Tutup

Pencuri yang Budiman

Di sebuah sentra batik saya menemukan tulisan di atas. Cukup menarik. Himbauan yang tersirat bisa saja disampaikan secara ‘to the point‘, bisa juga disampaikan dengan cara menakut-nakuti, seperti himbauan yang saya pernah temui di tempat-tempat lain. Tetapi  yang ini beda. Narasinya menggunakan eufemisme berbalut majas ironi.

Lengkapnya sebagai berikut:

Sebuah pesan sederhana untuk Abang & Neng Pencuri yang budiman.

Abang/Neng, kenapa sih mencuri di sini? Gak kasihan ya sama karyawan di sini yang harus mengganti barang yang dicuri? Abang/Neng pernah mikir gak kalau karyawan di sini itu menjadi tulang punggung keluarga. Siapa tahu ada yang berjuang untuk orang tuanya yang sakit, biaya pendidikan adiknya yang masih sekolah atau sedang berjuang untuk mengumpulkan modal nikah. Bagaimana nasib mereka jika barang dagangannya dicuri (sehingga harus mengganti senilai barang yang hilang tersebut)? Kasihan kan.

Abang/Neng, kenapa sih mencuri di sini? Gak takut dosa? Inget loh, Allah Maha Melihat, malaikat juga mencatat. Mati juga gak pasti datangnya. Abang/Neng gak takut apa abis nyuri tiba-tiba mati kecelakaan atau serangan jantung? Gak mau kan mati dalam keadaan mencuri? Gak mau kan?

Abang/Neng, sebagai sesama manusia sudah menjadi kewajiban untuk saling mengingatkan. Karena kami sayang Abang/Neng. Jadi tolong jangan mencuri lagi. Jangan kotori tangan Abang/Neng dengan perbuatan dosa.

Semoga Abang/Neng segera bertobat.

Seberapa efektifkah himbauan kepada pencuri yang budiman tersebut mengurangi tingkat pencurian? Sayangnya, saya tidak sempat bertemu dan menanyakan ke seseorang di sentra batik tersebut yang bisa memberikan penjelasan mengapa himbauan itu dibuat dan bagaimana efek dari himbauan itu sejak dibuat. Berkurangkah? Efektifkah?

Jika memang efektif, sepertinya KPK atau pemerintah bisa mengalokasikan untuk memasang iklan senada tetapi mengganti ‘pencuri yang budiman’ dengan ‘koruptor yang budiman’. Misalnya begini:

Sebuah pesan sederhana untuk Bapak/Ibu Koruptor yang budiman.

Bapak/Ibu, kenapa sih korupsi di negeri kita? Gak kasihan ya sama rakyat di sini yang harus menanggung rugi? Bapak/Ibu pernah mikir gak kalau rakyat itu harus menjadi tulang punggung keluarga. Siapa tahu ada yang berjuang untuk orang tuanya yang sakit yang melebihi anggaran BPJS, biaya pendidikan adiknya yang masih sekolah dan tak bisa ditanggung negara. Bagaimana nasib rakyat jika dana korupsi tadi mestinya bisa dialokasikan ke dana kesehatan, pendidikan dan subsidi harga kebutuhan dasar? Kasihan kan. 

Bapak/Ibu koruptor yang budiman, kenapa sih terus korupsi? Gak takut dosa? Inget loh, Allah Maha Melihat, malaikat juga mencatat. Mati juga gak pasti datangnya. Abang/Neng gak takut apa abis korupsi tiba-tiba mati kecelakaan atau serangan jantung? Gak mau kan mati dalam keadaan mencuri? Gak mau kan?

Bapak/Ibu koruptor yang budiman, sebagai sesama manusia sudah menjadi kewajiban untuk saling mengingatkan. Karena kami sayang Bapak/Ibu dan negeri ini. Jadi tolong jangan korupsi lagi. Jangan kotori tangan Bapak/Ibu dengan perbuatan dosa.

Semoga Bapak/Ibu segera bertobat.

 

Ditambah dengan foto terpidana korupsi yang sudah berkekuatan hukum tetap rasanya iklan tersebut bakal menarik perhatian. Beranikah?

[kkpp, 19.04.2018]

About the author tattock

menyukai kata dan perjalanan memperluas cakrawala. lalu sejenak menepi. membingkai hidup yang hanya sementara.

All posts by tattock →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: