In memoriam: Deddy Sutomo

Kabar duka datang dari akun twitter @poeticpicture –akun yang saya ikuti karena dari nama akunnya saja sungguh memikat: foto puitis, yang belakangan kemudian hasil karyanya sering menemani saya sebagai bahan bacaan wajib baca pas naik Citilink, lha ternyata beliausi pemilik akun adalah Editor in Chief-nya LINKERS, inflight magazine-nya Citilink–, bahwa pamannya meninggal dunia pagi tadi (18/4). Sang paman yang meninggal saya belum pernah ketemu, tapi sosok sang paman lekat bersama kenangan saya atas film serial yang dulu tahun 1984-1985 pernah saya tungguin di layar TVRI. Rumah Masa Depan, nama film serinya (istilah sinetron, seingat saya belum dikenal di masa itu). Ya, Deddy Sutomo, nama sang paman. Continue reading “In memoriam: Deddy Sutomo”

Point of No Return

Tetiba saya merasa pada sebuah titik yang tidak bisa kembali ke awal, yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris secara gampang-gampangan adalah point of no return. Ingin memastikan, benar gak istilah yang saya pakai menggambarkan keadaan saya tersebut, jadinya belakangan saya malah tercerahkan, bahwa point of no return awalnya adalah istilah penerbangan. Continue reading “Point of No Return”

Alangkah (nggak) Lucunya Negeri Ini

Bukan karena Tio Pakusadewo melalui film “Alangkah  Lucunya (Negeri Ini)” yang baru saja memperoleh penghargaan Pemeran Pendukung Pria Terbaik di ajang Indonesian Movie Award 2011, Selasa (10/5/11) yang lalu, maka kemudian saya baru sempat menonton film itu sekarang.

Telat setahun lebih sejak film yang disutradarai Deddy Mizwar ini di-launching pada April 2010.  Meski demikian, sepertinya pesan-pesan yang ingin disampaikan film ini masih saja tetap relevan.

Film yang berkisah tentang sarjana pengangguran yang diharapkan orangtuanya segera bekerja dengan “layak”, Muluk (Reza Rahadian), yang kemudian berkenalan dengan anak-anak pencopet yang di-boss-i oleh Jarot (Tio Pakusadewo). Muluk kemudian menawarkan kerjasama dengan mengelola 10% penghasilan mencopet, dan mencoba mengarahkan agar anak-anak pencopet itu mau berubah mendapatkan pekerjaan halal. Mengasong adalah usulan Muluk sebagai alternatif pekerjaan bagi mereka.

Ternyata membuat mereka sadar untuk mengasong bukanlah hal yang mudah. Dalam proses inilah, kemudian Muluk mengajak teman sekaligus tetangganya, Samsul (Asrul Dahlan), sarjana kependidikan yang frustasi menganggur dan banyak menghabiskan waktu dengan bermain gaple, serta Pipit (Ratu Tika Bravani) yang asyik menghabiskan waktu menjawab berbagai kuis di televisi, untuk mengajar anak-anak pencopet yang ternyata memang buta huruf.

Kisah yang sederhana, tetapi jadi rumit karena ada peran Pak Makbul (Dedy Mizwar) ayah Muluk, Haji Sarbini (Slamet Rahardjo) yang juga ayah Pipit, dan Haji Rahmat (Jaja Mihardja) calon mertua Muluk. Ketiga orang tua yang digambarkan rajin ke musholla dan memiliki pandangan yang hitam-putih atas kondisi kekinian. Konflik terjadi manakala mereka bertiga mengetahui bahwa gaji Muluk dan Pipit adalah dari uang hasil mencopet.

***

Sebagaimana film-film karya Deddy Mizwar lainnya, sebut saja Nagabonar Jadi 2 (2007), pesan-pesan keindonesiaan film ini kental sekali.

Percakapan Muluk yang menenangkan Pipit misalnya, “…Ngapain aneh lihat para pencopet, lihat koruptor di tv biasa aja…,” atau saat memotivasi anak-anak pencopet agar mau bersekolah, “… kalian harus berpendidikan agar menjadi pencopet yang terdidik, yang mencopet brankas, mencopet bank atau mencopet uang negara …,” dan ungkapan-ungkapan lainnyaterasa di sepanjang film. Realitas yang dengan satir disampaikan. Bahkan teriakan, “Hidup koruptor!!”, terasa lucu tetapi menyakitkan.

Deddy Mizwar memang piawai menyajikan realitas sehari-hari tentang Indonesia yang disampaikan dengan elegan. Sayangnya, ada beberapa hal yang terlalu berlebihan. Misalnya, saat adegan Muluk bersama anak-anak pencopet melakukan upacara bendera, juga saat ramai-ramai datang ke Gedung DPR/MPR naik truk bak terbuka.

***

Film yang pantas ditonton, bahkan untuk beberapa tahun mendatang.

Film yang membuat saya kelabakan menjawab pertanyaan-pertanyaan Nuha, putri saya yang belum genap 7 tahun. Tentang mengapa anak-anak itu mencopet, tentang “agama apa saja yang penting gampang”, tentang koruptor, bahkan tentang mengapa petugas (baca: Satpol PP) menguber-uber pengasong yang katanya mencari uang dengan halal.

Bahkan, di akhir cerita, Nuha menangis tersedu-sedu, manakala Muluk ditangkap Satpol PP, sementara Komet (salah satu anak pencopet yang bersedia mengasong) dan teman-temannya mengejar-ngejar kendaraan Satpol PP yang membawa Muluk.

Bundanya Nuha pun sibuk menenangkan Nuha yang tersedu hingga terlelap dalam tangisan.

Sementara saya? Saking kerasnya tangisan Nuha, membuat saya tertawa kecut. Sanggupkah kita bercerita pada anak cucu kita, bahwa Indonesia yang kita wariskan kelak adalah negeri yang pantas ditertawai atas anekdot yang terjadi sehari-hari di depan mata kita? Atau kita menutupinya seolah negeri ini adalah negeri yang digdaya?

Saya, tak pantas lagi tertawa.

[kkpp, 16.05.2011]

Densus, Den Bagus …

source: http://ucelebz.com/csi-miami-season-7-episode-11-s07e11-tipping-point-watch-online

Pernahkah Anda nonton CSI? Suka?

Crime Scene Investigation, yang kemudian disingkat sebagai CSI,  adalah sebuah serial televisi yang di negara asalnya sana telah dibuat berseri-seri sementara saat ditayangkan di televisi terestrial kita ternyata tidak laku. Continue reading “Densus, Den Bagus …”

Across The Universe

MV5BMTIyNzkyODI0M15BMl5BanBnXkFtZTcwODYzMzc1MQ@@._V1._SX100_SY136_Gara-gara channel walking (halah, ada yang nemu padanan katanya dalam bahasa Indonesia yang pas?) di suatu tengah malam, akhirnya saya melabuhkan pilihan di suatu channel saat melihat ‘TIA sign’ – lambang This is Anfield di salah satu adegan. Lambang yang diakrabi oleh penggemar Liverpool FC itu ternyata berada di kamar Jude (diperankan Jim Sturgess), tokoh utama film itu yang mengambil setting tahun 1960-an. Across the Universe, judulnya. Saya cukup menikmati film ini. Buktinya saya yang hanya awalnya mencari saluran tivi sekedar mencari kegiatan sebelum menanti kantuk datang, malah melek hingga akhir cerita.

Ceritanya cukup sederhana sebenarnya. Kisah anak yang hanya diasuh sang ibu-single-parent di kota Liverpool mencari sang ayah ke Amerika. Maksud Jude kesampaian. Meski sang ayah tak seperti dalam bayangan. Jude kemudian malah jatuh cinta pada Lucy (diperankan oleh Evan Rachel Wood), adik dari kenalan saat pencarian sang ayah. Kisah cinta sejoli ini, diwarnai demo, karena Lucy kemudian jadi aktivis anti perang Vietnam. Untuk menguatkan setting, sempat ada potongan kisah meninggalnya Martin Luther King.

Dengan cerita yang sesederhana itu, saya menikmati tiap adegan film berdurasi 133 menit ini karena suasana setting 60-an yang kuat terbangun plus serasa nonton “film-klip” – kalau cuma sebentar kan video klip, nah ini sepanjang film) – nya The Beatles. Sempat gak ngeh sih awalnya. Tapi saat tersadar bahwa memang film ini adalah film musikal yang banyak menggunakan lagu-lagu The Beatles, di pertengahan film saya jadi sempat menebak-nebak kaitan tokoh utama, Jude dan Lucy, dengan lagu yang terkait, yang memang kemudian muncul di menjelang akhir cerita. Hayo, sudah tahu kan, lagu yang mana?

Di akhir cerita, dugaan saya bahwa film ini adalah film jadul – karena setting dan happy ending –  ternyata salah besar. Cukup kaget saat membaca ternyata film musikal yang disutradarai Julie Taymor ini adalah buatan tahun 2007. Bahkan sempat dinominasikan meraih Oscar untuk kategori “Best Achievement in Costume Design” dan nominasi Grammy untuk kategori “Best Compilation Soundtrack Album for Motion Picture, Television or Other Visual Media”.

(kkpp, 24 September 2009)