In memoriam: Zainal Arifin

It’s just like a blink

Nal, mestinya sempat kutunjukkan padamu, postinganku di blog ini (bisa baca di sini) yang judulnya pun paragraf awalnya mengambil dari kejadian bersamamu. Waktu itu dirimu dengan endhel-nya menuliskan namamu di sebuah daftar hadir dengan judul postingan itu. Jay. Aku ngakak waktu itu (aku lupa acaranya, mungkin acara sosialisasi Mubes II ITS, atau acara Senat Mahasiswa ITS lainnya, entahlah). Katamu penuh endhelisme: “lha mosok gak oleh … biar beda”. Aku tetap tertawa sambil memaklumi, nama Zainal Arifin cukup banyak waktu itu. Baca selengkapnya

Agatha Retnosari: Politik Jalan Sunyi

Seumur-umur nge-blog, belum sekalipun saya membuat postingan yang bersifat wawancara. Baru kepikiran sekarang.Itu pun bukan wawancara bertemu empat mata, melainkan wawancara dengan memanfaatkan fasilitas chatting via WhatsApp. Meskipun secara teknis mudah, yang agak sulit adalah menyesuaikan waktu karena bagi saya wawancara sebaiknya sejak awal telah dikondisikan pada suatu waktu yang diperjanjikan dan subyek wawancara sudah memahami bahwa chatting tersebut akan saya publish di blog ini.

Untuk wawancara yang pertama ini, adalah seorang kawan, Agatha Eka Puspita Retnosari, nama lengkapnya. Iik, begitu kami biasa memangilnya, dan ia menuliskan namanya sebagai calon legislatif DPRD Jatim, daerah pemilihan (dapil) Surabaya-Sidoarjo, dari Partai PDI Perjuangan (PDIP) nomer urut 3, dengan menggunakan nama yang lebih singkat: Agatha Retnosari. Baca selengkapnya

In Memoriam: Ir. Soetjipto

Tokoh, salah satu orang kuat (di/dari) Jawa Timur. Sebagai politisi dia punya sikap dan setia pada pilihan. Sebagai wirausahawan dia berilmu dan ‘utun’. –Fitradjaja Purnama

Insinyur yang berpolitik dan melawan. Mungkin itulah gambaran sosok Pak Tjip, yang tak berbeda dengan tokoh yang ia kagumi, Bung Karno. Selamat jalan Pak Tjip. –detik.com

Pak Tjip, begitu beliau lebih akrab dipanggil, adalah sosok politikus yang dikenal meletakkan dasar-dasar partai PDI Perjuangan. Di awal kelahirannya, PDI-P, memang tidak bisa dipisahkan dari sosok pria kelahiran Trenggalek, enampuluh enam tahun yang lalu itu. Pada masa itu, alumni ITS jurusan Teknik Sipil angkatan kedelapan (S8), memimpin DPD PDI Jawa Timur Pro Megawati melawan kepengurusan PDI hasil campur tangan rezim Orde Baru, Latief Pudjosakti. Karenanya, bagi mereka penentang rezim Orde Baru di Jawa Timur, pastilah mengakrabi istilah ‘posko pandegiling’, yaitu salah satu kawasan di Surabaya dimana pak Tjip berkantor sebagai wirausahawan di bidang konstruksi yang kemudian digunakan sebagai posko menggalang kekuatan rakyat melawan rezim.

Di Posko Pandegiling itulah, saya pertama kali bertemu beliau secara langsung. Waktu itu, saya dan seorang kawan, mewawancarai beliau untuk salah satu artikel yang akan kami terbitkan di media pers mahasiswa, “1/2 tiang”, di medio 1998. Wawancara antara mahasiswa dengan kakak seniornya, walau kami terpisah usia yang cukup jauh. Di sela-sela kesibukan eskalasi dunia politik Indonesia yang tengah bergejolak pada waktu itu, beliau tetap menyempatkan waktu untuk wawancara yang ternyata banyak berisi pesan agar mahasiswa seharusnya senantiasa setia pada peran agen perubahan.

***

Ir. Soetjipto, yang meninggal hari Kamis (24/11) kemarin sore di RS Darmo Surabaya dan dimakamkan di TPU Keputih Surabaya dengan sederhana keesokan harinya, adalah termasuk salah satu dari sedikit alumni ITS yang berkiprah di dunia politik. Bahkan dari yang sedikit itu, bisa dikatakan beliaulah yang terbaik. Meniti karir di PDI-P, beliau sempat menjabat sebagai Sekjen DPP PDI-P periode 2000-2005, kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI pada periode 1999-2004, dan sempat mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah Jawa Timur 2009.

Meski beliau lebih dikenal karena karir politiknya, di profesinya di dunia konstruksi beliau juga mencatatkan prestasi menemukan teknologi pondasi sarang laba-laba bersama Ir. Ryantori. Atas temuannya ini, pak Tjip mendapatkan penghargaan Upakarti.

Sungguh, sebuah keteladanan bagi kita semua. Tentang keberpihakan, tentang kesetiaan pada pilihan, tentang profesionalitas.

Selamat jalan, Pak Tjip!

[kkpp, 25.11.2011]

Sila mampir juga ke:

In Memoriam Ir Sutjipto (Pak Tjip)

Ngirit

Perlunya penggunaan bahan bakar minyak (bbm) bagi kehidupan sehari-hari kita, memang tidak dapat dipungkiri. Saking pentingnya, negara mengambil peran utama untuk penggunaan bbm tersebut. Sayangnya, akhir-akhir ini sepertinya penyelenggara negara tergagap bagaimana mengurusinya. Sebagaimana dilansir VOANews.com (baca di sini), institusi-institusi terkait malah terlihat berbeda sikap menanggapi subsidi bbm yang besarannya kian membebani anggaran negara.

Bagaimanapun, menaikkan harga bbm dianggap bukan opsi karena sama sekali bukan isu yang populis. Bagi penganut madzab pencitraan, isu tidak populis haruslah disingkirkan jauh-jauh. Sebagaimana penganut genre ‘anak gaul’, tampil dengan dandanan konvensional juga harus disingkirkan jauh-jauh.

Kembali ke soal kegagapan tadi, beberapa hari terakhir, kita malah dicekoki berita bahwa penggunaan premium bagi kalangan mampu diseret ke hal yang halal-haram. Terlepas mana yang bener, apakah si wartawan yang lebay dalam mengutip seorang kyai di Majelis Ulama Indonesia, atau memang benar ada upaya dari penyelenggara negara untuk melibatkan lembaga keagamaan agar umat lebih mempercayai upaya penyelenggara negara tersebut.

Entahlah. Tetapi jika benar yang kedua, maka benar-benar sang penyelenggara negara tak mampu mengelola bbm kita. Setelah beredarnya spanduk himbauan tentang premium adalah diperuntukkan bagi kalangan yang tidak mampu yang dipasang di berbagai SPBU, –tetapi sebagaimana biasa, kita tak cukup sekedar dihimbau–. Entah mengapa, kemudian malah melibatkan polemik dengan lembaga keagamaan.

Kita mungkin bertanya, dimana sebenarnya fungsi kementrian ESDM? Tidak adakah arahan yang lebih konsepsional? Bagaimana juga fungsi PERTAMINA, badan usaha milik negara yang ditugasi untuk itu? Sekedar sapi perahan bagi yang mumpung jadi penguasa?

***

Masih ingat Shell? Yang stasiun-stasiun pengisi bahan bakarnya mulai tumbuh di Jakarta Raya dan Jawa Timur untuk menyaingi hegemoni stasiun-stasiun SPBU punya Pertamina?

Shell ini memang perusahaan global berkantor pusat di Belanda dengan berinduk pada Royal Dutch Shell Plc, perusahaan yang berstatus legal di Inggris dan Wales.

Di level SPBU, selama ini Pertamina cukup antisipatif dengan merubah layanannya yang lebih ramah, kepastian takaran, serta adanya fasilitas penunjang di SPBU-nya. Tak salah bila Pertamina masih menjadi pilihan masyarakat. Atau, apakah masyarakat memilih Pertamina semata harganya yang lebih miring daripada Shell, karena masih ada subsidi bagi kalangan tidak mampu? Per awal Juli 2011 misalnya, Shell mematok harga di kisaran Rp. 8,500 per liter untuk kategori super extra di daerah Jakarta Raya, sementara harga Pertamax di kisaran Rp. 8,300 per liter dan premium Rp. 4,500 per liter.

Berdasarkan hasil kinerja yang disetor pada RUPS-nya Juni kemarin, Pertamina telah memprestasikan laba sebesar 16,7 7 trilyun rupiah. Itupun karena ada kerugian di bbm subsidi dan bisnis LPG non subsidi (12 kg dan 50 kg). Keduanya senilai 5,74 trilyun. Andai tidak ada kerugian, Pertamina berharap bisa membukukan laba sebesar 22,51 trilyun.

Di RUPS itu pula, Pertamina mengubah visinya dari semula “Perusahaan Migas Nasional Kelas Dunia” menjadi “Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia”. Dengan perubahan visi ini Pertamina berkomitmen untuk merambah juga untuk mengembangkan energi alternatif serta energi baru dan terbarukan.

Lantas, salahkah bila kemudian membandingkan vis a vis, Pertamina versus Shell? Sama-sama memvisikan dirinya sebagai pemain kelas dunia lho. Pertamina telah beroperasi di 15 negara, Shell beraoperasi di lebih 90 negara.

Pertamina telah berkomitmen untuk mengembangkan energi alternatif dan terbarukan, Shell telah melangkah membuat ajang tahunan yang melibatkan para pelajar dan anak muda dari penjuru dunia, nama event-nya adalah Shell Eco Marathon.

***

Shell Eco Marathon, adalah ajang bagi perguruan tinggi dan siswa sekolah menengah tingkat atas untuk bertarung mendesain, membuat dan mengetes mobil yang paling irit penggunaan bahan bakarnya. Ajang ini diselenggarakan untuk tiga kawasan: Amerika, Eropa dan Asia. Untuk kawasan Eropa, penyelenggaraan tahun 2011 ini adalah penyelenggaraan ke-27 kalinya.

Ada dua kategori yang diperlombakan: kelas Prototype dan juga kelas UrbanConcept. Kedua kategori diikuti oleh 94 team dari 12 negara.

Beda dua kategori tersebut, di kelas UrbanConcept, lebih menitikberatkan pada kendaraan yang dapat digunakan di jalan-jalan. Sedangkan keduanya, bisa menggunakan mesin bakar dalam (internal combustion engine) berbahan bakar gasoline (EN 228), diesel fuel (EN 590), Shell Gas To Liquid (GTL), fatty acid methyl esther (FAME), ethanol E100, juga bisa menggunakan mobil listrik (Hydrogen, Solar, ‘Plug-In’ Electricity).

Untuk kawasan Asia, penyelenggaraan tahun 2011 dilaksanakan di Sirkuit Sepang, Malaysia pada tanggal 6-9 Juli 2011. Di kelas prototype, team dari Thailand memcatat prestasi 2.213,4 km pada penggunaan 1 liter ethanol, setara dari Kuala Lumpur (Malaysia) ke Chiang Mai (Thailand).

Bagaimana dengan anak negeri? Jika team Thailand menjuarai kategori Prototype, justru di kelas UrbanConcept, team adik-adik Mesin ITS menjuarainya dengan membukukan prestasi 149,8 km per liter FAME.

Kebayang pakai satu liter bisa untuk sekian ratus bahkan ribu kilometer? Ngirit kan?

Prestasi yang membanggakan. Sungguh!

Jadi, kalo yang muda saja bisa ngurusin bahan bakar dengan irit, mengapa para pemangku kebijakan soal bbm tidak bisa? Atau biarkan yang muda saja yang urus?

[kkpp, 11.07.2011]

In Memoriam: Ir. I Wayan Lingga Indaya, MT

Jumat itu tertanggal 13 Juli 2007. Friday  the thirteenth, kata orang-orang.

Pagi itu maksud hati hendak posting ke milis marine engineering its, sebuah doa untuk dosen wali saya dulu yang sejak Rabu kemarin (11/7) masuk RSUD Dr Sutomo karena sakit jantung. E-mail berisi doa belum sempat terkirim, malah ternyata yang saya dapati adalah berita duka bahwa beliau telah berpulang.

Ya sesungguhnya yang berasal dariNya akan kembali kepadaNya.

Saya sempat menitikkan airmata. Bagaimanapun, beliaulah salah satu yang mendorong saya untuk menyelesaikan studi S1 beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat benar, pertanyaan beliau setiap awal semester manakala saya mengajukan lembar FRS: “Ada yang berkurang?”

Saya selalu menimpali dengan ketawa kecut, karena sudah beberapa semester sejak semester 8, FRS saya selalu terisi sama persis: tugas akhir (6 sks), perancangan kamar mesin 2 (3 sks), tugas rencana sistem propulsi (1 sks) dan kerja praktek (1 sks). Ya saya sempat jalan di tempat di perkuliahan.

Beliau tidak banyak menanyakan mengapa tak ada satupun yang berubah di FRS dari semester ke semester. Mungkin beliau menyimpan rapat-rapat pertanyaan yang biasanya ditanyakan pada saat perwalian yang meski singkat namun padat sebagaimana semester-semester yang lalu. Entahlah saya tak tahu pasti. Dulu beliau sangat rewel dan tanya detil tentang ini itu. Tapi mungkin beliau telah mendapat jawaban mengapa tak ada perubahan sejak saya bertemu beliau di rapat IKA-ITS (Ikatan Alumni ITS) dan SM-ITS (Senat Mahasiswa ITS) di awal 1998, pada sebuah pertemuan mambahas kondisi Indonesia yang mulai memanas. Waktu itu beliau tampak terkejut begitu tahu yang mewakili SM-ITS adalah saya, salah satu mahasiswa perwaliannya. Saya pun juga terkejut, beliau ada di jajaran pengurus IKA-ITS.

Dalam episode yang lain, saya teringat saat beliau bertanya pada sesi tanya jawab sidang P2 tugas akhir. Pada sidang P2 ini, di jurusan kami, mahasiswa yang mengambil tugas akhir akan dievaluasi perkembangannya, apakah layak untuk mengikuti P3 (sidang akhir) atau tidak. Biasanya P2 akan menghasilkan  keputusan apakah bisa lanjut ke P3, mendapatkan perpanjangan waktu pengerjaan, harus mengganti topik tugas akhir karena tidak bisa terselesaikan atau sudah lebih dari waktu yang disyaratkan (2 semester).

Pada waktu itu, saya menyampaikan permohonan untuk perpanjangan waktu pengerjaan meski tugas tersebut telah dua semester tapi belum juga terselesaikan. Dua semester sebelumnya saya pernah mengganti topik tugas akhir karena tak selesai. Pada sidang yang dipimpin oleh Kajur saya waktu itu, Bapak Dr. Ir. A.A. Masroeri, pak Wayan yang kebetulan yang juga jadi penguji menyela untuk mengajukan pertanyaan pertama kali. Dan, apa yang ditanyakan beliau?

Sungguh saya tak pernah menyangka tatkala beliau bertanya seperti ini: “Hari ini Soeharto masuk rumah sakit. Menurut Anda, apakah yang sebenarnya terjadi? Apakah ini merupakan konspirasi Habibie-Wiranto untuk menyelamatkan Suharto?”

Glodagh!!!

Saya kaget. Lantas dengan setengah terbata menanyakan ke Ketua Sidang saat itu, apakah saya harus menjawab pertanyaan tersebut karena tidak ada relevansinya dengan topik tugas akhir saya? Lantas dengan terpaksa saya kemudian menjawab pertanyaan tersebut, setelah Pak Masroeri mengangguk mengiyakan.

Sesaat setelah mendengarkan paparan atas pertanyaan tersebut, pak Wayan berkata dengan lantang, “Bapak-bapak anggota sidang P2 yang terhormat, saya dosen wali mahasiswa tersebut! Saya tahu benar siapa dia dan apa yang dia kerjakan selama ini. Karena itu, saya tanya pertanyaan tadi dan saya tanya lagi (sembari beliau menoleh kepada saya): Masih bersedia kah Anda menyelesaikan studi Anda?”

Saya mengangguk tak pasti dan selanjutnya episode berlanjut sedemikian rupa sehingga saya dapat menuntaskan tugas akhir saya dengan topik yang sama meski harus berganti dosen pembimbing dari Bapak Ir. Ketut Buda Artana MSc (kini beliau menjadi Profesor pertama di jurusan kami) yang melanjutkan studi ke Jepang dengan Bapak Ir. Aguk Zuhdi MF, MEng yang pernah menjadi dosen wali saya sebelum digantikan pak Wayan.

Begitulah. Kenangan terhadap pak Wayan tersebut yang membuat saya menggebu untuk me-rearrange sebuah meeting dengan klien dan menggantinya untuk hadir dalam upacara pelepasan jenazah di Plaza KPA dr. Angka, Kampus ITS, lepas tengah hari Jumat 13 Juli 2007 yang terik.

Saat menatap foto beliau, beliau tampak kurus dengan kumis hitam tebal kini telah banyak dihiasi uban. Tak terasa saya menitikkan air mata. Bagaimanapun sejak kelulusan, dalam beberapa kali kesempatan ke kampus, tak sekalipun saya berkesempatan untuk berjumpa beliau.

Selamat jalan, Pak Wayan. Ijinkan saya menyimpan kenangan ini di hati saya.

[kkpp, 18.07.2007]