Kampus NKRI, Mengapa Tidak?

Sebagaimana tradisi awal masa perkuliahan, di kampus almamater akan dipenuhi spanduk ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru. Tak ada yang membedakan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi entah mengapa kemudian saya mendapat pesan whatsapp yang mempermasalahkan tentang spanduk-spanduk selamat datang di tahun ajaran ini.

Apa yang aneh dari spanduk-spanduk tersebut? Berikut penampakannya:

Buat saya tidak ada yang aneh. Tapi entahlah, spanduk-spanduk tersebut jadi banyak dipermasalahkan dan diperbincangkan.

Tadi siang (23/8) dalam sebuah tulisan yang cukup panjang, Prof Daniel M Rosyid mengirimkannya via japri kepada saya. Menurutnya, “menyatakan ‘NKRI Harga Mati’ tidak saja dungu tapi juga ceroboh.” Rupanya saya terlalu ge-er jika tulisan itu ditujukan hanya kepada saya, karena kemudian saya juga mendapati tulisan itu dari beberapa whatsapp group (wag).

Setelah saya baca, saya cukup kaget. Pertama, tak seperti Prof Daniel yang saya kenal, beliau kali ini menggunakan term “dungu”. Term yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sangat tumpul otaknya, tidak cerdas, bebal, bodoh. Kata yang cukup kasar yang belakangan ini melekat ke seseorang yang yang menurut saya tak perlu disebutkan namanya karena malah membuatnya malah mendapatkan panggung di televisi nasional.

Kekagetan yang kedua, saya tak menemukan “NKRI harga mati” di spanduk-spanduk tersebut sebagaimana yang dipermasalahkan beliau. Saya jadi mikir, jangan-jangan beliau ini terlalu baper dengan slogan tersebut padahal nyata-nyata saya tidak menemukan di spanduk-spanduk tersebut (atau mungkin, ada spanduk lain yang dipermasalahkan? Please let me know … ).

Selain dari kekagetan itu, ada hal yang menarik dari tulisan Prof Daniel. Pertama tentang “kampus adalah pasar gagasan”. Tidak banyak dibahas, tetapi menjadi menarik buat saya karena dengan terminologi tersebut, di mana posisi mahasiswa kemudian? Sebagai objek atau sebagai subjek? Mudah-mudahan sebagai subjek. Kalau sebagai objek, malang benar nasib negeri ini di zaman kemudian. Bagaimana tidak, para penerus bangsa itu, para mahasiswa, alih-alih bertindak sebagai agen perubahan, jika sebagai objek maka mahasiswa hanyalah menjadi target market dari pedagang gagasan-gagasan. Ia hanya robot yang diprogram untuk mengikuti ideologi tertentu saja. Karenanya, saya setuju dengan kalimat di salah satu spanduk tersebut: kampus ini butuh orang cerdas yang kritis dan peduli terhadap rakyat.

Kedua tentang bentuk negara yang dipermasalahkan. Prof Daniel memberanikan diri mengusulkan sebuah negara serikat. Namanya usul, ya boleh-boleh saja. Itupun juga bukan usulan yang pertama. Tetapi buat saya pribadi, usulan itu sudah lewat di masa lalu. So yesterday kata anak zaman now. Kita pernah melaluinya dan bentuk negara serikat itu tak sampai setahun berusia.

Faktanya kemudian, yang ada hari ini ya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalaupun negeri ini masih menyebalkan dengan korupsi-korupsinya, dengan sikap mau menang sendiri dari tokoh-tokohnya, dengan fakir literasinya sehingga memilah mana hoaks dan mana tidak sedemikian sulitnya, dengan kesejahteraan yang njomplang di mana ibukota negara yang sangking sejahteranya sampai-sampai menerapkan kebijakan ganjil genap untuk meredam kemacetan dan polusi dibandingkan dengan kesejahteraan di pelosok Sabang-Merauke, Miangas-Rote, juga dengan ketakmampuan menghormati perbedaan suku, agama dan ras, ya mari kita sama-sama selesaikan hal-hal menyebalkan dari republik ini. Mari kita perjuangkan dengan apa yang kita bisa. Yang bisa dengan spanduk, ya silahkan saja. Yang bisa dengan cara lain yang lebih bagus ya monggo saja.

Jadi kalau Prof Daniel memberi judul tulisan itu dengan: “Kampus NKRI?” maka buat saya: “Kampus NKRI, Mengapa Tidak?” Lha nyatanya hari ini, kampus almamater ya berdiri di atas tanah NKRI, dibesarkan oleh keringat NKRI. Bukan yang lain.

[kkpp, 23.08.2019]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s