Twitter pun Berubah

Melalui blog resminya (bisa baca di sini), minggu pertama November ini, Twitter mengumumkan penambahan karakter di postingannya yang semula hanya 140 karakter menjadi dua kali lipatnya. 280 karakter. Semula, perubahan ini telah diujicobakan Twitter sejak beberapa bulan yang lalu. Saya termasuk yang beruntung menikmati perubahan itu di awal masa coba.

Apa yang berubah? Mungkin lebih enak sih, ketika nge-tweet ternyata melebihi 140 karakter, tidak perlu mikir lagi mengedit pilihan kata atau bagaimana menyingkat kata-kata agar bisa muat dalam sekali postingan. Pun, jika harus mention sana sini. Tetapi saya termasuk yang suka dengan versi lama karena dengan keterbatasan 140 karakter itulah mengapa kemudian saya lebih banyak aktif ngoceh di twitter daripada di facebook. Saya pernah menuliskan tentang kelebihan twitter ini hampir tujuh tahun yang lalu (bisa baca di sini). Sebuah kelebihan karena keterbatasan. Baca selengkapnya

Ukur(an) dan Ukur(lah)

If you can’t measure it, you can’t manage it ~ Peter Drucker

Jika Anda biasa mengemudi, pernahkah Anda menengok speedometer di depan Anda? Bayangkan, bagaimana jika Anda kemudian mengemudi sebuah kendaraan tanpa speedometer? Apakah ada yang berbeda antara mengemudi dengan speedometer dengan mengemudi tanpa speedometer?

Bagaimana dengan odometer yang juga merupakan kelengkapan standar dari kendaraan selain speedometer? Pernahkah Anda menengoknya barang sesaat? Baca selengkapnya

Edisi Berkala

Surabaya yang mulai teduh karena matahari mulai tergelincir, ternyata tak membuat kantor saya waktu itu terasa sejuk. Bagaimana tidak, seorang kawan kerja sepantaran diomeli habis-habisan oleh Wapimred kami. Saya lupa bagaimana tepatnya omelan itu. Omelan yang tak sekedar panjang kali lebar.

Yang saya ingat adalah penutupnya, “Bayangkan kalau semua orang (reporter) seperti kamu, pulang tidak bawa berita, mau terbit dengan apa kita besok?” Baca selengkapnya

Blog dan Pensieve

Dumbledore: “I use the Pensieve. One simply siphons the excess thoughts from one’s mind, pours them into the basin, and examines them at one’s leisure. It becomes easier to spot patterns and links, you understand, when they are in this form.”

Harry: “You mean… that stuff’s your thoughts?”

Dumbledore: “Certainly.”

Petikan percakapan di atas tentunya diakrabi oleh para pembaca serial tujuh novel karya JK Rowling. Ya, kisah Harry Potter. Kisah yang menyihir para pembacanya untuk menamatkan seluruh kisah penuh penantian selama 10 tahun sejak serial yang pertama kali diterbitkan pertengahan tahun 1997. Hingga tahun lalu, kisah ini telah diterbitkan dalam 67 bahasa dan edisi film-nya pun juga (telah) ditunggu oleh para penggemarnya.

Baca selengkapnya

Bukan Sekedar Resolusi

Ada tiga hal yang biasanya melekat pada kata ‘resolusi’: yang pertama adalah PBB (organisasi perserikatan bangsa-bangsa), yang kedua adalah tekait dengan gambar sekian piksel, serta yang ketiga adalah berkenaan dengan perayaan tahun baru.

Mari kita tengok sejenak arti ‘resolusi’ dalam bahasa aslinya:

Resolution: [1]  a formal statement of an opinion agreed on by a committee or a council especially by means of a vote [2] the act of solving or settling a problem, disagreement, etc. SYN: SETTLEMENT [3] the quality of being resolute or determined. SYN: RESOLVE [4] a firm decision to do or not to do something [5] the power of  a computer screen, printer, etc. to give a clear image depending on the sizeof the dots that make up the image ~ Oxford Advanced Learner’s Dictionary Seventh Edition

Nah, karena hari ini adalah hari pertama kembali ke kantor (bagi yang mereka terbiasa dengan kantor resmi) di tahun 2012 alias hari ketiga di tahun ini, maka biar sedikit basi, resolusi yang ingin saya bahas pada postingan kali ini adalah resolusi tahun baru. Sudahkah Anda membuatnya? Atau malah merasa tak ada guna be-resolusi-an-ria?

Untuk yang terbiasa membuat resolusi tahun baru, mungkin diwakili oleh kompasioner Robertus Benny Murdhani (baca di sini), sementara yang tidak terbiasa mungkin diwakili oleh kompasioner (juga) lainnya: mbak Edi Kusumawati (baca di sini). Keduanya menggambarkan bagaimana  kita dan resolusi tahun baru yang (telah) kita buat dari dua sisi yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan keduanya. Karena apapun, keduanya kemudian berujung sama, bahwa aksi atas resolusi itulah yang menjadi faktor yang jauh lebih penting.

***

Sebelum saya menanyakan kepada Anda, saya jawab saja bahwa saya bukanlah pengikut tradisi resolusi tahun baru. Bahkan, bagi saya tak ada bedanya malam tahun baru dengan malam yang lain. Tak ada terompet, tak ada begadang. Malam tahun baru kemarin malah saya habiskan dengan tidur sore di rumah saja saat Sidoarjo sedemikian deras berteman dengan hujan sejak pagi terakhir di tahun 2011 itu.

Kembali ke resolusi tahun baru, saya tak ingat apa resolusi saya pada tahun baru 2011 yang lalu. Resolusi bagi saya tak identik dengan tahun baru. Bisa datang kapan saja, saat ulang tahun, saat baca koran di serambi rumah, atau malah pas menghabiskan email yang berjejal di inbox manakala di toilet. Yang sering jadi masalah bagi saya, memang bagaimana mewujudkan resolusi itu di tataran aksi. Kadang ada resolusi yang malah harus diulang dari waktu ke waktu, karena aksi selalu ada saja halangannya.

Tetapi ada yang berbeda pada tahun ini. Sebuah email dari pengelola wordpress di penghujung tahun 2011 membuat saya merasa gimana gitu. Berikut adalah screen shoot-nya:

 

 

Sebuah laman yang khusus dibuat bagi pengguna wordpress, tentang segala aktivitas selama tahun 2011 kemarin. Laman yang sependek ingatan saya, baru pada tahun ini saya terima. Dari sana saya kemudian tahu bahwa pada tahun 2011 kemarin saya menulis 48 posting, sepertiga dari total posting yang pernah saya buat selama ini. Tetapi, dari sepertiga itu (berarti rata-rata hampir tiap minggu ada satu postingan, terlewatkan 4 minggu tanpa postingan) telah meningkatkan jumlah pengunjung hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah pengunjung sebelumnya.

Pada titik ini kemudian saya merasa  -resolusi saya bahwa saya ingin merawat kembali blog yang pernah saya punya sejak beberapa tahun yang lalu, menjadi lebih terawat- seolah bagai anak sekolah menerima rapor berwarna biru. Tidak ekselen memang, tetapi setidaknya kali ini tak lagi ada warna merah.

Pembaca, apapun resolusi kalian di tahun 2012, semoga senantiasa komit, senantiasa istiqomah hingga di akhir waktu. Resolusi tak bakal berarti jika tanpa aksi. Sementara di lubuk hati kita, diam-diam merindukan kembali masa menerima rapor.

Selamat tahun baru 2012!!

[kkpp, 03.01.2012]

 

Menunggu di Soekarno Hatta

Menjelang tengah malam menunggu di Bandara Soekarno Hatta bukanlah pengalaman kali pertama. Banyak hal yang bisa dikerjakan. Seperti kata seorang kawan (baca di sini), mengamati sesama penunggu terkadang juga mengasyikkan.

Ratusan wajah-wajah lelah tetapi penuh kepastian atas sesuatu yang ditunggu adalah bahan tersendiri untuk asupan otak yang masih terjaga. Begitu juga halnya dengan gaya mereka berpakaian, apa yang dikerjakan saat menunggu, serta obrolan-obrolan yang secara tak sengaja mampir di telinga.

Bandara Soekarno Hatta, Terminal C3 yang mulai lengang

Baru sadar, ternyata mengamati segala detil adalah kebiasaan yang tak bisa dihilangkan begitu saja. Kebiasaan yang diajarkan mentor-mentor saya dulu, -mbak Nani Wijaya dan mbak Rindang- bahwa dari pengamatan itu kemudian melahirkan banyak ide yang kemudian mengalir sebagai bahan penulisan. Jika tidak malam ini terealisasikan, setidaknya ada tabungan kata-kata yang entah kapan terbelanjakan sebagai sebuah karya utuh.

***

Malam ini, tepat dua minggu sebelum sewindu usia perkawinan saya. Bagi saya, menunggu di Bandara Soekarno Hatta tak bisa begitu saja terlupakan.

Bagaimana tidak, beberapa bulan sebelum titik bersejarah delapan tahun lalu itu, di bandara ini, saya pernah dengan kegelisahan penuh menunggu. Bukan saja menunggu jadwal keberangkatan pesawat, tetapi juga menunggu sebuah jawaban iya atau tidak dari seseorang. Pada saat itu, keberangkatan pesawat juga menjadi ‘deadline‘ atas jawaban yang bakal mengubah perjalanan hidup saya. Bahkan, baru pada waktu itu, saya berharap agar pesawat di-delayed selama-lamanya hingga dapat jawaban yang saya nantikan.

Kok ya, layaknya kisah-kisah romatis nan dramatis, tepat saat memasuki pesawat yang hendak mengantarkan saya kembali ke Surabaya, telepon selular saya berdering darinya. Singkat saja pembicaraan itu, karena segera saya akhiri karena diingatkan pramugari. Segera saya akhiri karena saya tahu, saya harus segera sampai untuk melanjutkan pembicaraan tentang masa depan ‘kami’, dan bukan lagi semata tentang ‘saya’.

Kesediaannya malam itu, kehadirannya selama satu windu ini, serta kehadiran sepasang buah hati kami, adalah keindahan yang tak tergantikan dengan kata-kata yang  melintas malam ini, malam menunggu di Bandara Soekarno Hatta.

Tepat pukul 23.30 panggilan datang, dari yang seharusnya 20.25 terjadwalkan, panggilan bahwa akhirnya pesawat sudah siap.

Bersiap masuk pesawat, saatnya untuk pulang.  Pulang untuk tiga senyuman yang taktergantikan.

[kkpp, 23.11.11]

Di-retweet Itu Bonus

Saat kerja di media dulu, Mas Luthfi, pimred saya waktu itu, pernah menantang saya untuk bikin artikel tentang sesuatu yang terkait dengan perkuliahan saya di Fakultas Teknologi Kelautan. “Kerjakan sesempatnya saja,” kata Mas Luthfi waktu itu. Maklum, tantangan tersebut adalah di luar tugas pokok saya di desk politik/pemerintahan kota Surabaya.

Saya iyakan saja tantangan itu tapi karena ada embel-embel ‘sesempatnya’ makanya tidak segera terealisasikan. Rupanya Mas Luthfi cukup serius. Beberapa kali beliau menanyakan tulisan saya tersebut. Gerah, akhirnya jadi juga artikel yang dimaksud. Sehingga saat beliau menanyakan di lain waktu, saya bisa menjawab dengan cergas, “sudah selesai, Mas,” sambil menyebutkan nama folder dimana saya menyimpan draft artikel tersebut. “Oke. Nanti aku periksa kalau longgar,” jawab Mas Luthfi.

Beberapa hari kemudian, Mas Luthfi memanggil saya pas kondisi kantor di Graha Pena masih lengang. “Aku sudah cek artikelmu. Apik!” Segera aku teringat Pak Tino Sidin, host acara melukis buat anak-anak di TVRI jaman masih kanak-kanak dulu.

“Tapi gaya penulisanmu mestinya cocok untuk dimuat di Kompas, bukan di sini.” Saat itu saya bingung, apakah itu sebuah pujian atau memang benar-benar style Pak Tino Sidin yang memuji semua lukisan yang masuk ke mejanya tanpa peduli kualitasnya memang bagus atau tidak, semata memberikan motivasi untuk anak-anak. “Layak muat. Sayang aku gak punya halaman kosong untuk artikel itu,” Mas Luthfi menutup pembicaraan.

Saat harapan melihat tulisan itu punah, beberapa hari kemudian, semua artikel-artikel itu malah dimuat satu halaman penuh.

***

Beberapa waktu lalu, beberapa kawan di dunia twitter yang keranjingan me-mention @fiksimini dan @sajak_kata mendiskusikan bagaimana mendapatkan sebuah retweet (RT).

Dalam diskusi itu, sempat terlontar tentang bagaimana para moderator atau admin-nya (yang berkuasa me-RT) bersikap tebang pilih. Sementara dari timeline moderator dan admin juga sempat mengeluhkan ketidakkreatifan para follower yang berlomba-lomba mengekor tweet yang telah di-RT.

Mendapat RT, layaknya sebuah tulisan dimuat. Juga setara dengan lagu atau album yang mendapat payung dari major label. Karenanya, bagi sebagian orang ada sebuah kepuasan tersendiri ketika mendapat RT.

Masalahnya adalah ada penilaian bahwa RT kok begitu-begitu aja. Mengapa hanya berlaku pada orang-orang tertentu saja.

Bagi saya sih sederhana. Selera tidak bisa dipaksakan. Jika Anda sekarang bosan dengan lagu kemelayu-melayuan yang tengah booming di dunia musik anak negeri saat ini, apakah kemudian Anda menyalahkan para music director dari industri musik saat ini? Atau apakah Anda kemudian malah membikin sendiri indie label?

Demikian halnya di industri media cetak. Kewenangan artikel atau berita apa yang dimuat terletak di tangan dewan redaksi.

Pada bagian awal tulisan ini misalnya, Mas Luthfi yang bertindak sebagai pribadi tidak bisa seenaknya memuat hal dengan kacamata pribadi. Ada ketentuan-ketentuan tak tertulis yang menyebabkan suatu artikel bisa dimuat di media tertentu tetapi tidak bisa dimuat di media tertentu lainnya. Gaya bahasa, target pasar yang dibidik, kecenderungan kebijakan dewan redaksi, dll, dll, adalah pakem yang harus diikuti oleh wartawan ataupun penulis lepas.

Begitu halnya dengan penulis buku yang harus bernegosiasi dengan pihak penerbit. Kalau tak menemukan penerbit tetapi tetap pengin melihat bukunya terbit, mau tidak mau ya harus menerbitkan bukunya sendiri.

Saran saya, kalau pengin selalu mendapat RT ya ikuti kemauan yang punya kuasa me-RT. Atau, jadilah orang beken dengan sekian ribu follower, pasti pihak yang punya kuasa me-RT tak bisa mengelak dari efek halo. Dengan hanya 140 karakter, bisa jadi banyak pengulangan. Bila mirip-mirip, orang pasti me-RT dari akun orang beken dibandingkan orang yang kurang beken.

Bila tidak mau mengikuti dua opsi di atas, saran saya terakhir adalah tetaplah menulis apapun yang ingin dituliskan. Masalah di-RT itu adalah bonus.

[kkpp.19.05.11]