Emirsyah Satar, salah satu nama yang disebut-sebut oleh Rheinald Kasali dalam buku terakhirnya Cracking Zone, pernah mengalami kejadian kehilangan koper pada saat terbang menggunakan salah satu penerbangan dari salah satu maskapai bintang lima dunia (di artikel tersebut tidak menyebutkan maskapai mana dengan jelas). Koper tersebut ditemukan dua minggu kemudian di salah satu hotel di kawasan Marina Bay, Singapore. Itupun ditemukan setelah pihak hotel menelpon nomer yang terdapat di name-tag yang terdapat pada koper yang hilang tersebut.

Kisah tentang koper yang hilang itu, diungkapkan oleh Emirsyah Satar, Direktur Utama PT. Garuda Indonesia Tbk sejak 2005 dan terpilih kembali oleh RUPST tanggal 29 April 2011, melalui artikel di Garuda In-Flight Magazine edisi Juni 2011 yang saya baca pada sebuah penerbangan Garuda dari Timika ke Denpasar lanjut ke Surabaya.

Kisah itu diungkapkan oleh sang Dirut, yang sukses membukukan pendapatan usaha tahun 2010 sebesar 19,534 triliun rupiah, meningkat sebesar 9,4% dibanding 2009 sebesar 17,860 triliun rupiah, serta laba bersih menjadi 515,5 miliar rupiah dari sebelumnya (2009) 1,01 triliun rupiah atau merosot 49,3%, sebagai bagian kisah bahwa Garuda Indonesia terus berbenah menjadi maskapai yang bukan saja ikon negeri ini tetapi juga menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Dengan kisah koper yang dialaminya, Emirsyah Satar mengajak pembaca artikel tersebut untuk memahami bahwa kadang memang masih terjadi hal-hal kecil yang tidak mengenakkan (bahkan dilakukan oleh maskapai top dunia) tetapi Garuda berusaha untuk terus menaikkan layanannya yang diujungnya juga menaikkan kinerja perusahaan. Di artikel tersebut, Emirsyah Satar menyebutkan sejumlah rencana-rencananya untuk mewujudkan agar Garuda makin terbang tinggi: penambahan jumlah pesawat, menjadikan Makassar sebagai hub Indonesia kawasan timur, serta kerjasama dengan pihak pariwisata di sejumlah daerah.

  ***

Entah sebuah kebetulan, usai membaca artikel tersebut, pada saat menunggu mengambil bagasi di Bandara Juanda, yang dinobatkan sebagai bandara terbersih tahun ini (yang saya baca di spanduk yang terpasang di Juanda), seseorang petugas Garuda,Vinda, menghampiri saya.

“Sudah lengkap, Pak? Boleh saya lihat kupon bagasinya?”

“Kurang satu,” kata saya sambil menunjukkan kupon yang menandakan kepemilikan atas bagasi tersebut.

“Tasnya warna apa?

Saya kemudian mendefinisikan tas yang belum ketemu tersebut.

Hingga semua bagasi telah diambil pemiliknya, tas saya tersebut tidak ditemukan. Sempat khawatir, karena di tas itu ada salah satu harddisk eksternal. Tetapi dengan penampilan para petugas yang tidak terlihat panik pun juga tidak terihat acuh, saya berharap bahwa tas saya itu dapat kembali tak kurang suatu apa.

“Kok bisa tahu kalau saya kehilangan tas, mbak?”

“Iya, tadi kami dapat fax dari Denpasar, bahwa mereka missing satu tas atas nama Bapak. Semoga cuma terbawa ke Jakarta,” kata Vinda sambil mengisi form kehilangan bagasi.

“Mohon maaf, pak, atas ketidaknyamanannya. Nanti akan kami antar ke alamat Bapak.”

“Bener dianter?” tanya saya agak sangsi, karena pengalaman sebelumnya dengan maskapai lain, saya harus kembali ke Bandara Soekarno Hatta untuk mengambil tas yang hilang.

“Wah, enak juga kalau sering kehilangan koper. Jadi gak perlu berat-berat pulangnya,” lanjut saya berseloroh. Habis gimana lagi, mau marah juga tidak bakal menyelesaikan masalah.

Benar saja, malamnya, lima jam sejak saya sampai di rumah, tas itu diantar! Terima kasih Garuda!

 ***

Ada dua hal yang biasanya menyebalkan pengguna jasa penerbangan yang tidak terkait dengan harga yaitu: pertama, jadual penerbangan yang terlambat, kedua, kehilangan bagasi. Sementara layanan lainnya akan setara mengikuti harga yang dibayarkan. Ono rego ono rupo, kata orang Jawa.

Untuk yang pertama, Garuda membukukan prestasi di tahun 2010, keterlambatan  (OTP) sebesar 80,2%. Sedangkan yang kedua, pengalaman saya di atas bisa jadi mewakilinya.

Tetapi yang terpenting adalah bahwa Garuda adalah salah satu ikon Indonesia. Dari nama, kepentingan, serta kemaslahatannya, rakyat Indonesia banyak berharap padanya. Jika nama Garuda jatuh begitu halnya nama Indonesia. Tetapi dengan dipiloti seorang yang cerdas dan idealis, maka boleh jadi kita banyak berharap.

“Fortunately, while I’m not filthy rich, I have enough. And if Indonesians don’t help this country, who will? Garuda is an Indonesian icon. If it improves, the country’s image improves. And I am a proud Indonesian. And I like challenges. I joined as one of Garuda’s youngest CEOs and it was a great opportunity to do something.”Emirsyah Satar

Terbanglah terus, Garuda! Kepak sayapmu membanggakan kami.

[kkpp, 17.06.2011]

Satu pemikiran pada “Jempol buat Garuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s