In Memoriam: Ir. Soetjipto

Tokoh, salah satu orang kuat (di/dari) Jawa Timur. Sebagai politisi dia punya sikap dan setia pada pilihan. Sebagai wirausahawan dia berilmu dan ‘utun’. –Fitradjaja Purnama

Insinyur yang berpolitik dan melawan. Mungkin itulah gambaran sosok Pak Tjip, yang tak berbeda dengan tokoh yang ia kagumi, Bung Karno. Selamat jalan Pak Tjip. –detik.com

Pak Tjip, begitu beliau lebih akrab dipanggil, adalah sosok politikus yang dikenal meletakkan dasar-dasar partai PDI Perjuangan. Di awal kelahirannya, PDI-P, memang tidak bisa dipisahkan dari sosok pria kelahiran Trenggalek, enampuluh enam tahun yang lalu itu. Pada masa itu, alumni ITS jurusan Teknik Sipil angkatan kedelapan (S8), memimpin DPD PDI Jawa Timur Pro Megawati melawan kepengurusan PDI hasil campur tangan rezim Orde Baru, Latief Pudjosakti. Karenanya, bagi mereka penentang rezim Orde Baru di Jawa Timur, pastilah mengakrabi istilah ‘posko pandegiling’, yaitu salah satu kawasan di Surabaya dimana pak Tjip berkantor sebagai wirausahawan di bidang konstruksi yang kemudian digunakan sebagai posko menggalang kekuatan rakyat melawan rezim.

Di Posko Pandegiling itulah, saya pertama kali bertemu beliau secara langsung. Waktu itu, saya dan seorang kawan, mewawancarai beliau untuk salah satu artikel yang akan kami terbitkan di media pers mahasiswa, “1/2 tiang”, di medio 1998. Wawancara antara mahasiswa dengan kakak seniornya, walau kami terpisah usia yang cukup jauh. Di sela-sela kesibukan eskalasi dunia politik Indonesia yang tengah bergejolak pada waktu itu, beliau tetap menyempatkan waktu untuk wawancara yang ternyata banyak berisi pesan agar mahasiswa seharusnya senantiasa setia pada peran agen perubahan.

***

Ir. Soetjipto, yang meninggal hari Kamis (24/11) kemarin sore di RS Darmo Surabaya dan dimakamkan di TPU Keputih Surabaya dengan sederhana keesokan harinya, adalah termasuk salah satu dari sedikit alumni ITS yang berkiprah di dunia politik. Bahkan dari yang sedikit itu, bisa dikatakan beliaulah yang terbaik. Meniti karir di PDI-P, beliau sempat menjabat sebagai Sekjen DPP PDI-P periode 2000-2005, kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI pada periode 1999-2004, dan sempat mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah Jawa Timur 2009.

Meski beliau lebih dikenal karena karir politiknya, di profesinya di dunia konstruksi beliau juga mencatatkan prestasi menemukan teknologi pondasi sarang laba-laba bersama Ir. Ryantori. Atas temuannya ini, pak Tjip mendapatkan penghargaan Upakarti.

Sungguh, sebuah keteladanan bagi kita semua. Tentang keberpihakan, tentang kesetiaan pada pilihan, tentang profesionalitas.

Selamat jalan, Pak Tjip!

[kkpp, 25.11.2011]

Sila mampir juga ke:

In Memoriam Ir Sutjipto (Pak Tjip)

In Memoriam: Erry Susanto

“if everything has been written down, so why worry”

Sungguh tak menyangka jika status di profile Blackberry Messenger  punya kawan Erry adalah pratanda dirinya pamit mendahului kami menghadap Ilahi. Status yang semestinya dengan mudah dicek karena ada di genggaman tangan, sungguh tidak saya ketahui dan tidak saya sadari seandainya saja tidak ada pesan dari kawan Kamil, yang tengah belajar di Prancis, me-message via FB pada hari Selasa (15/3) siang itu. Pesan dari Kamil singkat dan mengejutkan:  permintaan untuk sholat ghoib untuk Erry telah berpulang sejak dua hari sebelumnya, Minggu, 13 Maret 2011. Deg!

Bagaimanapun, meski kematian adalah sebuah kepastian, kabar tentang kematian sering menyentak. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

***

Pertengahan tahun 1995, kami beberapa orang eks penghuni Asrama Mahasiswa ITS Blok C mencari kost karena masa huni yang sudah mencapai ambang batas. Akhirnya kami memilih kost yang masih dalam pembangunan hingga lantai tiga. Kami memilih di sana, karena ada banyak kamar yang bisa menampung kami yang memungkinkan kami tetap bersama.

Beberapa dari kami menempati lantai dua dan beberapa lainnya di lantai tiga. Sedangkan di lantai satu yang hanya ada tiga kamar saja, sudah dihuni oleh anak baru. Salah satunya adalah Erry, yang kemudian kami kenal baru masuk di jurusan Teknik Sipil dan berasal dari Jakarta.

Di kost-kost-an -yang kemudian kami namakan SuperKenchot saat kami getol bermain bola melawan komunitas kost lainnya- awalnya Erry termasuk pendiam. Ibarat gong yang tidak berbunyi bila tidak ditabuh. Mungkin karena kendala bahasa. Maklum, kami lebih sering berbahasa Jawa sebagai pengantar bahasa kost. Tetapi di kemudian hari, Erry adalah salah satu icon kost-kostan yang hampir senantiasa ada di setiap kegiatan bersama. Muter film, nonton dan maen sepakbola, diskusi dan gojlok-gojlokan, gitaran, saling pinjam buku, saling pinjam komputer, saling pinjam motor, aktivitas nyari sahur bersama, … ah, terlalu banyak untuk diceritakan satu persatu. Bayangkan, sejak 1995 hingga kelulusan masing-masing. Yang tak terlupakan: kadang kami memanggilnya: Mu … (kependekan dari ‘Lemu’).

***

Setelah tak ada kabar sekian lama, kemudian kami sempat rajin ber-YM-an saat Erry mengerjakan proyek di Nusa Tenggara. Hingga kemudian berita tentang sakitnya hingga dirawat di Jakarta. Sakit yang lumayan langka: Miastenia Gravis (Myasthenia Gravis) yaitu  gangguan autoimun yang merusak komunikasi antara syaraf dan otot, mengakibatkan peristiwa kelemahan otot. Myasthenia gravis bisa diakibatkan dari kerusakan pada sistem kekebalan. Tentang sakitnya ini, Erry pernah nulis di blognya. Bisa dibaca di sini.

***

19 September 2010.

“Aku nang Suroboyo. Ketemuan yuk”

“Lho, wes tahes tah?”

“Lek gak tahes mosok iso nyampek kene…. hehehe. Iki aku ambek Kokoh”

“Oke, meluncur”

Erry di malam cangkrukan itu

Jadilah malam itu kami cangkruk bertiga sebagai SuperKenchoters menikmati udara malam di sebuah kedai STMJ di jalan Sulawesi Surabaya. Ngobrol ngalor ngidul mengenang masa yang berlalu. Menanyakan dan mengabarkan tentang kawan-kawan lainnya. Bercerita tentang aktivitasnya yang sedang menangani proyek di Yogya, anak teman seangkatannya yang ikut Indonesia Mencari Bakat, tentang perkembangan sepakbola, tentang kamera dan fotografi. Tentang banyak hal yang tak tersampaikan secara maya melalui YM, FB dan BBM.

Seusai cangkrukan yang berakhir karena gerimis di dini hari, Erry men-update status FB-nya sebagai berikut:

Past is the past, but deep down inside you know you miss a part of it

Tak sangka, itulah pertemuan fisik terakhir dengannya. Sebuah janji untuk bertemu di Jakarta tak pernah kesampaian. Selamat jalan, brother! Semoga ampunan Allah atas semua dosa dan kesalahanmu. Cepat atau lambat, kami bakal menyusulmu dan kemudian kami belajar menghadapi kematian setegar dirimu.

[kkpp, 17.03.2011]

In Memoriam: Barito Wirajasa

Jauh sebelum masa popularitas futsal, di dekat kantin kami, dulu ada sebuah petak tanah nganggur. Dekat telepon umum koin, serta diapit oleh parkiran sepeda motor MIPA dan parkiran kantin. Entah siapa yang memulai ide nakal itu, tiba-tiba saja kami menyulap lapangan itu menjadi lapangan sepakbola. Tentu saja dengan ukuran yang sangat jauh dari memadai. Tiang gawangnya dari bambu yang tidak simetris. Masih banyak batu, rumput yang sangat tidak rata, bahkan menjadi kubangan lumpur saat hujan datang. Kadang kalau kami kehilangan keseimbangan, banyak yang terperosok di got sebelah parkiran sepeda motor, dan tentu saja menabrak pagar parkiran yang tak seberapa tinggi.

Tapi kami dulu sangat menyukai lapangan kecil itu. Setiap sore, bahkan juga tak peduli bila sore itu adalah kala menunggu buka puasa ramadhan, kawan-kawan banyak yang antri. Sedemikian banyak sehingga kami pun tak peduli bila kemudian yang bermain di lapangan melebihi jumlah kesebelasan yang normal. Sementara yang berpuas sekedar jadi penonton juga tak kalah banyak.

Ya, di sepetak tanah itu, telah menjelma menjadi perluasan bagi kantin kami yang egaliter. Tak ada beda angkatan, tak ada beda ideologi. Semua disatukan keinginan yang sama: berbagi keriangan serta berbagi keringat. Semua berhak berteriak, semua berhak menendang, semua berhak tertawa bila ada kejadian lucu. Tak peduli bahwa yang diketawain adalah senior pun jagoan-jagoan kegiatan mahasiswa.

Toto, seusai acara futsal yang digelar IKA ITS Jakarta Raya, setahun yang lalu. (Courtessy: Nelly R)

Di sana pula saya mengenal Barito lebih dekat. Bukan semata sebagai kawan yang sama-sama turut dalam barisan demo 98-an.

Barito adalah anak elektro angkatan 97. Saya dan dia berselisih empat angkatan, beda jurusan dan fakultas.

Sosoknya yang setinggi 180an, tentu saja menonjol di lapangan yang sepetak itu. Saat bubar acara sepakbola, biasanya Barito melepas kaosnya yang basah kuyup sembari melintas kantin menuju sekretariat Siklus (unit kegiatan pecinta lingkungan hidup) yang terletak di salah satu pojok kantin. Dirinya memang anggota Siklus, bareng satu angkatan dengan beberapa kawan yang lain, diantaranya adalah kawan Tenno dan Superbagong.

Gayanya menyelempangkan kaos yang basah usai sepakbola, persis dengan gayanya menyelempangkan jas almamater usai berdemo. Dan tentu saja, senyum nyengirnya dan becandaannya tak pernah lepas.

***

Ramadhan 1431 ini, tiba-tiba saja berita tentang kawan Barito, yang biasa kami panggil Toto, segera menyebar. Dari kawan-kawan Siklus, kemudian beredar dari milis ke milis, dan tentu saja di media sosial macam facebook dan twitter. Dikabarkan, Toto divonis menderita leukimia yang senantiasa membutuhkan donor darah AB+. Asuransi yang meng-cover biaya kesehatannya sudah melebih batas, sehingga kawan-kawan alumni Siklus memprakarsai aksi solidaritas untuknya.

Hingga memang Sang Pemilik Waktu memanggilnya mendahului kami, Sabtu 28 Agustus  2010, menjelang pukul tujuh malam waktu RS Dharmais Jakarta. Inna lillahi wa inna ilahi rojiun.

***

Beberapa tahun yang lalu, obrolan empat mata kami yang terakhir adalah di saat Toto menunggu antrian wawancara di kantor saya. Cukup lama, karena Toto mendapat giliran akhir.

Dengan mudah Toto melalui tes itu dan kemudian bergabung dengan kantor saya tetapi di Jakarta. Lepas masa kontrak, Toto kemudian ditempatkan di kantor cabang Balikpapan. Hingga saat itu kami cuma bertelepon meski saya dan dirinya berbeda group dan cabang.

Di Balikpapan Toto menemukan jodohnya. Waktu itu saya hanya dapat membaca undangan pernikahan yang dikirimkan ke kantor, tanpa bisa menghadiri acara resepsi. Setelah itu, Toto kemudian berpindah ke lain ladang penghidupan, hingga kemudian terdengar Toto sudah kembali ke Jakarta.

Tak ada yang menyangka kehendak-Nya, bahwa di Jakarta itulah Toto mengakhiri kewajiban di dunia, dan kemudian dimakamkan di Palembang.

Selamat jalan, Kawan. Semoga Allah memberikan ampunan dan tempat terbaik di sisiNya.

(kkpp, 29.08.2010)

In memoriam: Prof. Ir. Hadi Sutrisno

“He’s my best friend,” ujar Hermawan Kartajaya, salah satu maestro dan suhu marketing yang telah world-wide, sembari mengaitkan dua jari tangan melambangkan kedekatan hubungannya dan almarhum Prof. Ir. Hadi Sutrisno.

Menjelang tengah malam itu, sebelum pergantian hari dari Selasa ke Rabu, tanggal 23 Februari 2010, sang maestro sengaja meluangkan waktu dari kesibukan untuk terbang dari Jakarta dan keesokan paginya langsung terbang kembali ke Jakarta, semata untuk melakukan penghormatan terakhir untuk Tris, panggilan akrabnya untuk Prof. Ir. Hadi Sutrisno, kawannya semasa menjadi mahasiswa Teknik Elektro ITS, yang meninggal sore tadi di Grha Amerta, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Sebagaimana Sang Maestro yang merasa kehilangan seorang teman baik. Begitu halnya kami, yang mengangkrabi aktivitas kemahasiswaan semasa beliau menjabat PR III di era Rektor ITS masih dijabat oleh Prof. Ir. Oedjoe Djoeriaman MSc. Phd., (Rektor ITS sebelum Prof. Ir. Soegiono, Prof. Dr. Ir. Muh. Nuh, DEA, dan Rektor ITS saat ini Prof. Ir. Priyo Suprobo MS PhD). Kami kehilangan seorang pengayom, seorang bapak dan seorang kawan. Ya, seorang kawan. Karena beliau tak pernah menempatkan diri sebagai pejabat. Sosoknya, sangat mudah ditemui. Bahkan tanpa janji sekalipun. Kadang malah nyamperin di panitia kegiatan tanpa protokoler, pun menemani begadang para panitia.

Tak ada yang menyangsikan bahwasanya di jaman beliau menjabat, dunia kemahasiswaan di ITS seolah menemukan jaman Rennaisance. Beliau senantiasa mendorong mahasiswa, yang notabene anak-didiknya, sebagaimana konsep-konsep sang Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani serta konsep ke-pamong-an yang ngemong sang anak.

Beliau senantiasa mendorong mahasiswa untuk kritis dan kreatif, meski waktu itu sebagai Pembantu Rektor salah satu PTN, intervensi-intervensi Orde Baru kerap terasa. Sering beliau mengatakan, “Wis, pura-pura aku gak eruh ae, awakmu mlaku terus …“, saat kegiatan kemahasiswaan terbentur kerasnya birokrasi.

Di jaman beliau, bidang kemahasiswaan ditandai dengan berbagai fenomena: kelahiran organisasi kemahasiswaan di level insitut pasca NKK/BKK, kentalnya nuansa wawasan integralistik ITS, Bakti Kampus dan LKMM yang lebih mencerahkan daripada penataran P4 120 jam, upaya penciptaan student goverment, pengambilalihan asrama mahasiswa ITS (demo pertamaku, hehehe) dan koperasi mahasiswa, laris manisnya Loedroek Tjap Toegoe Pahlawan, kegiatan-kegiatan di segala lini kemahasiswaan, merebaknya jargon Arek ITS CUK (cerdas ulet kreatif), dan jangan lupa: Mobil Tenaga Surya Widya Wahana. Serta yang lebih mendasar adalah berseminya kesadaran bahwa mahasiswalah agent of change yang dibutuhkan negara ini.

Ah, kenangan akan itu tak akan pernah terlupa. Saya bukan mahasiswa yang secara langsung ngangsu kawruh di jurusan di mana beliau mengajar, pun persinggungan saya hanyalah sebatas „menangi“ beliau saat saya hanya sebagai panitia kegiatan di unit kegiatan dan himpunan, sebagai peserta LKMM dan Bakti Kampus (yang sempat diboikot), sebagai penonton aksi-aksi seni dan diskusi-diskusi di kantin ITS yang seringkali beliau ikut nimbrung. Namun bangunan dunia kemahasiswaan di masa beliau itulah, yang justru mengantarkan saya, dan juga kawan-kawan segenerasi menjadi manusia Indonesia yang lebih integral. Baca selengkapnya

In Memoriam: Ir. I Wayan Lingga Indaya, MT

Jumat itu tertanggal 13 Juli 2007. Friday  the thirteenth, kata orang-orang.

Pagi itu maksud hati hendak posting ke milis marine engineering its, sebuah doa untuk dosen wali saya dulu yang sejak Rabu kemarin (11/7) masuk RSUD Dr Sutomo karena sakit jantung. E-mail berisi doa belum sempat terkirim, malah ternyata yang saya dapati adalah berita duka bahwa beliau telah berpulang.

Ya sesungguhnya yang berasal dariNya akan kembali kepadaNya.

Saya sempat menitikkan airmata. Bagaimanapun, beliaulah salah satu yang mendorong saya untuk menyelesaikan studi S1 beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat benar, pertanyaan beliau setiap awal semester manakala saya mengajukan lembar FRS: “Ada yang berkurang?”

Saya selalu menimpali dengan ketawa kecut, karena sudah beberapa semester sejak semester 8, FRS saya selalu terisi sama persis: tugas akhir (6 sks), perancangan kamar mesin 2 (3 sks), tugas rencana sistem propulsi (1 sks) dan kerja praktek (1 sks). Ya saya sempat jalan di tempat di perkuliahan.

Beliau tidak banyak menanyakan mengapa tak ada satupun yang berubah di FRS dari semester ke semester. Mungkin beliau menyimpan rapat-rapat pertanyaan yang biasanya ditanyakan pada saat perwalian yang meski singkat namun padat sebagaimana semester-semester yang lalu. Entahlah saya tak tahu pasti. Dulu beliau sangat rewel dan tanya detil tentang ini itu. Tapi mungkin beliau telah mendapat jawaban mengapa tak ada perubahan sejak saya bertemu beliau di rapat IKA-ITS (Ikatan Alumni ITS) dan SM-ITS (Senat Mahasiswa ITS) di awal 1998, pada sebuah pertemuan mambahas kondisi Indonesia yang mulai memanas. Waktu itu beliau tampak terkejut begitu tahu yang mewakili SM-ITS adalah saya, salah satu mahasiswa perwaliannya. Saya pun juga terkejut, beliau ada di jajaran pengurus IKA-ITS.

Dalam episode yang lain, saya teringat saat beliau bertanya pada sesi tanya jawab sidang P2 tugas akhir. Pada sidang P2 ini, di jurusan kami, mahasiswa yang mengambil tugas akhir akan dievaluasi perkembangannya, apakah layak untuk mengikuti P3 (sidang akhir) atau tidak. Biasanya P2 akan menghasilkan  keputusan apakah bisa lanjut ke P3, mendapatkan perpanjangan waktu pengerjaan, harus mengganti topik tugas akhir karena tidak bisa terselesaikan atau sudah lebih dari waktu yang disyaratkan (2 semester).

Pada waktu itu, saya menyampaikan permohonan untuk perpanjangan waktu pengerjaan meski tugas tersebut telah dua semester tapi belum juga terselesaikan. Dua semester sebelumnya saya pernah mengganti topik tugas akhir karena tak selesai. Pada sidang yang dipimpin oleh Kajur saya waktu itu, Bapak Dr. Ir. A.A. Masroeri, pak Wayan yang kebetulan yang juga jadi penguji menyela untuk mengajukan pertanyaan pertama kali. Dan, apa yang ditanyakan beliau?

Sungguh saya tak pernah menyangka tatkala beliau bertanya seperti ini: “Hari ini Soeharto masuk rumah sakit. Menurut Anda, apakah yang sebenarnya terjadi? Apakah ini merupakan konspirasi Habibie-Wiranto untuk menyelamatkan Suharto?”

Glodagh!!!

Saya kaget. Lantas dengan setengah terbata menanyakan ke Ketua Sidang saat itu, apakah saya harus menjawab pertanyaan tersebut karena tidak ada relevansinya dengan topik tugas akhir saya? Lantas dengan terpaksa saya kemudian menjawab pertanyaan tersebut, setelah Pak Masroeri mengangguk mengiyakan.

Sesaat setelah mendengarkan paparan atas pertanyaan tersebut, pak Wayan berkata dengan lantang, “Bapak-bapak anggota sidang P2 yang terhormat, saya dosen wali mahasiswa tersebut! Saya tahu benar siapa dia dan apa yang dia kerjakan selama ini. Karena itu, saya tanya pertanyaan tadi dan saya tanya lagi (sembari beliau menoleh kepada saya): Masih bersedia kah Anda menyelesaikan studi Anda?”

Saya mengangguk tak pasti dan selanjutnya episode berlanjut sedemikian rupa sehingga saya dapat menuntaskan tugas akhir saya dengan topik yang sama meski harus berganti dosen pembimbing dari Bapak Ir. Ketut Buda Artana MSc (kini beliau menjadi Profesor pertama di jurusan kami) yang melanjutkan studi ke Jepang dengan Bapak Ir. Aguk Zuhdi MF, MEng yang pernah menjadi dosen wali saya sebelum digantikan pak Wayan.

Begitulah. Kenangan terhadap pak Wayan tersebut yang membuat saya menggebu untuk me-rearrange sebuah meeting dengan klien dan menggantinya untuk hadir dalam upacara pelepasan jenazah di Plaza KPA dr. Angka, Kampus ITS, lepas tengah hari Jumat 13 Juli 2007 yang terik.

Saat menatap foto beliau, beliau tampak kurus dengan kumis hitam tebal kini telah banyak dihiasi uban. Tak terasa saya menitikkan air mata. Bagaimanapun sejak kelulusan, dalam beberapa kali kesempatan ke kampus, tak sekalipun saya berkesempatan untuk berjumpa beliau.

Selamat jalan, Pak Wayan. Ijinkan saya menyimpan kenangan ini di hati saya.

[kkpp, 18.07.2007]