It’s just like a blink

Nal, mestinya sempat kutunjukkan padamu, postinganku di blog ini (bisa baca di sini) yang judulnya pun paragraf awalnya mengambil dari kejadian bersamamu. Waktu itu dirimu dengan endhel-nya menuliskan namamu di sebuah daftar hadir dengan judul postingan itu. Jay. Aku ngakak waktu itu (aku lupa acaranya, mungkin acara sosialisasi Mubes II ITS, atau acara Senat Mahasiswa ITS lainnya, entahlah). Katamu penuh endhelisme: “lha mosok gak oleh … biar beda”. Aku tetap tertawa sambil memaklumi, nama Zainal Arifin cukup banyak waktu itu. Ada Zainal Arifin Ketuanya KOPMA. Ada juga Zainal Arifin dari Matematika yang biasa dipanggil Pak Je. Belum lagi Zainal, Zaenal, Zainul ataupun Jaenal yang lain.

Yo wes, lek gak oleh diceluk Jay aku diceluk ae Zet“, tukasmu ngotot waktu itu.

Nal, meski namamu pasaran, hihihi sorry sering mengatakan begitu, sosokmu justru sebaliknya. Tampil beda. Tidak saja secara fisik cukup tinggi gagah tetapi juga kadang bisa slenge’an, bisa tampil tegas untuk hal-hal yang prinsip. Karenanya, dirimu adalah salah satu kolega senator Senat Mahasiswa ITS (SMITS) yang bisa diandalkan di era hiruk pikuk reformasi. Dirimu di komisi Organisasi, sedangkan aku di komisi Pendidikan. Irisan kita adalah di sidang-sidang pleno SMITS atau urusan reformasi dan belakangan untuk urusan penyelenggaraan Mubes II ITS 1998. Jauh sebelum era itu, kita sudah lama saling mengenal sejak jaman masa keemasan Asrama Mahasiswa ITS, asrama yang dikelola dari, oleh dan untuk mahasiswa. Biar beda blok, teman seangkatanmu banyak di blokku, Genjik aka Hanas Baihaki, Hang Bejat aka M Agus Misbahuddin, Ngaju aka Buyung Kurniawan, Kuping aka Karno pun juga teman sedaerahmu, Mupet aka Fulyulis Indriyanto adalah magnet buatmu untuk sering menjadikan blok kami sebagai pemberhentian.

Dari kawan Genjik dan kawan Bejat pula sebuah cerita terdengar kabar keberadaanmu yang lama hilang dari orbit. Lebih gemuk dan mestinya jika kita ketemu kita bisa saling tertawa mentertawakan kelebihan berat badan kita dibandingkan jaman kuliah dulu. Sayang, kita belum sempat saling mentertawakan hingga akhirnya kawan Genjik pula yang Rabu siang itu (13/9) menelpon mengabarkan kepulanganmu kepada Sang Illahi.

Sedih benar. Belum sempat ketemu, jangankan mengantarkanmu, aku hanya bisa bertemu nisanmu di sore jelang maghrib.

Selamat jalan, Nal. Selesai sudah tugasmu di dunia. Semoga Allah memberikan ampunan dan rahmat atasmu. 

Kami yang antri menunggu antrian panggilan pulang ke hadliratNya hanya bisa mengenang kebaikan-kebaikanmu termasuk juga keheroikanmu saat melawan begal sepeda motor di gelapnya jalan raya ITS di suatu malam, juga ketakraguanmu untuk berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan barisan mahasiswa melawan tirani Orde Baru.

Oia, di penutup tulisan ini, kiranya akan aku copas, postingan statusmu pas di beberapa hari setelah ulang tahun terakhirmu sambil mengunggah foto keluargamu:

43th…
It’s just like a blink..

One man dream..
It’s about touch of the truth..!!!

Stay on ur feet..

… Halfway to heaven.

Yeah, it’s just like a blink. Selamat jalan, Kawan!

[kkpp, 16.09.2017]

 

 

Satu pemikiran pada “In memoriam: Zainal Arifin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s