Abandoning The Ship

Nahkoda mana yang menginginkan kapalnya tenggelam ke dalam pusaran gelombang. Rasanya tak ada. Kapal tenggelam adalah bencana yang tak pernah direncana. Pun seandainya kejadian itu datang, maka keselamatan awak kapal (teorinya) adalah di atas segalanya.

Pecundang adalah nahkoda yang lari menyelamatkan dirinya duluan tanpa mengingat keselamatan awak kapal. Pahlawan adalah nahkoda yang memilih untuk hilang ditelan gelapnya lautan bersama awak kapal dengan kapal yang tak bisa diselamatkan. Sebagaimana kisah Komodor Yos Sudarso bersama KRI Macan Tutul-nya. Continue reading “Abandoning The Ship”

Point of No Return

Tetiba saya merasa pada sebuah titik yang tidak bisa kembali ke awal, yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris secara gampang-gampangan adalah point of no return. Ingin memastikan, benar gak istilah yang saya pakai menggambarkan keadaan saya tersebut, jadinya belakangan saya malah tercerahkan, bahwa point of no return awalnya adalah istilah penerbangan. Continue reading “Point of No Return”

Iklan Colongan

Judul postingan kali ini terinspirasi dari curcol. Curhat colongan. Lah, singkatan dalam singkatan. Bukankah curhat-nya sendiri juga singkatan dari curahan hati. Menurut Amin Aulawi via inovasee.com (bisa baca di sini), curcol adalah kata dan juga istilah tahun 90-an. Amin mengkelompokkan curcol sebagaimana EGP, ember, koit, hebring, gundah gulana serta ngocol.

Hihihi, masak sih gak ada yang tahu dari kata-kata dan istilah-istilah tersebut?

Nah, menariknya, di tulisan Amin Aulawi tersebut, pas penjelasan tentang curcol menggunakan foto ilustrasi adegan dari Cinta bersama genk-nya di AADC-1. Duh kan, malah jadi curcol sendiri. Hihihi. Continue reading “Iklan Colongan”

Lain Ladang Lain Ilalang

Jakarta sore itu mulai menyurutkan panas. Di bilangan jalan MT Haryono, tak jauh dari Pancoran, mungkin panas, tapi bagi saya angin yang bertiup sungguh bersahabat. Seiring kelegaan saya menyelesaikan ujian. Setelah enam bulan melewati masa traning, sore itu akhirnya saya keluar dari ruang meeting di lantai 8. Meski tanpa tahu hasil akhirnya, saya cukup puas dengan presentasi saya tadi. Sementara beberapa kawan masih ujian, saya menikmati sore di Jakarta. Memandang langit Jakarta, memandang padatnya lalu lintasnya. Ya, Jakarta. Ibukota dari impian anak-anak muda Indonesia dari luar ibukota untuk menjejaknya. Continue reading “Lain Ladang Lain Ilalang”

Centang Biru

whatsappDi antara beberapa aplikasi pesan yang saya gunakan saat ini, bisa dikatakan WhatsApp adalah aplikasi yang paling banyak digunakan oleh kontak-kontak saya. Ringan adalah penyebab yang utama. Lintas platform adalah penyebab yang kedua. Cara identifikasinya pun mudah. Tinggal ngikut dari catatan nomer hp di phone-book. Selama nomer tersebut mempunyai koneksi ke internet dan menggunakan WhatsApp juga, langsung deh bisa digunakan. Continue reading “Centang Biru”

Iklan Favorit

televisionTak biasanya saya menyukai iklan di televisi. Jaman masih nonton televisi secara jamaah jaman pas tinggal di asrama atau kost-kostan, saat iklan adalah saat yang tepat untuk berpindah channel, untuk mengecek sedang ada acara apa di channel tetangga. Karena itu, penguasa televisi ditahbiskan kepada kawan yang memegang remote.

Dengan kuasa jempolnya, acara televisi bisa berpindah-pindah manakala iklan ditayangkan. Continue reading “Iklan Favorit”