Jika Anda biasa mengendarai roda empat di kota-kota besar, Anda tentu merasakan bagaimana susahnya mencari parkiran. Kadang harus muter-muter sepanjang area parkir yang tersedia. Kadang setelah muter-muter pun tetap tidak dapat dan terpaksa mencari area parkir lain. Tetapi suatu hari yang lain, kadang Anda sedemikian beruntungnya. Ternyata nyari parkiran itu gampang. Area parkir yang biasanya penuh, entah mengapa tiba-tiba menawarkan ruang parkir sedemikian mudah. Mujur.

Mencari parkir seperti mencari jodoh, nasehat saya sambil bergurau kepada salah satu anggota team di kantor yang baru saja melewati proses lamaran ketika kami mencari parkiran roda empat yang tersedia di Bandara Halim Perdana Kusuma beberapa hari yang lalu.

“Kok bisa, pak?”

“Gampang-gampang susah kan nyari parkiran itu.”

“Tuh lihat,” kata saya menunjuk mobil depan yang maju mundur maju mundur ala Syahrini, tetapi kemudian memutuskan untuk mencari area parkir lain. “Ia mungkin merasa pas di parkiran kosong tersebut. Setelah mencoba sekian waktu ternyata dirasakan tidak pas dan mencoba mencari parkiran lainnya. Begitu halnya dengan mencari jodoh.”

“Hahaha,” sang anggota team mulai manggut-manggut paham. “Iya pak, bener juga.”

Saya melanjutkan dengan teorema-teorema bahwa mencari jodoh mirip dengan mencari parkiran, “kadang kita melewati area parkir kosong, berharap di depan ada area parkir lain di depan sana, tetapi yang terjadi kita melewatkan parkir kosong dan tak menemukan satu area kosong pun. Atau sebaliknya, kita bersegera mengisi parkir kosong, meski tak seperti harapan, karena lokasinya terkena terik matahari misalnya, ternyata di depan masih banyak area parkir yang teduh berpayung. Mirip kan dengan mencari jodoh?”

“Bener-bener pak. Paling menyesakkan adalah sudah melewatkan area parkir kosong, kemudian belum dapat-dapat area parkir, ketika berputar melewati area kosong tadi, eh, baru saja area kosong tadi telah diisi oleh kendaraan lain. Perih pak. Berat.”

Sang anggota team rupanya bisa melanjutkan nasehat nggladrah itu sambil tertawa-tawa dan mulai memahami nasehat gak jelas dari saya.

Obrolan kami terhenti, karena kami telah mendapati area parkir dan bergegas menemui janjian kami siang itu.

Tetapi saya menyisakan beberapa nasehat nggladrah terkait parkir dan jodoh tersebut yang saya khusus saya simpan menjadi draft postingan ini. Salah satunya adalah kalau mau gampang nyari parkir ya bisa saja pakai jasa valet, tinggal serahin kunci, terima beres. Tentu ada harga yang harus dibayar. Atau mau yang lebih murah dan praktis, bisa saja, pakai taksi (dan taksi online dong), tak perlu ribet nyari parkir, tinggal pakai seperlunya. Hihihi.

Yang jelas sih, biaya parkir makin mahal. Mungkin di beberapa kota masih ada yang tarifnya flat, tapi beberapa yang sudah menerapkan tarif progressive. Bagaimana dengan biaya setelah dapat jodoh? Hehehe.

Eh, omong-omong, berapa rekor parkir terbesar kalian?

[kkpp, 07.03.2018]