Sengkuni

Sedih bener. Barusan chatting dengan seorang kawan, yang kepadanya saya belajar tentang kejujuran dan kemauan belajar yang besar. Ia berkisah bahwa sedang mencari pekerjaan baru karena menjadi korban sengkuni di kantornya.

Sedih bener. Malam ini nama salah satu sosok di kisah Mahabharata muncul di ruang whatsapp saya dengan sang kawan. Sengkuni. Ya, sang kawan menyebut nama sengkuni di curcolnya. Sengkuni. Ia boleh mati di hari ketujuh belas Perang Mahabharata, dicerai-beraikan oleh Bima. Tapi pewujudannya masih saja ada. Saya pernah bertemu. Anda mungkin juga pernah bertemu.

Kelicikan, keculasan, sepertinya bukanlah hal yang langka. Ia ada di sekitar kita layaknya serpihan-serpihan Sengkuni yang dibuang Bima ke berbagai penjuru. Roh kelicikan itu mengalir di udara yang haus akan kuasa dalam setiap hembusan nafas keserakahan dunia.

Mestinya kelicikan dan keculasan itu bisa kita lawan. Sebagaimana Bima pernah menjadi korban dari Sengkuni, tetapi di akhir cerita Bima-lah yang mengakhirinya.

Menjadi Bima tak serta merta. Tetapi, kita bisa menjadi Bima.

Kawan, jadilah Sang Bima! Dengan kejujuranmu dan kemauan belajarmu, aku percaya engkau akan menemukan dimana bimamu.

Meski belum bisa bantu mencarikan ladang, hanya sebuah doa, semoga lekas menemukan ladang yang lebih baik.

Sengkuni, sengkuni … kok ya belum punah juga.

Bima, kau ada di mana?

[kkpp, 20.01.2018]

#777

Langit Jakarta cerah pagi ini. Kemarin-kemarin dominan kelabu.

Apa beda langit biru dan langit kelabu jika kehidupan adalah ritme ketukan semacam standard operating procedures yang mesti ditaati layaknya ritual penuh mekanisme. Mungkin karenanya senandung tak harus merdu dan doa adalah hiburan terakhir saat tanya tak perlu jawaban.

Ada benarnya seorang kawan. Dalam sebuah postingan di blog-nya, ia menulis begini:

Baca selengkapnya

Twitter pun Berubah

Melalui blog resminya (bisa baca di sini), minggu pertama November ini, Twitter mengumumkan penambahan karakter di postingannya yang semula hanya 140 karakter menjadi dua kali lipatnya. 280 karakter. Semula, perubahan ini telah diujicobakan Twitter sejak beberapa bulan yang lalu. Saya termasuk yang beruntung menikmati perubahan itu di awal masa coba.

Apa yang berubah? Mungkin lebih enak sih, ketika nge-tweet ternyata melebihi 140 karakter, tidak perlu mikir lagi mengedit pilihan kata atau bagaimana menyingkat kata-kata agar bisa muat dalam sekali postingan. Pun, jika harus mention sana sini. Tetapi saya termasuk yang suka dengan versi lama karena dengan keterbatasan 140 karakter itulah mengapa kemudian saya lebih banyak aktif ngoceh di twitter daripada di facebook. Saya pernah menuliskan tentang kelebihan twitter ini hampir tujuh tahun yang lalu (bisa baca di sini). Sebuah kelebihan karena keterbatasan. Baca selengkapnya

Abandoning The Ship

Nahkoda mana yang menginginkan kapalnya tenggelam ke dalam pusaran gelombang. Rasanya tak ada. Kapal tenggelam adalah bencana yang tak pernah direncana. Pun seandainya kejadian itu datang, maka keselamatan awak kapal (teorinya) adalah di atas segalanya.

Pecundang adalah nahkoda yang lari menyelamatkan dirinya duluan tanpa mengingat keselamatan awak kapal. Pahlawan adalah nahkoda yang memilih untuk hilang ditelan gelapnya lautan bersama awak kapal dengan kapal yang tak bisa diselamatkan. Sebagaimana kisah Komodor Yos Sudarso bersama KRI Macan Tutul-nya. Baca selengkapnya

Frankentuar & Witch-Hazel

Ikan Arwana yang diceritakan pada akhir kisah keping O (baca: “Keping A ke Keping Z”) mati (20/10) tadi malam. Entah mengapa. Padahal dua pompa aquarium yang biasanya jadi tertuduh masih beroperasi dengan normal. Soal kematian sang arwana tak bernama bisa jadi adalah pertanda dan bisa jadi pula¬†kejadian biasa saja. Namanya mahkluk hidup ya akhirnya mati juga. Baca selengkapnya

Tiga Poin, Tujuh Gol Tandang Tanpa Balas

Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika tadi malam (di Indonesia dini hari tadi, 18/10) Liverpool FC bakal mencatat torehan hasil menyenangkan. Menang memang diharapkan, tapi siapa sangka akan dengan hasil gilang gemilang. Tujuh gol tandang tanpa balas. Bahkan, andai ada tebak skor, rasanya yang nebak 7-0 pun dikarenakan sudah kehabisan slot untuk nebak skor-skor umum lainnya.

Hasil ini sekaligus menjadi rekor baru kemenangan tandang terbesar Liverpool di kancah Liga Champions Eropa. Liverpool menang atas Maribor, tim asal Slovenia yang di negaranya adalah salah satu dari 3 klub yang belum pernah terdepak dari liga utamanya, dengan skor 7-0, menyamai torehan Shaktar Donets saat melakoni laga tandang ke BATE Borisov, 21 Oktober 2014, juga catatan Marseille tandang ke Zilina, 3 November 2010. Baca selengkapnya

Ngiras Lotek Bu Mur

Sebenarnya sih sudah sarapan spesial pagi itu. Gudeg. Tapi tawaran dari sepupu untuk mencari makan sebelum muter-muter Yogya sayang untuk dilewatkan begitu saja.

“Lotek, yuk.” Saya mengajukan rencana.

Sang sepupu masih berpikir kira-kira dimana, saya sudah punya bayangan. Lokasi gampang ditempuh dan gak terlalu menyimpang untuk rencana-rencana selanjutnya sebelum menunggu jadwal kereta kembali sore nanti (30/9). Baca selengkapnya

#700

Biasanya hanya pakai dua gelang. Yang pertama gelang kembaran satu grup ter-geje namun ngangenin, gelang buatan Kak Mientje, yang kedua gelang YNWA custom dapat dari adik bungsu saya.

Sepanjang hari ini (29/9) dapat tambahan dua gelang lagi karena nonton konser Dream Theater di Stadion Kridosono Yogyakarta. Baca selengkapnya