Puisi
-
dulu katanya cukup dengan menjual martabak nyatanya tak cukup. lalu, gadaikan saja martabat lupa, kacang pada kulit demi kuasa yang tamak selintas, kawan jadi lawan, lawan jadi sahabat apa itu norma, apa itu etika, mengerat apa itu balak demi dahaga, puaskan saja! reguk sebelum kelak kisahmu tamat [kkpp, 10.11.2023] Read more
-
Kita,hanya menunggu senjasaat gelap mendekapmembuai damai terlelap Hai,adakah kau di sanamenyapaku dalam doa yang tercekat? [kkpp, 27.04.2023] Read more
-
sedang ramai kisah sadap menyadap bukan kisah pohon karet bukan pula kisah pohon dadap kuping menguping bukan sembarang kuping karet bisik-bisik jadi berisik malah penuh ratap Read more
-
dan senja, adalah saat cahaya menitipkan luka dan pesona pada langit tak berbatas sebagaimana harapan yang tak terbatas Read more
-
Seberapa sering berita tentang kematian datang kepada kita? Ia adalah kewajaran. Ia juga sebuah kepastian. Kadang mengagetkan. Kadang justru malah membawa kisah mengagumkan. Kelak, jika sudah tiba waktuku, akan datang juga padamu. Berita kematianku. Akankah berita itu adalah berita yang mengagetkan atau justru berita yang selama ini kamu harapkan? Akankah berita itu adalah berita yang Read more
-
* satu * perempuan berpayung langit kelabu berdiri di ujung labirin di antara remah hujan malu-malu dengan menyembunyikan sedu, dititipkannya pesan kepada sang hujan please … pergilah … . pergilah, sampai dirimu mampu meluruskan (apa) yang menyilang, meluaskan (apa) yang sempit dan mengurai (apa) yang tersimpul” Read more
-
Maaf ya sedulur, maaf ya temen-temen, jika dalam beberapa hari mendatang mendapati picpro dan avatar saya di fesbuk, twitter, whatsapp sudah saya ganti dengan picpro terbaru. Picpro yang saya generate khusus untuk menunjukkan keberpihakan saya pada pilpres 2014 kali ini, tepat 30 hari jelang hari-h. Read more
-
Aku kehilangan jejak. Bulan sepotong tak bertuan tiba-tiba tak tampak di orbitnya. Orbit yang kukuntit sejak kemarin, saat mentari lupa menyapa senja. Read more
-
Aku tak mengenalnya. Hanya saja suara itu datang berkali-kali membisikkan aroma kematian. Suara yang datang saat lelap terjaga. Suara yang datang saat jaga terlelap. Lamat tapi terdengar amat jelas. Berulang terngiang, tak sekali dua. Aku tak mengenalnya. Perihal aroma kematian yang dibisikkan saat lelap terjaga. Perihal aroma kematian yang dibisikkan saat jaga terlelap. Perihal aroma kematian yang Read more
-
Melanjutkan yang terdahulu. (Baca di sini). #26 – 27/11/2010 | berKACA-kaca MATAnya. Dipecat tepat saat anaknya sekarat @fiksimini #27 – 27/11/2010 | KORAN GOSIP. Tiap ada kebohongan, font-nya makin mengecil. Walhasil, selalu ada mikroskop sebagai bonus buat pembaca. @fiksimini #28 – 27/11/2010 | LABIRIN NGINGAS. Dimana-mana perayaan. Jalan ditutup sana-sini. Tersesat di tengah keramaian. #29 Read more
-
Anda rajin nge-tweet? Atau update status di FB? Bila iya, pernahkah Anda membaca lagi tweet Anda yang lalu atau update status tersebut di masa yang lalu? Bagi sebagian orang, ngetweet atau meng-update status ibarat nyampah. Dibuang dan tak ditengok kembali. Plung-lap. Tetapi ada juga yang sesekali membacanya lagi. Menikmati sampah karena ada yang menarik di Read more
-
(satu) aku bertanya tentang kelahiran dan kematian sebagaimana pengelana lensa bermain rana mengabadikan fajar dan senja bukan tentang apa dan siapa bukan pula tentang kapan dan mengapa tetapi tentang semburat jingga dan jelaga malam tentang semburat duka dan jelaga rahasia (dua) aku bertanya kepada fajar dan senja sebagaimana pengelana lensa mengabadikan kelahiran dan kematian tentang Read more
-
Sepasukan rinai hujan mengintai datangnya malam. berdebam jatuh satu demi satu berhitung bumi tanpa lelah: satu, dua, tiga, sepuluh, seratus, seribu, sejuta, … Malam semakin larut, bumi tak kunjung selesai berhitung. Maka, pernahkah engkau berhitung akan nikmatNya? (kkpp, 11.04.2010) Read more
-
berjingkrak jangkrik dalam kelam malam menyanyi menanti dusta kata penguasa tak kuasa empati telah mati lobby ialah robi uang bergelimang menghamba bagai sang domba srigala berhala jangkrik berjingkrak tubuh merapuh lunglai terkulai menanti sosok esok kapan penguasa berkuasa benar ialah tenar adil bukanlah bedil berani tuk nurani [kkpp, 04.04.08] Read more
-
Tiga tahun yang lalu, hening sesaat setelah subuh tangismu yang pertama memecah semburat jingga Takkan pernah terlupa bagaimana beribu rasa tak tergambarkan oleh tubuh tatapmu yang pertama bertaut memenuhi rongga jiwa Tak terasa kini engkau telah belajar menapak jalan kehidupan kini engkau telah belajar menyapa sesama langkah-langkah kecilmu telah menuntunku untuk lebih bijak memahami kehidupan sapamu Read more
