Jakarta sore itu mulai menyurutkan panas. Di bilangan jalan MT Haryono, tak jauh dari Pancoran, mungkin panas, tapi bagi saya angin yang bertiup sungguh bersahabat. Seiring kelegaan saya menyelesaikan ujian. Setelah enam bulan melewati masa traning, sore itu akhirnya saya keluar dari ruang meeting di lantai 8. Meski tanpa tahu hasil akhirnya, saya cukup puas dengan presentasi saya tadi. Sementara beberapa kawan masih ujian, saya menikmati sore di Jakarta. Memandang langit Jakarta, memandang padatnya lalu lintasnya. Ya, Jakarta. Ibukota dari impian anak-anak muda Indonesia dari luar ibukota untuk menjejaknya.

***

Kemarin, tepat 14 tahun yang lalu, 28 Mei 2001, saya memulai sebuah episode kehidupan dengan bergabung di sebuah perusahaan jasa perdagangan. Perusahaan ini adalah distributor dari barang-barang teknik yang biasa digunakan di sektor industri, sektor pertambangan dan konstruksi, sektor minyak dan gas bumi serta sektor alat-alat laboratorium. Kantor utamanya (dulu) di jalan MT Haryono, Jakarta. Dari jalan tol, kantor utama tersebut jelas terlihat. Di gedung yang kini bernama Menara Hijau, saya mengakhiri masa training dengan ujian di hadapan Presiden Direktur dan jajaran Vice President. Tanpa mengulang, saya melalui ujian tersebut dan kemudian untuk ditugaskan ke kantor cabang di Surabaya. Bisa dikatakan, bila saya disuruh pulang. Dekat dengan orangtua serta teman-teman yang masih banyak di sekitaran kampus pada waktu itu.

Semenjak itu saya berkarya di Surabaya. Berladang penuh pengharapan sambil belajar tentang banyak hal. Tentang pernak-pernik dunia usaha, tentang dunia industri yang banyak menjadi lahan perladangan kami. Kadang ladang menghasilkan, kadang ladang mensyaratkan berpeluh-peluh keringat hilang tak berbekas.

Tak terasa, masa berladang itu sudah mencapai 14 tahun. Sebuah episode yang kemudian menjadi episode terpanjang di kehidupan saya, melebihi masa pendidikan dasar dan menengah digabung sekaligus.

Bersyukurnya, di episode ini pula saya menemukan teman-teman sekerja sebagai keluarga yang hangat komplet dengan segala suka dukanya. Suka dan duka adalah sebagaimana dua keping koin. Keduanya datang silih berganti. Tetapi secara keseluruhan saya akan mengingat episode tersebut sebagai sebuah episode yang menyenangkan karena kemudian saya memahami (dan masih mendalami) tentang dua hal penting dalam kehidupan: KESABARAN dan KEIKHLASAN.

Kesabaran tentang bagaimana menyelesaikan setiap permasalahan, serta keikhlasan untuk mengeluarkan kemampuan terbaik di setiap kesempatan.Kedua hal penting itu, kesabaran dan keihklasan, nyata-nyata dalam perjalanan 14 tahun itu malah mengantarkan saya berulang kali untuk menjadi saksi kebenaran ayatNya: selalu ada kemudahan setelah kesulitan.

***

Saya tak mengira bakal bisa bertahan sedemikian lama. Lha wong awalnya ladang ini saya ambil setelah putus asa tak berjodoh sebagai jurnalis (baca di sini). Beberapa bulan menganggur membuat saya dengan cepat mengiyakan pekerjaan ini, padahal bisa jadi pula ternyata pekerjaan ini jauh dari apa yang saya citakan, dan jauh pula dari apa-apa yang diambil dulu di bangku perkuliahan. Meski tentu saja masih ada beberapa sks yang bersesuaian: mekanika fluida, mesin fluida, thermodinamika, perpindahan panas, sistem pengaturan udara, sistem perpipaan, serta tak lupa menggambar teknik. Tak ada lagi perencanaan kamar mesin kapal apalagi perencanaan sistem di bangunan lepas pantai. Justru yang terpakai adalah ilmu yang didapatkan dari pengalaman selama berorganisasi di dunia kemahasiswaan.

Lucunya (atau malah ironis?), sesaat setelah saya mengiyakan untuk mengerjakan ladang ini, datanglah tawaran yang dulu saya nantikan selama berbulan-bulan: menjadi jurnalis. Sayangnya, saya sudah terikat dan kemudian melupakan keinginan sebagai jurnalis.

Demikianlah. Ladang yang mengikat itu telah saya tanami serta menyianginya dari hama: dari hari menjadi minggu, dari minggu menjadi bulan, dari bulan menjadi tahun, dan jadilah bertahun-tahun. Ya, empat belas tahun yang mengubah banyak hal. Dari sisi fisik saja, awalnya 59 kg kini menjadi 95 kg. Hehehe.

Sebagaimana pejalan, kini tibalah sebuah masa untuk memulai episode baru. Sebuah episode tentang zona lain kehidupan yang perlu dijelajah selagi masih dikaruniai kesehatan dan sisa usia. Sebuah episode tentang ladang baru, tentu saja komplet dengan ilalang dan belalang baru. Interesting!

Mudah-mudahan ladang baru beserta ilalang dan belalang baru itu akan memperkaya hikmah dan wawasan kehidupan.

Kehidupan yang pada dasarnya adalah perlombaan yang tak ada habisnya: perlombaan untuk berbuat kebajikan.

Kata orang, life begins at fourty, so let’s the life begins …

[kkpp, 29.05.2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s