Tetiba saya merasa pada sebuah titik yang tidak bisa kembali ke awal, yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris secara gampang-gampangan adalah point of no return. Ingin memastikan, benar gak istilah yang saya pakai menggambarkan keadaan saya tersebut, jadinya belakangan saya malah tercerahkan, bahwa point of no return awalnya adalah istilah penerbangan. Sebuah kondisi pesawat yang bahan bakarnya tidak mencukupi untuk berbalik arah dan kembali ke bandara awal darimana pesawat itu berangkat.

Kira-kira apa yang akan dilakukan sang pilot pesawat yang mengalami PNR tersebut? Nekat melanjutkan perjalanan? Atau mencari alternatif bandara terdekat agar pesawat tetap aman?

***

Pas mencari istilah point of no return itu, Google malah menawarkan kisah sebuah film tahun 1993 yang dibintangi Bridget Fonda yang menurut beberapa orang adalah versi Hollywood dari  La Femme Nikita yang dibintangi Anne Parillaud yang dibuat 3 tahun sebelumnya. Saya belum menonton keduanya. Atau jika sudah, saya juga tak teringat detilnya.

Selain film, Google juga menawarkan sebuah video dari youtube, salah satu lagu dari The Phantom of Opera. Saya melihat sekilas, tak membekas.

Justru yang membekas adalah sebuah website yang mengisahkan para migran yang tak bisa kembali ke negara asalnya dengan berbagai alasan, sementara nasib mereka di negara tujuan pun juga terombang-ambing tanpa kejelasan. Lebih lengkap tentang kisah-kisah menyedihkan itu, sila mampir ke sini.

Kisah saya jadinya tak ada apa-apanya dibandingkan kisah-kisah di web itu. Kisah-kisah sedih yang tak saya harapkan, karena semula saya ingin mencari kisah yang membakar semangat, seperti kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib di perang Khaibar atau salah satu kisah di Sam Kok, saat sang jendral membakar jembatannya sebagai penyemangat prajuritnya karena prajuritnya merasa pada point of no return, jadi bersemangat karena tak ada lagi alasan berbalik lari dari keadaan. Siasat serupa itu juga ditemukan di kisah Julius Caesar saat bersama pasukannya mendarat di pantai Britania, tapi lantas memerintahkan prajuritnya membakar kapal-kapalnya dengan alasan yang sama.

Dari kisah-kisah di atas itu, baik kisah yang ingin diharapkan ataupun kisah yang tak diharapkan untuk ditemui, saya kemudian (semingguan merenungkannya sebelum menuliskannya jadi postingan ini) jadi tersadar bahwa sering kita lupa bahwasanya setiap titik kehidupan adalah point of no return. Bagaimana bisa berharap mengulang hari kemarin, jika ingin kembali ke tadi pagi saja kita tak mampu? Bukankah langit senja tak lagi sama, kata Monita Tahalea di salah satu lagunya.

Lantas bagaimana jika merasa berada di point of no return? Mau menghitung ala pilot, berapa bahan bakar tersisa lantas menghitung cukup gak ke bandara terdekat, atau maju pantang mundur ala prajurit yang jalan mundurnya sudah terlanjur dibakar sang panglima?

Tak penting lagi keduanya.

Karena apapun, begerak karena harapan atau bergerak karena ketakutan, tak lagi penting buat orang di luar kita selama hasilnya sama-sama selamat keluar dari point of no return. Bukankah bagi sebagian besar mereka hanya menilai dari hasil akhirnya saja, bukan?

[kkpp, 05.05.2017]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s