Loncat

Seorang Associate Professor di almamater melakukan pengamatan pasca perubahan yang dilakukannya pada kolam ikan kesayangannya. Dia memberikan pembatas pada kolamnya, dan memberikan perbedaan perlakuan dari dua kolam yang terpisahkan pembatas baru tersebut. Di satu sisi, diberikannya supply air dan supply udara yang lebih baik dibandingkan dengan kolam sisi yang lain. Apa yang terjadi?

Suatu waktu saya ber-experiment di kolam yang berisikan ikan-ikan kecil di rumah. Pertanyaannya waktu itu sederhana, bagaimana kalau kolam saya kasih BATAS di tengah dan supply udara kolam saya atur lebih besar di satu sisi, ditambahkan dengan supply air mengalir di sisi tersebut. Yang terjadi seperti dalam video, ikan mulai meloncat ke sisi-sisi yang banyak supply udaranya.  Sesekali ikan-ikan bisa meloncat keluar dari kolam…

Hal tersebut menunjukkan suatu indikasi, bahwa ikan-ikan secara random meloncat setelah tahu ada batas di kolam tersebut. Sepertinya tanpa rencana, dan tanpa tahu apa yang akan dihadapi. Keberanian meloncati batas sudah ada dalam kehidupan, sebagai cara untuk bertahan.

Ada hambatan dan rintangan? Loncat saja!!!😊

Suwarno

Kalau mau melihat videonya, sila berkunjung ke laman Pak Dosen di link di atas. Seru sih. Pas membaca postingan tersebut yang saya tangkap adalah ‘encouragement’ kepada pembaca, untuk berani meloncati batas sebagai cara untuk bertahan di kehidupan ini. Kodrati. Alamiah.

Tapi tak semua orang, eh, ikan juga, yang mempunyai keberanian lebih untuk melewati halangan untuk mendapatkan ruang lain yang lebih memberikan daya dukung kehidupan. Ketakutan bahwa ruang sebelah jangan-jangan tak seperti yang dibayangkan mungkin adalah penghambat keberanian meloncati batas. Seperti di kolom komen postingan tersebut, ternyata ikan yang lebih besar tak melakukan loncatan yang sama. Pak Dosen dengan ringan menjawab: “tidak ikut loncat, mungkin sudah zona nyaman … .”

Saya jadi teringat kisah saya sendiri. Di pekerjaan lama saya (baca: keping F, keping-keping dari A ke Z tentang saya), setelah bertahun-tahun nyaman di pekerjaan dan rutinitas yang sama, keinginan untuk meloncat sudah sering kali berkelebat hinggap menggoda saya. Keinginan untuk mendapatkan ruang lain yang memberikan daya dukung kehidupan yang lebih baik berhadapan head to head dengan ketakutan bagaimana bentuk ruang itu, benarkah akan lebih baik atau akan menjadi lebih buruk? Hingga sebuah titik, batas itu kemudian tak sengaja untuk sengaja ditetapkan, sebagaimana Pak Dosen membangun batasan di kolamnya. Bulan ini, tujuh tahun yang lalu saya telah meloncat.

Apa jadinya selama tujuh tahun itu? Apakah kemudian saya menemukan kolam yang lebih baik? Atau kolam yang lebih buruk? Bagaimana dengan ketakutan-ketakutan yang dulu membelenggu saya sebelum memutuskan untuk meloncat? Apakah saya menyesal?

Kolam yang baik dan buruk mungkin relatif. Tetapi saya tak menyesal atas keputusan meloncat tersebut. Dengan keputusan tersebutnya setidaknya saya telah melakukan perjalanan selama tujuh tahun yang mengenal dunia lebih dibandingkan seandainya saya tak meloncat dan berdiam di kolam yang sama selama tujuh tahun. Mengenal diri saya sendiri, mengenal siapa yang sebenarnya menjadi teman di sisi kita, dan tentu saja: mengenal Tuhan saya melalui firman-Nya yang terasa betul selama tujuh tahun ini.

fa inna ma’al-‘usri yusrā

inna ma’al-‘usri yusrā

fa idżā faraghta fanṣhab

wa ilā rabbika farghab

QS94, ayat 5-8

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Eh iya, sebelum menutup postingan ini. Mana yang benar: loncat atau lompat? Ikan meloncat atau ikan melompat? Kalau menurut kamus besar bahasa Indonesia, meloncat adalah bergerak menjauhi permukaan secara vertikal, sedangkan melompat adalah bergerak menjauhi permukaan secara horizontal.

Mungkin begini cara mudah memahaminya: meloncat setinggi-tingginya kalau melompat sejauh-jauhnya (ke depan, ke belakang atau ke samping). Jika demikian, bisa jadi tadi pak Dosen salah kaprah. Mestinya sang ikan di postingan di atas mestinya melompat bukan meloncat. Kalau meloncat mestinya ya sang ikan bakal jatuh ke kolam yang sama tanpa melalui dinding pembatas ke kolam sisi satunya.

Atau pernah dengar kutu loncat? Mana yang benar: kutu loncat atau kutu lompat? Selain memang ada jenis binatangnya, kutu loncat adalah kiasan bagi seseorang yang berpindah-pindah pekerjaan untuk meraih posisi setinggi-tingginya. Ya terkesan, ambius dan konotasi negatif sih, tetapi memang ada. Kalau kutu lompat? Mungkin itu kutunya sedang dikageti, trus melompat. Hap. Lalu ditangkap. Lha, itu kutu apa nyamuk yang ditangkap cicak …

[kkpp, 19.05.2022]

Diterbitkan oleh tattock

menyukai kata dan perjalanan memperluas cakrawala. lalu sejenak menepi untuk sekedar membingkai hidup yang tak hakiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: