Siapa sih yang tidak kenal Joger? Saya sendiri pertama kali ke Pabrik Kata-kata tersebut pada tahun 1995, pada saat menjadi panitia lokal Kejuaraan Dunia Bridge Junior yang saat itu diselenggarakan di Kuta Bali. Hingga kunjungan terakhir saya dua tahun yang lalu, Pabrik Kata-kata Joger tetap membekas dalam kenangan akan antrian yang sedemikian padat namun segera terhapus sesaat membaca rangkaian kata yang menusuk, getir, membikin tawa (kadang tertawa lepas, kadang tertawa karena tersindir), dan juga rangkaian kata yang unik.

Judul di atas adalah judul pada undangan seminar bulanan yang diadakan AMA Surabaya pada Jumat 24 Agustus 2007 yang lalu. Saat menerima undangan tersebut, bergegas saya segera mencatat dalam agenda saya untuk menghadiri acara yang digelar di Hotel Singgasana (ex. Hotel Hilton) Surabaya itu. Mungkin karena sedikit kangen dengan kawan-kawan AMA yang telah beberapa bulan saya tak bisa ketemu, namun juga karena keinginan mendengarkan apa yang hendak disampaikan Joger lebih banyak mempengaruhi keinginan saya tersebut. Ternyata kemudian saya sedikitpun tidak menyesal. Meski acara harus molor hingga jam sepuluh malam.

Awalnya, peserta telah mendapatkan dua lembar hand-out yang menunjukkan anomali apa yang dilakukan Joger dengan teori marketing yang umum. Nyatanya, di forum pembahasan lebih meluas pada seni management yang diterapkannya hingga menjadikan Joger salah satu ikon pariwisata Bali (dan ternyata Joger diakui sebagai pembayar pajak terbaik untuk kategori perusahaan privat). Cukup menarik memang. Lihatlah angka pengunjung yang datang bisa mencapai 17.000 pengunjung/hari/8 jam kerja. Seorang vendor penyuplai sandal, mengaku kewalahan karena supply 15.000 pasang sandal tak mencukupi untuk masa sebulan.

Joger sendiri berdiri sejak 1981. JO berasal dari nama Joseph T Wulianadi (yang kemudian lebih dikenal dengan Mr. Joger) dan GER berasal dari Gerhard Seeger, kawan sekolah Mr. Joger saat masih di Jerman. Memulai bisnis dngan modal Rp. 500.000, Mr Joger berhasil membuka 2 toko yang diberi nama “Art & Batik Shop Joger” pada tahun 1983. Tiga tahun kemudian toko ketiga dibuka di Jl. Raya Kuta. Namun akhir tahun 1987, Mr. Joger malah menutup 2 dari ketiga tokonya dan mengubah orientasi bisnis dari “profit oriented” menjadi “happiness oriented”.

Tentang marketing sendiri, Mr Joger berpendapat: Marketing adalah dunia “tipu menipu” yang dilakukan secara legal, baik-baik, dan menyenangkan hingga pembeli mau secara sukarela ditipu secara berkesinambungan.

Nah lo …

(kkpp, 27/08/07)

Satu pemikiran pada “Marketing Inovasi Gaya Joger

  1. Seorang cerdik, pandai telah berpetualang keberbagai tempat sehingga menyimpulkan kebiasaan manusia mendefinisikan perdagangan sebagai berikut “ Pasar adalah tempat yang didalamnya manusi saling menipu” artinya kebenaran bisa dengan mudah dikalahkan oleh hasrat manusia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s