Perjalanan kehidupan adalah rute atas berbagai pilihan. Disadari atau tidak, terpaksa atau tidak, rasional ataupun tidak, kita menjalani kehidupan saat ini karena pilihan-pilihan yang telah kita buat di masa lalu. Demikian halnya kehidupan kita di masa datang adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa kini.

Perjalanan kehidupan memang terdiri atas persimpangan-persimpangan jalan. Kita (tinggal) memilih ke kiri, atau ke kanan, atau tetap lurus.

Ada yang merasa puas dan bangga atas pilihan di masa lalu. Tapi tak jarang ada yang merasa menyesal atas pilihan-pilihan itu.

Seandainya dulu saya memilih itu, maka kini akan begini. Seandainya dulu saya memilih ini, maka kini akan begitu.

Begitulah. Bahkan, banyak kisah yang berkisah tentang perjalanan kembali ke masa lalu untuk mengubah apa yang terjadi masa kini. Legenda Naga, misalnya, mengkisahkan sepasang anak sekolah di Jepang, Shiro dan Masumi, tiba-tiba kembali ke masa legenda Sam Kok dan kemudian terlibat di dalam ruwetnya suasana peperangan dengan sejumlah kekhawatiran sejarah akan menjadi berbelok. Juga serial Quantum Leap, yang berkisah tentang ilmuwan Sam Beckett (diperankan Scott Bakula) yang bekerja untuk proyek rahasia tentang mesin waktu dan kemudian berkorban sebagai kelinci percobaannya sendiri.

Sedikit berbeda dengan lompatan ke masa lalu, adalah kisah dari film The Vow,  tahun produksi 2012. Paige, sang tokoh wanita, karena kecelakaan kemudian menderita lupa ingatan. Bahkan lupa kalau dirinya telah menikah dengan Leo. Karena lupa ingatan itu, perjalanan kehidupan Paige seolah kembali melompat ke masa lalu saat dirinya masih tinggal bersama keluarga serta tertarik dengan Jeremy. Paige kemudian kembali bersekolah hukum, kemudian menjalani pilihan yang sama persis dengan pilihan yang telah dipilihnya sebelum kejadian lupa ingatan. Pilihan keluar dari sekolah hukum, pilihan meninggalkan keluarga, pilihan ke sekolah seni, serta pilihan untuk memutuskan hubungan dengan Jeremy dan memilih Leo sebagai pasangannya. Kisah yang terasa filmis. Tetapi kisah Paige ini adalah kisah berdasar kisah nyata dari Kim and Krickitt Carpenter.

Bagaimana jika kemudian kita (tiba-tiba) melompati sang waktu? Adakah pilihan-pilihan hidup kita yang akan kita ubah? Atau kita memilih lintasan pilihan yang sama?

***

Dalam sebuah perjalanan kerja (seringkali saya harus menyetir sendirian beberapa jam agar sampai ke tempat customer), pernah terbersit tentang pilihan-pilihan yang pernah saya buat di masa lalu dan telah menyebabkan bagaimana kehidupan saya saat ini berjalan. Tetapi pada saat yang sama, kehadiran kisah tentang sebuah nama pada linimasa twitter, sontak membuat saya merasa tersudutkan.

Nama itu, Paul Cumming. Nama yang meramaikan linimasa di twitter pada pertengahan Juni tahun 2013 yang lalu. Sebulan jelang kedatangan Liverpool pertama kalinya di Indonesia.

***

cumming2Paul Anthony Cumming, pria kelahiran London ini telah memilih Indonesia sebagai negaranya. Pemilik akun @papuansoccer, jauh sebelum hingar bingar naturalisasi pemain sepakbola menghiasi berita sepakbola nasional, dengan kesadaran sendiri telah memilih menanggalkan kewarganegaraan lamanya dan menjadi WNI, warga negara Indonesia. Pernah mendengar kejayaan Perseman Manokwari di tahun 1980-an? Ya, dialah pelatih yang membesut Perseman Manokwari pada saat itu.

Pilihan yang dibuat Paul Cumming pilihan yang sulit bukan?

Pilihan meninggalkan tanah kelahiran beserta handai taulan untuk tinggal dan menjadi warga negara di negara nun jauh di sana, adalah pilihan yang tak semua orang berani mengambilnya. Pilihan yang tidak serta merta dan membutuhkan proses yang panjang. Sejak Paul Cumming datang ke Indonesia pada tahun 1980, Pengadilan Negeri Bandar Lampung baru mengetokkan palunya untuk pengesahannya pada 10 November 1999.

Lantas bagaimana dengan konsekuensi atas pilihannya berpindah kewarganegaraan tersebut? Apakah Paul Cumming kemudian membuat hujan emas di negeri orang? Apakah Paul Cumming kemudian bermandi madu atas pilihannya tersebut? Sayangnya tidak.

Saya yang hanya membaca kisahnya di sela perjalanan dinas tersebut (bisa baca kisahnya di sini dan di sini) serta atas cerita beberapa kawan Bigreds, mbrebes mili, menitikkan air mata dibuatnya.

Paul Cumming, dengan baju klub kesayangannya, Liverpool (Aqwan/PFI/detiksport)
Paul Cumming, dengan baju klub kesayangannya, Liverpool (Aqwan/PFI/detiksport)

Tak kuasa membayangkan apa jadinya jika itu saya sendiri yang mengalami pahit getir kisah yang pernah dijalanin Paul Cumming. Lantas bertanya dalam hati: apakah saya pantas menyesal dengan pilihan-pilihan yang pernah saya buat di masa lalu?

Rupanya saya harus belajar banyak kepada Paul, Tentang bagaimana menjalani kehidupan yang kadang tak seperti kita impikan pada saat membuat pilihan. Tentang keteguhan pada konsekuensi jalan kehidupan atas pilihan yang telah dilakukan. Dan juga tentang sebuah cinta tanpa syarat.

Beberapa alinea di kisah Paul Cumming, pria kelahiran 8 Agustus 1947, dituliskan detik.sport seperti ini:

Andai Paul masih menjadi warga negara Inggris, di usianya yang sudah menginjak 66 tahun ini dia akan bisa menikmati akhir pekan yang manis. Jika masih jadi warga negara Inggris, dia bisa menikmati tunjangan masa tua dari pemerintah sebesar 50 poundsterling per minggu. Dengan nilai tukar sekarang, angka itu sekitar 3 juta rupiah per bulan. Jumlah itu belum ditambah dengan biaya transportasi dan kesehatan yang gratis serta mendapatkan tunjangan khusus untuk biaya rumah.

Dan itu semua bisa diperolehnya dengan cuma-cuma di masa tua, sebagaimana para pembayar pajak lainnya jika sudah memasuki usia lanjut. Bandingkan dengan 650 ribu yang diperolehnya dari usaha menyewakan play station.

Dan yang pasti, Paul bisa berjalan-jalan keliling London, menonton pertandingan Liga Inggris secara langsung di stadion, atau sesekali pergi ke Anfield untuk menonton kesebelasan Liverpool yang sangat dia sukai. Bukan seperti sekarang yang hanya menonton Liverpool melawan Chelsea pada kompetisi game Winning Eleven di ruangan 2 x 3 meter di belakang rumahnya.

Dia sendiri bukannya tak ingin untuk sesekali pulang ke Inggris, sekadar menjumpai handai taulannya yang masih hidup. Tapi nyaris mustahil dia pergi ke Inggris. Jangankan untuk berangkat ke sana, untuk sekadar berbicara dengan saudara lewat telepon pun Paul tak sanggup. Hingga hari ini, sudah hampir 38 tahun ia tak kembali ke Inggris.

Andai bisa bercakap-cakap langsung dengan Paul, saya ingin menanyakan beberapa hal padanya: menyesalkah dirinya membuat keputusan pindah ke Indonesia dan menjadi warganegara Indonesia? Jika dimungkinkan, apakah dirinya menginginkan sebuah mesin waktu untuk bisa mengubah beberapa kejadian?

Ya, sebab saya ingin belajar padanya, bagaimana caranya berdamai dengan sesal … Tetapi tidak ding. dari kisah ini saja, saya sudah bisa mencoba berdamai dengan sesal.

[kkpp, 04.04.2014]

*catatan:

tulisan ini cukup lama mengendap sebagai draft, dan tak kunjung terselesaikan sejak 21 Juni 2013.

Beberapa waktu kemudian saat di GBK, manakala LFC datang, saya sempat bertemu bahkan bersama-sama dengan saudara-saudara Bigreds se-Indonesia nge-chants mengelu-ngelukan Paul saat antri hendak masuk stadion… masih inget, bagaimana wajah Paul tersipu tak sangka mendapatkan sambutan semeriah itu.

Paul, YNWA!!

3 pemikiran pada “Berdamai dengan Sesal

  1. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Trims atas dukungannya buat suami saya ( Paul Cumming ) Alhamdulillah Paul semakin banyak kemajuan kesehatannya…salam kami untuk Bigreds dari Paul dan Fifing

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s