggal kenangan.

Sebuah kabar pula bahwa jasad almarhum akan dimakamkan di tanah kelahiran, Sabtu (1/5) besok pagi.

Selamat jalan, Kawan! Selamat jalan, Saudara Sekepala!

[kkpp, 30.04.2010]

Satu pemikiran pada “In Memoriam: Gysber Jan Tamaela

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s