Stay CalmAkhir Maret 2014 ini, Liga Inggris telah menyelesaikan gameweek ke-32. Siapa yang menyangka di awal musim jika yang berada di posisi puncak klasemen sementara pada gameweek ke-32 ini adalah Liverpool? Memang, sebagai penggemar dan suporter Liverpool, kami senantiasa berharap yang terbaik bagi kesebelasan kami yang berdiri sejak tahun 1892 tersebut. Tetapi mendapati Liverpool berada sebagai pemuncak pada musim 2013/2014 dan berada pada jalur perebutan tahta juara tentunya adalah sebuah bonus tersendiri.

Coba amati capaian Liverpool beberapa musim belakangan sebagai berikut: 2012/13 – posisi 7, 2011/12 – posisi 8, 2010/11 – posisi 6, 2009/10 – posisi 7, 2008/09 – posisi 2, 2007/08 – posisi 4, 2006/07 – posisi 3, 2005/06 – posisi 3, dan pada musim Liverpool menahbiskan diri sebagai Juara Eropa untuk kelima kalinya yaitu pada tahun 2004/05 Liverpool terlempar dari empat besar alias hanya menduduki posisi 5.

Tak cukup meyakinkan para pengamat bukan? Salah satunya bisa dibaca di sini.

Alih-alih berada pada jalur perebutan juara, berada pada empat besar juga bukan target yang di atas kertas gampang. Duo Manchester, trio London: Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspurs, serta seteru sekota: Everton adalah lawan yang lebih difavoritkan. Tetapi itu di awal musim.

Saat musim berjalan, siapa yang mengira perjalanan Liverpool di tahun kedua kepemimpinan Brendan Rodgers berjalan cukup gemilang. Usai pre-season dengan sambutan penuh hingar bingar oleh para suporter di Thailand, Indonesia dan Australia, Liverpool menang tiga kali berturut dengan skor yang sama: 1-0, masing-masing atas Stoke (kandang), Aston Villa (tandang) dan Manchester United (kandang). Kemudian ditahan imbang Swansea 2-2, dan dikalahkan Southampton di Anfield, 1-0.

Kelima pertandingan di awal tersebut cukup dapat diterima. Tanpa kehadiran Luis Suarez, 10 poin dari lima pertandingan bisa dibilang cukup memadai. Kehadiran Luis Suarez kemudian makin mempertajam daya gedor Liverpool. Liverpool kemudian menang 3-1 atas Sunderland (tandang), serta skor yang sama atas Crystal Palace (kandang). Kemudian ditahan imbang Newcastle dengan skor 2-2 pada saat tandang, dilanjutkan menang 4-1 atas West Bromwich Albion sebelum kalah untuk kedua kalinya. Kali ini kekalahan atas Arsenal (tandang) dengan dua gol tanpa balas.

Usai kekalahan atas Arsenal, Liverpool kemudian menang atas Fulham, 4-0. Ditahan imbang pada merseyside derby dengan enam gol yang saling berbalasan, Liverpool kemudian takluk di The KC Stadium, menyerah 1-3 atas Hull City. Tetapi setelahnya, Liverpool tampil perkasa: menang 5-1 atas Norwich, 4-1 atas West Ham, 5-0 atas Spurs dan 3-1 atas Cardiff City. Liverpool berada di puncak klasemen.

Tetapi usai Natal, Liverpool dikalahkan secara berurutan saat menjalani dua laga tandang secara berurutan pula: Manchester City dan Chelsea dengan skor yang sama: 1-2. Dua kekalahan akhir tahun yang melengserkan Liverpool dari klasemen sekaligus (terlalu mudah) bagi pengamat untuk secara langsung menempatkan Liverpool di luar jalur perebutan juara,

Di tahun 2014, punggawa Brendan Rodgers Liverpool melanjutkan catatan ketajaman serangannya sebagaimana sebelum dua kekalahan tersebut diderita. Membalas kekalahan atas Hull: 2-0, menang di kandang Stoke 5-3, ditahan Aston Villa 2-2 di Anfield, melumat seteru sekota, Everton, 4-0. Dilanjutkan ditahan imbang West Bromwich 1-1. langkah Liverpool tak tertahan: membalas kekalahan atas Arsenal 5-1, menang tipis di kandang Fulham 3-2, menang tipis atas Swansea 4-3, membalas kekalahan atas Southampton 3-0. Men-double Manchester United dengan tiga gol tanpa balas, dan dilanjutkan tiga kemenangan beruntun: 6-3 atas Cardiff, 2-1 atas Sunderland dan 4-0 atas Tottenham Hotspurs.

Praktis, Liverpool bermain dengan ketajaman yang lebih menakutkan dibandingkan musim-musim sebelumnya. Terakhir Liverpool bermain tanpa mencetak gol adalah pada saat kalah dari Arsenal, 2 November 2013. Ketajaman Liverpool pun dibuktikan bahwa hingga gameweek ke-32, top scorer diisi oleh dua pemain Liverpool: Luis Suarez (29 gol) dan Daniel Sturridge (20 gol) di posisi kedua. Luis Suarez sudah memecahkan rekor top scorer untuk Liverpool yang sebelumnya tercatat atas Robbie Fowler (1995/96), dan kini mengincar top scorer sepanjang premier league digelar yaitu 34 gol punya Andrew “Andy” Cole (1993/94) dan Alan Shearer (1994/95).

Keduanya, Suarez dan Sturridge, bahkan juga bisa saja melampaui duo striker tertajam sepanjang premier league: Peter Beardsley dan Andy Cole (Newcastle United, 1993/94) dengan mencetak 55 gol (Beardsley – 21; Cole – 34). Hanya enam gol yang dibutuhkan oleh Suarez dan atau Sturridge di enam laga tersisa.

Jadi salahkah jika kemudian para penggemar dan suporter Liverpool berharap lebih dibandingkan dengan harapan di awal musim tadinya?

Sebagaimana dikutip dari BBC Sports, Brendan Rodgers menyatakan, “The dream is for our supporters, they want to win the title. It has been a long time but it’s not in my thinking. We just need to prepare and do well, and if we do that, we will win games.”

Ya, dengan enam laga tersisa, harapan dan impian bisa saja terwujud. Mari kita tengok bagaimana musim ini tersisa. Manchester City masih menyisakan delapan laga sisa: Southampton (5/4, kandang), Liverpool (13/4, tandang), Sunderland (16/4, kandang), West Brom (21/4, kandang), Crystal Palace (27/4, tandang), Everton (3/5, tandang), Aston Villa (7/5, kandang) dan West Ham (11/5, kandang).

Sedangkan Chelsea menyisakan Stoke (5/4, kandang), Swansea (13/4, tandang), Sunderland (20/4, kandang), Liverpool (27/4, tandang), Norwich (3/5, kandang), dan Cardiff (11/5, tandang).

Sementara Liverpool menyisakan West Ham (6/4, tandang), Manchester City (13/4, kandang), Norwich (20/4, tandang), Chelsea (27/4, kandang), Crystal Palace (3/5, tandang), dan Newcastle (11/5, kandang).

Dengan sisa laga seperti itu, Liverpool harus tak boleh terpeleset. Bahkan seandainya balas dendam atas dua seteru Manchester City dan Chelsea berhasil ditunaikan, sepertinya masih berharap City sempat terpeleset di salah satu pertandingan lainnya. Entah oleh Southampton atau Everton. Atau bisa juga oleh Sunderland yang berusaha lolos dari degradasi.

Tapi memang lebih baik menikmati saja dari laga ke laga. Toh apapun hasil akhirnya, sepertinya sudah melebihi harapan saya di awal musim. Serta tidak ada salahnya (tetap) berdoa dan bersiap menjadi saksi sejarah baru …

[kkpp, 01.04.2014]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s