Bintang pembicaraan di minggu awal tahun 2012 ini tak pelak adalah Jokowi. Pria kelahiran 21 Juni 1961 ini adalah pemilik nama Joko Widodo, Walikota Solo untuk periode yang kedua kalinya pada periode 2010-2015, yang menghebohkan media kali ini dengan pemberitaan tentang penggunaan mobil buatan pelajar SMK sebagai mobil dinas menggantikan Toyota Camry yang telah digunakan sejak walikota sebelumnya.

Mobil buatan siswa SMK 2 dan SMK Warga Surakarta yang diparkir di halaman Balai Kota Surakarta, Senin, (2/1). Sumber: TEMPO/Ukky Primartantyo. (http://www.tempo.co/read/news/2012/01/03/058375050/Demi-Mobil-Rakitan-Esemka-Jokowi-Ganti-Mobil)

Sedemikian hebohnya, sampai-sampai banyak pihak yang ikutan numpang beken. Persis fenomena euforia reformasi di kala tahun 1998-an.

Ada pro kontra tentu saja. Tapi dari sisi positifnya memang, bahwa ternyata fenomena mobil Kiat Esemka yang digunakan Walikota Solo itu menumbuhkan benih kerinduan pada produk nasionalis, kerinduan pada pengakuan bahwa kemampuan anak bangsa tak kalah dengan bangsa-bangsa lain, serta kerinduan pada pejabat yang langsung memberikan teladan bagi rakyatnya.

Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana kerinduan-kerinduan itu tidak layu sebelum berkembang. Terlihat sepele, tetapi ternyata banyak hal yang harus dikerjakan.

Soal mobil nasional misalnya, kita telah mempunyai cita-cita itu sejak beberapa tahun yang lalu. Masih ingat dengan kisah Timor bukan? Bagaimana kemudian bisa gagal? Faktor Tommy Soeharto semata? Atau faktor keberpihakan pemerintah saat itu yang terlihat dari kebijakan yang ditempuhnya? Atau ada kekuatan kapital yang memang sengaja menjegalnya?

Belum lagi dari soal definisi produk nasional di era globalisasi yang membuat batas definisi itu semakin kabur. Apakah yang dimaksud produk nasional itu adalah produk yang 100% menggunakan komponen dalam negeri? Atau dibuat dengan ‘branding’ dalam negeri? Atau dimodali oleh 100% modal dalam negeri? Coba lihat sejenak komputer yang Anda gunakan sekarang untuk membaca postingan ini.  Apakah merk-nya? Apakah negara asal merk sama dengan negara tempat komputer itu dibuat? Bagaimana dengan komponen-komponennya?

***

Harus diakui bahwa Jokowi telah sukses bertindak sebagai product endorser tidak saja bagi Kiat Esemka, tetapi juga product endorser kemampuan anak-anak bangsa. Persis sebagaimana yang dilakukan oleh Agnes Monica atas Honda, pun juga Didi Petet atas Yamaha.

Jokowi membukakan lagi ingatan kita, jangankan untuk membuat mobil, soal kemampuan teknis, kita pernah punya PT Dirgantara Indonesia yang bisa membuat pesawat, juga PT Pal Indonesia yang bisa membuat kapal dengan panjang kapal lebih dari ratusan meter. tetapi bagaimana nasibnya sekarang?

Jokowi membukakan lagi ingatan kita, adakah dunia industri dan dunia pendidikan terkorelasi dengan baik? Masih ingat dengan konsep link and match-nya Menteri Wardiman?

Jokowi telah melangkah dengan cerdas. Tetapi tak cukup dengan semata memasang plat nomernya pada Kiat Esemka. Karena Jokowi hanyalah trigger, yang seharusnya memacu para pemangku kebijakan untuk bertindak. Departemen-departemen terkait harus lebih banyak bekerja dengan aksi nyata. Tak cukup dengan konsep-konsep di atas kertas. Sidang kabinet tak cukup sekedar tut wuri handayani, tetapi harus ing ngarso sung tulodho.

[kkpp, 09.01.2012]

2 pemikiran pada “Tak Cukup Jokowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s