Tutup

In memoriam: Sutini

September 1993. Pintu pagar depan terkunci. Tak ada minicab Bapak. Thithut yang biasa menjaga pagar, sudah aku kuburkan dua bulan yang lalu tepat di bawah pohon kamboja di halaman depan. Sepi. Kemudian aku memutar rumah besar yang digunakan sebagai gedung sekolah TK, siapa tahu pintu belakang terbuka. Ternyata dalam keadaan terkunci juga. Tak ada tanda-tanda aktivitas Bapak, Ibu juga adik-adik. Pesan di kertas yang biasanya menjadi kebiasaan di keluarga kami juga tidak aku temukan. Nasib, deh. Ya salah sendiri, tetiba pulang ke Malang tanpa pemberitahuan, semata menuruti firasat keinginan ke Yogya tapi uang saku tak cukup, jadilah pulang saja. Perjalanan dari kampus di Surabaya sepertinya sia-sia.

“Lho, le, kapan teko?” 

Suara dari kejauhan itu menyapaku yang berdiri mematung di depan pintu belakang.

“Nembe, bude.” Bergegas aku menghampiri beliau.  Bude Tin, kami bertiga bersaudara biasa membahasakan beliau. Nama lengkapnya Sutini. Ibu dari Mas Yus, Mbak Rin dan Tina. Beliau kolega Bapak dan Ibu, yang tinggal di rumah sebelah di perumahan yang disediakan oleh Perguruan Tamansiswa Malang untuk pamong-pamongnya. Sejak saya lahir, beliau dan keluarganya, menjadi tetangga terdekat yang saking dekatnya terasa seperti saudara. Bahkan ketika kami pindah dari perumahan itu, ternyata kami bersebelahan kembali.

“Ora dikandhani mau yen Bapak Ibukmu nang Yogya?”

Aku menggeleng.

“Lha kok moro-moro iso mulih Malang?”

Aku bingung menjelaskan mengapa aku tiba-tiba pulang Malang padahal perkuliahan semester satu baru saja dimulai. Bude langsung meneruskan tanpa menunggu penjelasanku.

“Wes, rasah kemrungsung. Rasah nyusul Yogya. Nang kene wae. Simbah kakungmu wes seda, ora nutut yen arep nguber nyarekake. Iki mau bude dititipi kunci.”

Penjelasan singkat dari Bude Tin langsung menjawab perasaan tidak enak yang saya rasakan sejak dari Surabaya.

“Wes maem durung?”

“Sampun bude, kuncinipun kemawon.”

***

Juni 2018. Ramadan hari ke-27. Jakarta terasa lengang. Beberapa warteg dan rumah makan padang yang biasanya membuka layanan sahur, sudah pada tutup. Masjid sebelah kos-kosan masih memutar puji-pujian jelang imsak. Kaget, tetiba notifikasi whatsapp mengirimkan tanda di jam sepagi itu. Pasti penting karena semua notifikasi untuk group dinon-aktifkan. Hanya pesan langsung yang masih memberikan notifikasi singkat: “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun … bude tin sedo, pagi ini jam 4.”

Sedih. Sedihnya lagi tidak bisa ikut mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhir. Hanya doa dari hati yang terdalam saya titipkan dalam sholat, subuh itu. Lebaran kali ini, tak lagi bertemu beliau. Biasanya, saat kami berkunjung berlebaran pada kesempatan pertama, beliau selalu bersemangat menawar-nawarkan kue dan panganan lebaran hingga membuat kami tak kuasa menolak. Persis sebagaimana dari satu lebaran ke lebaran berikutnya, sejak kami kecil.

Sugeng tindak, Bude Tin. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa, serta melimpahkan rahmatNya …

[kkpp, 12.06.2018]

 

About the author tattock

menyukai kata dan perjalanan memperluas cakrawala. lalu sejenak menepi untuk sekedar membingkai hidup yang tak hakiki.

All posts by tattock →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: