Tutup

Twitter pun Berubah

Melalui blog resminya (bisa baca di sini), minggu pertama November ini, Twitter mengumumkan penambahan karakter di postingannya yang semula hanya 140 karakter menjadi dua kali lipatnya. 280 karakter. Semula, perubahan ini telah diujicobakan Twitter sejak beberapa bulan yang lalu. Saya termasuk yang beruntung menikmati perubahan itu di awal masa coba.

Apa yang berubah? Mungkin lebih enak sih, ketika nge-tweet ternyata melebihi 140 karakter, tidak perlu mikir lagi mengedit pilihan kata atau bagaimana menyingkat kata-kata agar bisa muat dalam sekali postingan. Pun, jika harus mention sana sini. Tetapi saya termasuk yang suka dengan versi lama karena dengan keterbatasan 140 karakter itulah mengapa kemudian saya lebih banyak aktif ngoceh di twitter daripada di facebook. Saya pernah menuliskan tentang kelebihan twitter ini hampir tujuh tahun yang lalu (bisa baca di sini). Sebuah kelebihan karena keterbatasan.

Kelebihan karena keterbatasan. Tentangnya, saya jadi ingat sebuah tes yang pernah saya ikuti. Memecah 1 kalimat menjadi 2 kalimat, memecah 1  kalimat menjadi 3 kalimat, dan seterusnya, hingga memecah 1 kalimat menjadi  7 kalimat. Lega tes itu selesai, masih ada tes berikutnya yang juga memusingkan, menggabungkan 2 kalimat menjadi 1 kalimat, 3 kalimat menjadi 1 kalimat, dan seterusnya, hingga 7 kalimat menjadi 1 kalimat.

Begitulah, kembali ke topik, twitter yang sudah mapan pun ternyata bisa berubah. Bukan perubahan yang serta merta tetapi perubahan yang sudah dipersiapkan melalui riset dan uji coba sebagaimana dinyatakan oleh Aliza Rosen, product manager Twitter, sebagaimana di-link di awal paragraf tadi.

Lantas, jika kita sebagai pengguna apa yang bisa kita kerjakan? Berdemo? Nyinyirin twitter? Berganti aplikasi? Atau sekedar membiasakan diri dengan perubahan tersebut? Membiasakan diri dengan tidak menyingkat kata mungkin perlu, tetapi menulis dengan tak monoton lagi lebih menantang.

Untuk yang memilih yang terakhir, ada trik menulis yang saya temukan via @risyianamuthia yang memposting tulisan Gary Provost, sebagai berikut:

This sentence has five words. Here are five more words. Five-word sentences are fine. But several together become monotonous. Listen to what is happening. The writing is getting boring. The sound of it drones. It’s like a stuck record. The ear demands some variety.

Now listen. I vary the sentence length, and I create music. Music. The writing sings. It has a little pleasant rhythm, a lilt, a harmony. I use short sentence. And I use sentences of medium length. And sometimes when I am certain the reader is rested, I will engage him with a sentence of considerable length, a sentence that burns with energy and builds with all the impetus of a crescendo, the roll of the drums, the crash of the cymbals — sounds that say listen to this, is important.

So write with combination of short, medium, and long sentences. Create a sound that pleases the reader’s ear. Don’t just write words. Write music.

Gary, antum sungguh jenius.

[kkpp, 08.11.2017]

 

About the author tattock

menyukai kata dan perjalanan memperluas cakrawala. lalu sejenak menepi untuk sekedar membingkai hidup yang tak hakiki.

All posts by tattock →

One Comment

  1. Agak telat sih, tapi saya emang dari dulu ga suka Twitter, mungkin trik tweets Trump lebih ngena, such a genius untuk soalan Twitter dia mah hahahaha

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: