Dibeli dan terbeli. Mimpi yang dibeli dan mimpi yang terbeli. Seperti kisah di lagu Iwan Fals. Jika tak bisa dibeli lantas dicuri.

Begitulah. Ada harga untuk menebus mimpi. Ada harga yang mesti dipertukarkan.

Sebaliknya, banyak juga yang merasa sudah mempunyai segala lantas bisa merasa membeli apa saja. Sedangkan yang tak punya segala lantas berupaya dengan segala cara termasuk percaya begitu saja untuk menggandakan uang agar berlipat dalam waktu singkat. Seperti kisah Dimas Kanjeng yang sedang ramai dibicarakan belakangan ini.

Loyalitas bisa dibeli. Loyalitas bisa terbeli.

Jabatan bisa dibeli. Jabatan bisa terbeli.

Ijazah bisa dibeli. Ijazah bisa terbeli.

Apalagi yang bisa disematkan dengan kata ‘dibeli’ dan ‘terbeli’? Sebut saja. Iman? Aqidah? Cinta? Jodoh? Keadilan? Pengadilan? Pertemanan? Persahabatan?

Lha bagaimana coba, surat ijin saja yang mestinya mempunyai tolok ukur jelas dan terukur bisa disematkan dengan kedua kata itu.

Pun halnya follower di jagad twitter dan instagram bisa dibeli. Eh, tapi belum pernah ding, dengar istilah follower yang terbeli …

***

Pagi itu (22/10) si bungsu mengajak mampir ke Indomaret. Dibandingkan dengan minimarket satunya, sepertinya kami berdua lebih sering ke Indomaret sejak kami bersama-sama punya kegemaran mengumpulkan hotwheels, mainan die-cast mobil-mobilan yang gampang ditemukan di sana beberapa tahun terakhir ini.

Meski tak selengkap bila langsung nanya ke kawan-kawan kolektor, tetap saja berburu dari satu toko ke toko yang lain adalah bagian paling seru dari kegemaran ini. Si bungsu dengan incerannya. Saya dengan incaran yang berbeda. Toko pagi itu tak menyisakan banyak koleksi. Cuma kebetulan ada yang sedang saya incar untuk melengkapi koleksi yang sudah ada sebelumnya.

hotwheel.JPG

Mbak Kasir terlihat panik saat saat sang mainan itu di-scan dan di layar muncul pesan tak sebagaimana biasanya. Sang mbak segera memanggil sang kawan.

“Iya, pak. Mohon maaf untuk yang ini tidak bisa diproses,” sang kawan yang lebih senior menjelaskan.

“Kok bisa begitu,” protes saya.

“Iya, pak. Mohon maaf. Bagaimana lagi, di system bilang seperti itu.”

“Gak ada cara lain?” saya mencari alternatif sebagaimana kalau pas jelang tengah malam biasanya ada cara offline-nya.

“Gak berani pak. Nanti saya melanggar standar kerja. Saya yang kena.”

Saya menyerah. Masak sih, karena urusan hotwheels yang gak seberapa ini kemudian saya jadi menyusahkan orang. Mungkin ia akan kena peringatan, mungkin ia akan mendapatkan penilaian buruk, mungkin berpengaruh juga atas pendapatannya kelak.

Saya menyerah. Harganya terbeli. Dompet juga tidak tertinggal. Apa daya, untuk beberapa model idaman tersebut ternyata tidak ada di sistem. Sementara hotwheels yang lain tidak ada masalah.

Bagaimana lagi. Keinginan ada, kemampuan ada, sedangkan sistem dan juga integritas pelaksana sistem kukuh, saya bisa apa. Masak ya saya mau menodong, mengancam dan mencuri demi keinginan saya.

Saya mestinya malah angkat topi kepada keduanya untuk tak menyalahi dan mengakali sistem yang mereka anut dan percaya. Bagaimanapun karena kedua mas dan mbak Indomaret-nya saya malah merasa diingatkan untuk tak jumawa, bahwa nyatanya biar semua keinginan memiliki ada disertai kemampuan untuk itu nyatanya tak semua hal bisa terwujudkan.

[kkpp, 23.10.2016]

Satu pemikiran pada “Tidak Semua (hal) Bisa Dibeli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s