Indonesiana

Pencuri yang Budiman

Di sebuah sentra batik saya menemukan tulisan di atas. Cukup menarik. Himbauan yang tersirat bisa saja disampaikan secara ‘to the point‘, bisa juga disampaikan dengan cara menakut-nakuti, seperti himbauan yang saya pernah temui di tempat-tempat lain. Tetapi¬† yang ini beda. Narasinya menggunakan eufemisme berbalut majas ironi. Baca lebih lanjut

Standar
Social Media

Twitter pun Berubah

Melalui blog resminya (bisa baca di sini), minggu pertama November ini, Twitter mengumumkan penambahan karakter di postingannya yang semula hanya 140 karakter menjadi dua kali lipatnya. 280 karakter. Semula, perubahan ini telah diujicobakan Twitter sejak beberapa bulan yang lalu. Saya termasuk yang beruntung menikmati perubahan itu di awal masa coba.

Apa yang berubah? Mungkin lebih enak sih, ketika nge-tweet ternyata melebihi 140 karakter, tidak perlu mikir lagi mengedit pilihan kata atau bagaimana menyingkat kata-kata agar bisa muat dalam sekali postingan. Pun, jika harus mention sana sini. Tetapi saya termasuk yang suka dengan versi lama karena dengan keterbatasan 140 karakter itulah mengapa kemudian saya lebih banyak aktif ngoceh di twitter daripada di facebook. Saya pernah menuliskan tentang kelebihan twitter ini hampir tujuh tahun yang lalu (bisa baca di sini). Sebuah kelebihan karena keterbatasan. Baca lebih lanjut

Standar
Kisah Kehidupan

Ukur(an) dan Ukur(lah)

If you can’t measure it, you can’t manage it ~ Peter Drucker

Jika Anda biasa mengemudi, pernahkah Anda menengok speedometer di depan Anda? Bayangkan, bagaimana jika Anda kemudian mengemudi sebuah kendaraan tanpa speedometer? Apakah ada yang berbeda antara mengemudi dengan speedometer dengan mengemudi tanpa speedometer?

Bagaimana dengan odometer yang juga merupakan kelengkapan standar dari kendaraan selain speedometer? Pernahkah Anda menengoknya barang sesaat? Baca lebih lanjut

Standar